Long Trip Hero


IMG_20160211_122956

Terusik akan tulisan majalah Jip edisi 8 Juni 2012, mengenai partner perjalanan jauh “Long Trip Hero” akhirnya menginspirasi saya menulis kisah perjalanan keliling Jawa dengan kuda tunggangan saya Ford Everest Hitam TDCi tahun 2011.

Sajian garangan asem yang pedas segar serta udara Simpang Lima Semarang seolah menandai berakhirnya perjalanan 17 hari berkendara dengan Ford Everest. Lamunan akan perjalanan yang kami tempuh membuat sayang untuk tidak dituliskan sebagai kenangan. Seperti halnya saya menuliskan kenangan saya bersama si Oddy. Odyssey tua yang juga mewarnai kisah perjalanan keluarga.

Kilas balik 17 hari sebelumnya………. Kali ini penumpang segala umur menjadi tester sejauh apakah SUV yang konon hanya dipakai oleh lelaki berprofesi sebagai engineer atau teknisi di pabrik dan dipakai pekerja kasar di tempat “berdebu” dan hanya dipakai oleh orang bercoverall diuji kemampuannya dengan membawa keluarga kecil di jalan beraspal dan menghadapi segala macam cuaca.

Sekelumit persiapan perjalanan dan etape

Ford Everest TDCi

Kondisi bagasi.jpg

Kilas balik 17 hari sebelumnya, dimana semua orang terlelap dalam gelapnya Depok, kami sibuk berbenah. Ketika koper-koper berat terangkat ke atas roofbox menandai petualangan keluarga menyusuri pantura dan kota-kota di pulau Jawa. Perjalanan ini adalah perjalanan terjauh kami sekeluarga, sekaligus uji coba berkendara bersama Ford Everest yang sudah lama kami impikan.

Perjalanan kami bagi menjadi 4 etape.

Etape Pertama : Depok – Solo Tawangmangu

Etape Kedua : Tawangmangu – Maospati – Batu Malang – Situbondo

Etape Ketiga : Situbondo – Batu Malang – Surabaya

Etape Keempat : Surabaya – Semarang – Depok

Penumpang & Drive Mode

Komposisi penumpang adalah 2 Balita (Raihanah 2 tahun dan Umayr 8 bulan), satu anak kecil Albanie 6 tahun dan Istri tercinta.

Dalam perjalanan pulang nenek kami juga ikut serta, sehingga lengkap sudah range usia yang menguji “kesaktian” ford Everest TDCi  untuk membuktikan bahwa ia layak mendapatkan gelar “LONG TRIP HERO”. Tipe perjalanan dan rute yang ditempuh dipilih bervariasi, dari jalan menyusuri pantai utara, hinggi naik turun bukit menyusuri lereng gunung lawu serta menghadapi jalan berkelok di tengah hujan lebat dan minim penerangan sepanjang jalur Pujon menuju Batu – Malang.

Ban Michelin Cross Terrain 245/70 yang sudah berusia 5 tahun tetap dipertahankan. Dengan shock breaker Bilstein yang menjadi andalan peredam kejut si Evie hitam. Oli mesin Connoco Guardol ECT menjadi bumbu manis menemani kinerja mesin Duratorq.

Tak lupa beban berat 50 kg dipanggul oleh ford everest dengan roofbox whale carrier yang berisi 2 tas koper dan 1 tas jinjing. Untuk menguji semburan tenaga si “LONG TRIP HERO” saya sengaja tidak pernah merubah panel shift dari posisi “D” atau Drive untuk segala jenis medan yang dilalui … hal ini untuk mengekploitasi torsi dan kekuatan dan kenyamanan transmisi matic si Evie. 

Pengemudi

Kali ini saya memutuskan untuk mengendarai sendiri si kuda hitam. Satu hal yang luar biasa dari SUV ini adalah posisi mengemudi yang nyaman, seolah badan kita menyatu dengan kursi membuat badan tidak mudah lelah. Posisi menyetir yang ergonomis serta panel yang sederhana dan tidak banyak tombol membuat kesan mobil ini   “simple but exceed expectation”. Jika diibaratkan lelaki, mobil ini adalah pria tangguh dan apa adanya namun dapat diandalkan dalam kesederhanaannya. Pepatah bilang “Less is More”

Kesan Perjalanan

Banyak yang mengatakan sebelumnya bahwa perjalanan kami akan menjadi pengalaman mereppotkan dengan komposisi penumpangnya…. Well … tapi tak akan pernah tau kalau belumlah dicoba. Akhirnya dengan tekad yang sudah bulat, dengan uang saku seadanya serta kondisi fisik yang terlah jauh hari dipersiapkan, keputusan telah dibuat untuk berangkat.

Satu kotak berisi obat-obatan  untuk perjalanan jauh pun tak ketinggalan. Bahkan jauh-jauh hari kami selalu menghitung mundur “kapan yaaaa bias berangkat…” perasaan cemas dan penasaran bercampur jadi satu.  Untuk perjalanan jauh keluarga, untuk memastikan para penumpang balita nyaman maka kehadiran roof box untuk menyimpan koper sangat membantu, sehinggga kabin mobil masih lega untuk menyimpan camilan serta memastikan ruang gerak si kecil cukup tersedia yang kadang mondar-mandir ke depan dan ke belakang. 

Seperti biasa baris ke tiga disulap menjadi tempat tidur darurat yang empuk dan nyaman serta hangat dengan tumpukan bantal dan selimut. Walau pada akhirnya menjadi teman tidur pribadi si Sulung…..hehehheeh.

Untuk mempermudah pergerakan liburan kali ini sengaja dilewatkan tanpa kamera DSLR, cukup bermodalkan HP ASUS Zenfone 2 Laser dengan kamera yang seadanya.

Okeh…itu tahap persiapan………walah baru tahap pesiapan tulisannya udah cukup panjang…hehehehehe.

Dengan roofbox di atap yang berisi 2 koper dan tas jinjing, perjalanan sengaja saya batasi pada range kecepatan 80-100 km/jam. Hal ini untuk menghindari body roll over yang berlebihan ketika mobil bergerak menikung pada kecepatan tinggi.

Perjalanan keluar tol cipali sukses di tengah bertebarannya cerita horor akan bahaya tol Cipali malam hari. Konsumsi solar terhitung cukup irit dengan perbandingan 1:12. Jalanan rusak ketika melewati kilometer terakhir menuju exit tol Pejagan tak sedikitpun mempengaruhi kenyamanan berkendara dengan Ford Everest. Dengan ground clearance 255 mm mampu melibas semua lubang maupun mengatasi perbedaan ketinggian antara bahu jalan dan badan jalan ketika kondisi darurat. Ground clearance yang cukup tinggi ini sangat membantu terutama sepanjang lintas pantura, yang mana bahu jalan umumnya lebih rendah ketimbang badan jalan utama. Sehingga jikalau harus “nyemplung ke bahu jalan” … tidak harus mengorbankan bumper terantuk jalan.

Ujian melewati tol Semarang-Solo pun dilalui dengan mulus dan melahap hampir semua tanjakan tanpa menurunkan gigi dari posisi “D” ke 3,2 bahkan 1.

Sampai di Solo malam hari….dengan jalanan yang basah dan udara yang bersahabat, 2 mangkuk wedang ronde dan asle sedikit menghangatkan suasana dan obat kantuk untuk memompa stamina ke posisi semula karena hal ini merupakan akan perjalanan jauh pertama dengan menggunakan mobil. Hampir seluruh penumpang tertidur pulas dalam mimpi indahnya sementara Ford Everest dengan gagahnya mendaki jalan menuju Tawangmangu.

Dalam pendakian ke arah Tawangmangu si Hitam Ford Everest tak kehilangan tenaganya sedikitpun tanpa mengorbankan kenyamanannya melewati jalan menikung dan bergelombang dengan dibuktikan si kecil yang tidak gampang terbangun dan tetap tidur pulas. Juga dibuktikan akan stamina si kecil yang tetap segar ketika sampai di penginapan di malam yang cukup larut.

… Hal ini membuktikan bahwa suspensi Everest cukup nyaman. Cukup keras sehingga stabil pada kecepatan tinggi dan tidak terlampau keras sehingga masih nyaman di kecepatan rendah. Akhirnya malam pun berlalu… berharap si Evie pun bisa beristirahat untuk perjalanan panjang selanjutnya.

Keesokan harinya kami dibangunkan kokok ayam pertanda petualangan akan dimulai kembali.

Gunung Lawu di pagi hari.jpg

AbualbanieWordpress_2

Tempat melepas penat – Jawa Dwipa Tawangmangu

Ujian selanjutnya adalah jalan mendaki di kebun teh kemuning…jalan yang sempit dan sedikit berliku, serta kondisi jalan yang berkerikil tak membuat nyali pengemudi drop, bahkan sesekali fantasi liar untuk terus menanjak akhirnya harus diurungkan mengingat kondisi perut yang lapar keroncongan.

AbualbanieWordpress_3

Kebun Teh – Kemuning

Ford Everest TDCi kebun teh kemuning

Kebun Teh Kemuning – Karanganyar

Ujian berikutnya adalah menyusuri lereng gunung lawu dari cemoro sewu hingga Maospati. Lagi-lagi saya tidak merubah drive mode, awalnya saya pikir Everest akan keteteran…namun kenyataan di lapangan berbeda, perjalanan menanjak hinggga turunan hanya over drive mode saja yang saya nyalakan.

Tenaga yang melimpah serta handling yang cukup mumpuni dengan dibantu penggerak roda belakang, jalan berkelok menanjak dapat diatasi.

Menghadapi medan berbukit dan menanjak serta berkelok di balik kemudi Ford Everst dengan semburan tenaga mesin Duratorq 2500 cc dengan tenaga 143 ps dengan torsi sekitar 340-an Nm, Ford everest seolah ingin berkeata kepada pengemudi “I’ll never let you down”. 

Cemoro Sewu

Bersama si Evie dan si Kecil Raihanah

Dengan suspensi format independent double wishbone di depan menyumbangkan kenyamanan dan kepresisian kemudi. Sedangkan leaf spring dengan stabilizer bar di belakang, pas untuk membawa beban lebih. Toh, Everest adalah 7 seater, dengan kapasitas angkut yang cukup besar dan bisa diajak untuk bersusah payah. Sesekali pedal gas diinjak dalam-dalam untuk mengeksploitasi tenaga terpendam Everest si “LONG TRIP HERO” 

Hari berlalu…hujan pun turun dengan lebatnya .. Setelah turun dari lereng gunung lawu kami bergerak menuju timur ke arah Batu Malang menikmati ganasnya jalanan Pujon-Malang di malam hari. Kali ini Bapak dan Ibu turut serta, membuat Ford Everest berada pada full capacity dengan 7 penumpang dengan 4 orang dewasa dan 3 orang anak ditambah beban roofbox 50 kg, seolah mengatakan bahwa perjalanan kali ini bukan perjalanan remeh-temeh.

Ford Everest - jalur gunung lawu

Di lereng gunung lawu

Kabut menyergap.jpg

Ford Everest TDCi lereng.jpg

Melewati Pujon, tidak hanya tanpa lampu, hujan deras pun seolah memberi bumbu tersendiri untuk membuat perjalanan kali ini sangat mengesankan. Jalanan berkelok tiada henti dengan rambu penanda akan bahaya longsor sesekali disapu dengan lampu jauh …. Jarak pandang yang cukup terbatas karena hujan serta jalan yang licin membuat kami deg-degan sepanjang perjalanan. Jalanan berliku, tikungan curam serta kanan dan kiri ngarai kiri yang cukup dalam…apalagi yang diharapkan selain mobil tangguh segala medan dan pengemudi yang handal tentunya…ehem..ehem…. :D 

Singkat cerita, satu persatu kota tujuan kami capai, dengan segala medan dan rintangannya masing-masing.

Ternyata berkendara dengan Ford Everest sangat menyenangkan. Kesan aman selama berkendara membuat rasa percaya diri ketika harus bertempur dengan mobil lain di medan yang berat dan belantara jalan raya dengan sopir AKAP dan truk yang cukup ganas….tidak termasuk ibu-ibu yang baru belajar naik motor matic tentunya … heheheh

Tak akan pernah cukup rasanya bercerita akan perjalanan keluarga kami melintasi pulau jawa selama 3 minggu lebih sejauh 2000 kilometer. Bertarung dengan truk besar, take over dengan kecepatan tinggi, menundukkan jalan berliku dan bersua dengan aspal mulus di tengah terik matahari dan hujan lebat… Ford everest dengan mantab menemani perjalanan keluarga tanpa halangan berarti.

IMG_20151223_070408.jpg

Menikmati indahnya kampung halaman

Ford Everest TDCi-Pasir Putih 3

Di Pasir Putih Situbondo

Menikati deburan ombak di Pantai Pasir Putih.jpg

Pasir Putih.jpg

Malang.jpg

Jembatan Suramadu

Evie melintasi jembatan Suramadu

Sekedar berbagi tips berkendara jarak jauh dengan membawa keluarga besar

  1. Pastikan kondisi pengemudi dalam kondisi fit. Periksa kesehatan jika perlu
  2. Pastikan kondisi kendaraan dalam kondisi prima, cek kondisi drive belt dan timing belt, kondisi roda dan tekanan ban serta kaki-kaki kendaraan cukup krusial, terutama jika medan yang akan dilewati cukup berat.
  3. Cek kondisi AC kendaraan, hal ini krusial mengingat suhu udara siang hari di Indonesia cukup panas. Terlebih membawa bayi yang rentan terhadap cuaca panas dan menjamin kenyamanan suasana dalam kabin.
  4. Jangan lupa surat-surat kendaraan ikut dibawa.
  5. Membawa bekal yang cukup serta jika perlu gunakan GPS atau peta untuk memantau kondisi perjalanan.
  6. Roofbox dan Baby car seat sangat membantu untuk kenyamanan dan keselamatan si kecil di dalam kabin.
  7. Bawalah obat-obatan yang krusial, misal obat sakit kepala dan masuk angin, hehehhe, jangan lupa lipitor bagi yang ingin wisata kuliner kelas berat.
  8. Ketahui keterbatasan diri, penumpang dan kendaraan. Jika lelah maka janganlah dipaksa. Jika kendaraan dianggap tidak mampu melewati jalur tertentu atau medan tertentu, pilih jalur yang mudah dan aman. Jangan berkendara sendirian di malam hari di jalan yang sepi kecuali telah pengalaman melewati jalur tersebut.
  9. Drive safely, biasakan berkendara dengan mode defensive driving.
  10. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat safar serta tetap mengawasi waktu sholat agar tidak terlewat dan memahami adab-adab safar.

Dan pada akhirnya …. Satu yang pasti…kami telah mengendarai “LONG TRIP HERO” 

Long Trip Hero.jpg

Ford Everest - Malang.jpg

Hendra Taruna – Fevci 046

Untuk mu dan Untuk ku


Lonely

Kita tidak bisa mengubah yang telah terjadi

Juga tidak bisa menggariskan kepastian masa depan

Lalu……

Mengapa membunuh diri kita dengan penyesalan…..

…….atas apa yang sudah tidak bisa kita ubah

Hidup itu singkat, sementara target nya banyak

Maka tataplah awan dan jangan lihat ke tanah

Kalau merasa jalan sudah makin sempit,,,,

kembalilah kepada RabbmuAllah yang Maha Mengetahui hal yang ghaib

Dan ucapkanlah Alhamdulillah atas apa saja

Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang….

Kapal nabi Nuh alaihissalam dibuat hanya oleh satu orang

tetapi……………………..

Titanic tenggelam, sedangkan bahtera Nuh menyelamatkan ummat manusia

Taufik hanya dari Allah ta’ala

Kita bukanlah penduduk asli bumi,,

asal kita adalah Surga ….

Tempat dimana orang tua kita,, Adam alaihissalam,, tinggal pertama kali 

Kita tinggal di sinihanya untuk “Sementara”.

Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali

maka…………..

Berusahalah semampumu, untuk mengejar kafilah orang-orang yang shalih

yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas,,

di Akhirat sana…….

Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yang jauh…

atau karena ditinggal orang tercinta……

Bahkan…..kematian pun bukanlah perpisahan…

sebab kita akan bertemu kembali di akhirat…

Perpisahan adalah……..

ketika satu diantara kita masuk surga…..

sedang yang lainnya terjerembab di Neraka

Semoga Allah ta’ala menjadikan aku dan kita semua menjadi penghuni surga-Nya

********

by : Anonim

********

5102015

Palindrome night

20:28 WIB

Petualangan Keluarga Ke Ujung Selatan Jawa (1)


Bismillahirrahmanirrahim

Suatu pagi di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, pagi cerah nan yang tenang, warna matahari pun kekuningan, sejuk nian pagi itu….Pagi itu kami berbenah, si evie pun tak luput dari tangan-tangan “nganggur” untuk bersih2. Si hitam duduk tenang dan gagah, mengingatkan pendahulunya si Oddy. Setelah kinclong si Evie di “krukupin” (di selimutin – red) biar jadi “tape”…hehehe

Ford Everest

Hari yang dinanti pun tiba, perasaan gelisah gundah gulana akhirnya terjawab di suatu malam tanggal 4 syawal atau 20 Juli 2015. Setelah berjuang melawan sindrom flu dengan mie selera pedas dan tidur menggunakan jaket, akhirnya jam dinding menunjukkan jam 3 dini hari, dan kami pun berhamburan menuju kamar mandi. Hari yng ditunggu pun tiba, yaitu berkelana dan menguji ketangguhan si hitam evie…mendaki gunung lewati lembah…sungai mengalir Indah ke samudra….bersama keluarga berpetualang #bukan ninja Hattori.

Berhubung perjalanan ini adalah perjalanan dini hari, maka kami mempersiapkan kabin khusus untuk tidur anggota anak-anak.

IMG_20150720_071929

Disulaplah bagian belakang kabin Ford Everest menjadi ruang tidur mungil….senang rasanya melihat 2 jagoan kecil akur….dan tidur pulas

Sekedar berbagi tips mengenai susunan penumpang, karena ini perjalanan “multi-usia” … untuk penumpang lansia, grand-yut kami tempatkan di sebelah pengemudi…loh kenapa? karena baris kedua otomatis dihuni oleh car-seat untuk bayi yang sedang masa menyusui. Jadi sang ibu harus diletakkan bersama dengan sang bayi. Sementara untuk bepergian dengan balita, disarankan menggunakan car-seat, selain untuk kemanan dan kenyamanan, dengan adanya car-seat akan membuat sang Ibu tidak cepat lelah memangku bayi, terutama ketika bayi sedang tidur pulas, maka car seat sangat membantu. bahkan sangat membantu ketika sang Ibu ingin tidur, karena dengan bayi di car-seat akan menghindari terjadinya “bayi lepas”  dari pangkuan ibu.

Tapi apa daya jika car seat diserobot sang kakak

IMG-20150724-WA0022

Ketangguhan si Evie kali ini diuji dengan mengkombinasikan penumpang, dari usia 78 tahun dan bayi usia 5 Bulan. Tak pelak, pengembaraan kali ini memang ajang factor kenyamanan evie melewati jalur yang “sedikit menantang”. Kami memilih “Sawarna” dan “Ujung Genteng” sebagai tujuan akhir dari perjalanan kami. Dari hasil bocoran intelijen, akan ada kombinasi jalan rusak, semi offroad dan tanjakan yang cukup untuk mengobati rasa penasaran akan maksimum torsi evie di 330/1800 Nm/rpm dengan penggerak roda belakang. Paling tidak alasan touring kali ini adalah ajang pembenaran kami memilih Ford Everest sebagai kuda tunggangan keluarga yang bisa segala medan..hehehehehe.

Perjalanan dimulai dengan mudik ke keluarga istri di Purwadadi, sembari melewati lembang kami menuju Bandung keesokan hari nya. Bermalam di Bandung sang evie sudah nampak berdebu setelah berkelana ke Purwadadi. Demi mendapatkan kembali tenaga yang terkuras habis bermacet ria di Lembang, kesehatan pengemudi dan penumpang perlu mendapat perhatian. Dan malam itu adalah malam yang relative singkat untuk melepas penat, tapi kami semua memiliki kualitas tidur yang baik……tidur pulas….!!

Petualangan pun dimulai, setelah berkumpul dengan anggota touring yang sama ketika kami touring ke Garut. Kami berangkat dari Bandung ke Sawarna Via Sukabumi. Perjalanan ke Sawarna “sesuatu banget”….selepas Sukabumi sebelum bersua dengan pelabuhan ratu, kami disuguhkan jalan yang luar biasa jeleknya. Dengan posisi no.3 dari iring-iringan, rasa kantuk yang luar biasa, serta jarak aman “pengereman” si Evie yang cukup lebar, membuat urutan no.3 selalu diperebutkan dengan mobil lain, walhasil si evie selalu keteteran mengejar dua grand livina di depannya. Dengan body bongsor, saya aga kesulitan untuk bermanuver atau take-over di jalan sempit.

Namun, rasa pegal dan jenuh diobati pemandangan yang luar biasa dari atas ketinggian.

Satu hal yang menarik, berkendara dengan Ford Everest, dengan ground clearance yang cukup tinggi, fuel tank capacity yang mencapai 70L, serta mampu menegak Biosolar…. maka ….. perjalanan panjang melewati jalur “jarang SPBU”, torsi yang memadai, paduan jalan mendaki, semi offroad, dan jalanan berlubang membuat berkendara jauh lebih nyaman dan tak perlu was-was lagi, bahkan selama berkendara saya tak perlu ancang-ancang yang cukup jauh ketika akan melewati jalan yang mendaki, sehingga membuat pengemudi lebih rileks. Dan dari hasil survey para penumpang…sejauh berkendara etape pertama ini tak ada keluhan berarti akan kenyamanannya….selain yang kadang “glodakan” .. hehehe

Namun yang menjadi kelemahan adalah tipe suspensi belakang yang berupa Rigid Leaf Spring with Stabilizer, membuat pantulan “ekor” si evie cukup berasa hentakannya. Karena tipe suspensi ini di design untuk bekerja keras, maka sejatinya untuk maximum load-lah barulah suspensi belakang bisa teredam “keganasannya”. Mengenai performa pengeraman, Ford Everest ini memiliki jarak pengereman yang cukup panjang, jadi perlu hati-hati dalam menjaga jarak dengan mobil di depannya. Maka motto “you can drive faster but we can go everywhere” sangat tepat disematkan kepada Ford Everest ini….(bukan promosi lho ya)

Pantai Selatan

Hari pun semakin gelap….singkat cerita, 10 km menuju penginapan di Little Hula-Hula di pantai sawarna, sajian jalan semi offroad di malam hari menemani perut keroncongan dan badan pegal tak sabar untuk sampai di penginapan. Walhasil, dengan menembus gelapnya malam melewati jalan yang rusak berat kami sampai di penginapan. Dengan fasilitas yang ada, saya rasa cukup sepadan dengan harganya. Namun yang menjadi catatan adalah jalan infrastruktur menuju pantai sawarna yang membuat saya sangat kecewa. Jalan yang tak terawat, sedikit penerangan dan rambu-rambu yang tidak jelas menuju lokasi pantai membuat kesan pantai sawarna yang konon surga yang tersembunyi tidaklah benar adanya.

Tapi diluar itu semua, marilah kita simak pemandangan di bawah ni….

Pantai Sawarna

Tujuan kami ke pantai selatan adalah melihat keganasan Samudra Hindia….

Raihanah Sawarna-2

Membuat si kecil bahagia adalah suatu tambahan ekstra dalam perjalanan kali ini…

Raihanah - sawarna

Mengeksplorasi rasa keingintahuannya mengenai “apa itu ombak”

Albanie & Raihanah 1

Karena kebetulan air lagi surut … maka ikan yang terperangkap di kubangan serta Ophiuroidea (bintang ular – red) yang malau-malu bersembunyi di balik karang menjadi daya tarik tersendiri duo kecil.

IMG_20150722_062923IMG_20150722_062820IMG_20150722_062826IMG_20150722_071454

Keceriaan si kecil setelah perjalanan panjang

 Sawarna - paddies fieldSalah satu spot favorit di sebelah penginapan

IMG-20150722-WA0011

Personnel yang sama ketika touring ke Garut

IMG-20150722-WA0024

IMG-20150722-WA0027

Grand-yut put tak mau ketinggalanmenikmati touring kali ini, di usia nya 78 tahun tak surut semangat untuk menjelajahi ujung selatan pulau jawa

Akhirnya menjelang tengah hari, kami harus berkemas, menuju destinasi berikutnya yang tak kalah menantang jalur nya ….

Membawa personel dengan rentang usia cukup besar menjadi tantangan sendiri, karena masing-masing usia memiliki kecepatannya sendiri dan caranya sendiri untuk menikmati suasana liburan…hehheh

 

Etape berikutnya berlanjut di  tulisan berikutnya

⇒⇐⇒⇐⇒⇐⇒⇐⇒⇐

Depok di pagi hari setelah diguyur hujan….

sebelum berangkat ngantor tentunya

Rindu Kampung Halaman


Morning Moon

♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠

Sunrise - SItubondo

Langit jingga Meliputi senja
Semilir angin hembuskan kedamaian
Aku terkesan menyaksikan ini
Betapa indah mentari yang pulang..

Awan awan berarak riang
Burung burung kembali pulang
Hendak Menati malam yang pasti datang
Aku terngiang pada kampung halaman
Yang biasa ku rangkuh dengan penuh kebahagiaan..

Ada cerita diujung hari
Tentang rindu
Yang lama menggumpal
Pada sebuah kampung halaman
Juga pada wanita idaman

Sampai malam datang
Sampai rembulan bersinar
Sampai bintang berkelipan
Dan sampai pekat menutupi pandangan.
Aku akan terus berharap
Semoga kedamaian tetap bersemayam dijiwaku
Meskipun aku dirantau
Bukan dikampung halaman..

Puisi Oleh : Firgiawan Asvi Hani

*********************************************

2 Ramadhan 1436H

19 Juni 2015

Beberapa hari sekembali dari kampung halaman

*********************************************

Edisi mencoba mengisi kembali laman -Abualbanie-

Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer


Alone Little Girl

 

“When life gives you lemon, you will make a lemonade”

….be grateful of what you have,

….utilize what you have,

….and make it to the greatest thing you can enjoy and share with

“The heart will rest and feel relief if it is settled with Allah ta’ala and it will worry and be anxious if it settled with people”

** Ibn-Qayyim **

Kesan Pertama Test Drive Ford Everest


My Evie (2)

Sebagai MPV-er, kenyamanan MPV lama si Oddy memang sulit dilupakan. Selain mobil pertama buat keluarga, kisah perjalanan dengan si Oddy selalu diliputi perjalanan yang menyenangkan.

Hingga tibalah masa nya, suatu hari yang panjang, dalam perjalanan touring yang melelahkan bersama si Oddy, membuat hati ini berpaling. Jalanan rusak, tanjakan yang cukup terjal serta hamparan gravel membuat hati tak kuasa “menyiksa si Oddy” bekerja keras hingga batas kemampuannya. Walau jalanan rusak, namun ketenangan penumpang di kabin tetap dimanjakan oleh Si Oddy. Hingga akhirnya, hati goyah, gundah gulana … (halah…..).

Suatu malam yang gelap dimana saya pertama kali bersua dengan pengganti Oddy, belantara jalanan jakarta menutupi warna kulitnya, posturnya tinggi dengan berat mencapai 2.5 ton, kokoh, Perkasa dan memberikan rasa “secure” bagi penunggangnya. Ia menyusuri jalan-jalan dalam ramainya malam. Perasaan kaku, karena sudah lama tidak berkendara kuda besi semakin menyeruak di dalam kabin. Angkernya jalan bergelombang sudah tidak menakutkan lagi, namun angkernya jalanan sempit serta U-turn masih menghantui ketika berkendara. Si kuda besi dengan turning radius 6100 mm dan panjang sekitar 5 meter ini memang membutuhkan “skill” untuk berbalik haluan 360 derajat. Untungnya saya terbiasa membawa mobil panjang dengan turning radius “seadanya”, sebut saja si oddy, hal ini membuat mental saya lebih terasah dan tak terlalu kecewa (karena belum pernah merasakan berkendara kuda poni….hehhehe)

Bantingan memanglah tidak untuk dibandingkan dengan MPV, terlebih jika dibandingkan dengan si Oddy sang MPV sejati, namun ia sejatinya lelaki Perkasa untuk kerja keras. Kaki-kakinya kuat menapak, tak peduli medan yang dilalui nya. Dengan ground clearance 210 mm, perasaan takut tergores tepi trotoar sudah mulai sirna, terlebih lubang berisi air lumpur yang bukan “sesuatu banget” lagi. Untuk kecepatan tinggi di jalan aspal, dengan kondisi jalan yang kurang baik, maka pastilah kita akan diajak “berayun” bak menaiki kuda jantan di ajang rodeo….eits tunggu dulu tapi….itu jika penunggangnya hanya 1orang …jika si rodeo membawa beban lebih beserta konco-konconya, maka kenyamanan berkendara langsung dicapai…terlebih jika sadel nya benar-bernar terisi hingga 7 orang, maka efek mantul-mantul berkurang drastis. Mantul-mantul adalah hal yang lumrah jika menilik suspensi belakang yang memiliki Rigid Leaf Spring with Stabilizer, karena ia dirancang untuk membawa muatan berat. Justru karena itulah keluarga kami rela mengorbankan kenyamanan demi ke mapuan membawa muatan berat, karena sebentar lagi kami akan menjadi keluarga besar, dan kebiasaan keluarga kami yang suka bawa “Ransum”yang tidak sedikit setiap kali bepergian. Ditambah lagi keinginan keluarga yang igin berkelana lebih jauh dengan medan yang lebih bervariasi namun menawarkan ruang kabin yang lega. Pantaslah memang si kuda besi pengganti Oddy disebut sosok yang “tough and dominant” dengan semangat ÿou can drive further with it

Si Evie, saya menyebutnya, karena ia peminum bahan bakar hidrokarbon rantai panjang sampai 14, tidak seperti karakter kuda peminum bahan bakar hidrokarbon rantai 8, hentakan nya tidak se-responsif kuda peminum “öktan”. Dengan maksimum torsi 330 Nm di putaran 1800 rpm, membuat tarikan bawah memang menguji “kesabaran”. Tapi jika kaki menginjak pedal lebih dalam lagi, maka si kuda besi peminum “cetane” akan segera menderu garang berkat mesin DURATORQ 2.5L Diesel, 4-Cyl., 16-Valve, DOHC, Direct Injection Commonrail Turbo with Intercooler. Terbukti di beberapa kesempatan, saya iseng menginjak lebih dalam pedal gas….maka hentakan nya langsung membuat Istri saya mengomel…heheheh.

Tidak hanya di situ saja, ternyata perpindahan gigi si Evie cukup halus dan sedikit hentakan, bahkan saya tidak merasakan hentakan. Interiornya sederhana, apa adanya, dan menurut saya cukup berkarakter. Kalau boleh dibilang “lelaki apa adanya”, dan memanglah sang pekerja keras tak butuh pernak-pernik ala boyband korea…heheheh. Justru simple yang menjadi trade mark SUV pekerja keras ini. Walaupun sederhana namun quality build nya oke. Tak ada bunyi-bunyian di dashboard, dan cukup rapi antara panel yang satu dengan yang lainnya. Tentunya lagi-lagi tidak untuk dibandingkan dengan MPV saya yang pertama.

Akhirnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, si Evie saat ini menjadi anggota keluarga kecil kami. Perjalanan keluarga masih panjang membentang di hadapan, yang tentunya akan menarik jika diceritakan nantinya. Hadza min fadhli robbi.

 

Video di bawah saya ambil dari iklan Ford Endeavor (ketika masuk Asia Pacific menjadi Everest)