Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer


Alone Little Girl

 

“When life gives you lemon, you will make a lemonade”

….be grateful of what you have,

….utilize what you have,

….and make it to the greatest thing you can enjoy and share with

“The heart will rest and feel relief if it is settled with Allah ta’ala and it will worry and be anxious if it settled with people”

** Ibn-Qayyim **

Kesan Pertama Test Drive Ford Everest


My Evie (2)

Sebagai MPV-er, kenyamanan MPV lama si Oddy memang sulit dilupakan. Selain mobil pertama buat keluarga, kisah perjalanan dengan si Oddy selalu diliputi perjalanan yang menyenangkan.

Hingga tibalah masa nya, suatu hari yang panjang, dalam perjalanan touring yang melelahkan bersama si Oddy, membuat hati ini berpaling. Jalanan rusak, tanjakan yang cukup terjal serta hamparan gravel membuat hati tak kuasa “menyiksa si Oddy” bekerja keras hingga batas kemampuannya. Walau jalanan rusak, namun ketenangan penumpang di kabin tetap dimanjakan oleh Si Oddy. Hingga akhirnya, hati goyah, gundah gulana … (halah…..).

Suatu malam yang gelap dimana saya pertama kali bersua dengan pengganti Oddy, belantara jalanan jakarta menutupi warna kulitnya, posturnya tinggi dengan berat mencapai 2.5 ton, kokoh, Perkasa dan memberikan rasa “secure” bagi penunggangnya. Ia menyusuri jalan-jalan dalam ramainya malam. Perasaan kaku, karena sudah lama tidak berkendara kuda besi semakin menyeruak di dalam kabin. Angkernya jalan bergelombang sudah tidak menakutkan lagi, namun angkernya jalanan sempit serta U-turn masih menghantui ketika berkendara. Si kuda besi dengan turning radius 6100 mm dan panjang sekitar 5 meter ini memang membutuhkan “skill” untuk berbalik haluan 360 derajat. Untungnya saya terbiasa membawa mobil panjang dengan turning radius “seadanya”, sebut saja si oddy, hal ini membuat mental saya lebih terasah dan tak terlalu kecewa (karena belum pernah merasakan berkendara kuda poni….hehhehe)

Bantingan memanglah tidak untuk dibandingkan dengan MPV, terlebih jika dibandingkan dengan si Oddy sang MPV sejati, namun ia sejatinya lelaki Perkasa untuk kerja keras. Kaki-kakinya kuat menapak, tak peduli medan yang dilalui nya. Dengan ground clearance 210 mm, perasaan takut tergores tepi trotoar sudah mulai sirna, terlebih lubang berisi air lumpur yang bukan “sesuatu banget” lagi. Untuk kecepatan tinggi di jalan aspal, dengan kondisi jalan yang kurang baik, maka pastilah kita akan diajak “berayun” bak menaiki kuda jantan di ajang rodeo….eits tunggu dulu tapi….itu jika penunggangnya hanya 1orang …jika si rodeo membawa beban lebih beserta konco-konconya, maka kenyamanan berkendara langsung dicapai…terlebih jika sadel nya benar-bernar terisi hingga 7 orang, maka efek mantul-mantul berkurang drastis. Mantul-mantul adalah hal yang lumrah jika menilik suspensi belakang yang memiliki Rigid Leaf Spring with Stabilizer, karena ia dirancang untuk membawa muatan berat. Justru karena itulah keluarga kami rela mengorbankan kenyamanan demi ke mapuan membawa muatan berat, karena sebentar lagi kami akan menjadi keluarga besar, dan kebiasaan keluarga kami yang suka bawa “Ransum”yang tidak sedikit setiap kali bepergian. Ditambah lagi keinginan keluarga yang igin berkelana lebih jauh dengan medan yang lebih bervariasi namun menawarkan ruang kabin yang lega. Pantaslah memang si kuda besi pengganti Oddy disebut sosok yang “tough and dominant” dengan semangat ÿou can drive further with it

Si Evie, saya menyebutnya, karena ia peminum bahan bakar hidrokarbon rantai panjang sampai 14, tidak seperti karakter kuda peminum bahan bakar hidrokarbon rantai 8, hentakan nya tidak se-responsif kuda peminum “öktan”. Dengan maksimum torsi 330 Nm di putaran 1800 rpm, membuat tarikan bawah memang menguji “kesabaran”. Tapi jika kaki menginjak pedal lebih dalam lagi, maka si kuda besi peminum “cetane” akan segera menderu garang berkat mesin DURATORQ 2.5L Diesel, 4-Cyl., 16-Valve, DOHC, Direct Injection Commonrail Turbo with Intercooler. Terbukti di beberapa kesempatan, saya iseng menginjak lebih dalam pedal gas….maka hentakan nya langsung membuat Istri saya mengomel…heheheh.

Tidak hanya di situ saja, ternyata perpindahan gigi si Evie cukup halus dan sedikit hentakan, bahkan saya tidak merasakan hentakan. Interiornya sederhana, apa adanya, dan menurut saya cukup berkarakter. Kalau boleh dibilang “lelaki apa adanya”, dan memanglah sang pekerja keras tak butuh pernak-pernik ala boyband korea…heheheh. Justru simple yang menjadi trade mark SUV pekerja keras ini. Walaupun sederhana namun quality build nya oke. Tak ada bunyi-bunyian di dashboard, dan cukup rapi antara panel yang satu dengan yang lainnya. Tentunya lagi-lagi tidak untuk dibandingkan dengan MPV saya yang pertama.

Akhirnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, si Evie saat ini menjadi anggota keluarga kecil kami. Perjalanan keluarga masih panjang membentang di hadapan, yang tentunya akan menarik jika diceritakan nantinya. Hadza min fadhli robbi.

 

Video di bawah saya ambil dari iklan Ford Endeavor (ketika masuk Asia Pacific menjadi Everest)

 

 

Kenangan Terakhir Bersama si Oddy


Pagi yang cerah…udara yang hangat menyelimuti ….. tak kusangka ternyata hari itu adalah hari terakhir si Oddy menemani hari-hari keluarga mungilku. Duduk berjemur menghadap timur, elegan nan rapi…tampan dan pengantar setia. Sudah hampir 3 tahun si Oddy menemani, suka duka kami alami bersama. Si kotak berwarna perak elegan dengan mesin VTEC SOHC 16 valve berkapasitas 7 penumpang seberat 1.6 Ton dengan ground clearance 155 mm,sedang berbenah untuk menyusuri 3 hari perjalanan melewati selatan pulau jawa.

IMG_20140924_065350

 

Bukan pertama kalinya 65 liter tanki terisi penuh, terlebih ini perjalanan panjang. Dengan bagasi yang hampir terisi penuh, namun baris ketiga yang dipertahankan untuk kamar tidur si sulung ketika kelelahan dalam perjalanan.

Berangkatlah si Oddy di pagi buta menuju Bandung. Dengan bermalam di hotel Padma tuk melepas penat sekaligus untuk mempersiapkan fisik yang prima karena ini pertama kalinya kami sekeluarga melakukan perjalanan jauh, dan pertama kalinya bagiku sebagai sopir tanpa cadangan.

Semalam di Padma cukup memberikan nuansa sendiri bagi keluarga, dengan tarif yang tidak terlalu mahal, lokasi ini memang sebuah tempat “pelarian” yang ideal.

IMG_20140926_121212-EFFECTS

Sembari menunggu kamar disiapkan, tak ada salahnya sedikit leyeh-leyeh memanjakan diri

IMG_20140926_121934-EFFECTS (1)

Mengamati 2 peri kecil berlarian dengan antusias, cukup melegakan hati, bahwa perjalanan ini in sya Allah tidak sia-sia

IMG-20140926-WA0011

Melihat si bungsu terpana dengan air mancur di depannya, sesuatu banget kata orang bilang

Kami berencana menghabiskan malam di sini, sembari menikmati keheningan malam-nya Bandung, kasur dan bantal empuk, serta merasakan berendam di air hangat adalah menu utama keluarga kami. Sedikit memanjakan diri ….hmmm ini bukan sedikit tapi lebih tepatnya “banyak memanjakan diri”.

Tak terasa semalam di Padma sungguh singkat, pagi pun menyapa, kubuka Jendela kamar dan inilah yang kulihat

IMG_20140927_055209

Cahaya matahari masih malu-malu, kabut pun masih turun merendam suasana pagi di Hotel Padma. Si kecil masih pulas, kupaksakan langkah kaki malasku tuk menciduk air wudhu. Rencanya ingin berenang tapi setelah melihat uap dingin di atas kolam renang, pupuslah semangat 45 yang sudah di tanam seminggu sebelum berangkat, yaitu berenang sebagai pengganti olah raga pagi.

IMG-20140927-WA0002-EFFECTS

Oke…sampai di situ “leha-leha” di Hotel. Kami bergegas check out…dan tancap gas ke Garut … lebih tepatnya kota kecil Pameungpeuk via pangalengan, yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Teman seperjuangan touring kali ini telah menunggu di pintu tol. Baru kali ini kami bepergian jauh tanpa waze atau dituntun GPS, itu karena pemimpin perjalanan kali ini yang bisa diandalkan. Kami satu rombongan 3 mobil dan kami telah mendapuk kawan yang baru kami kenal dadakan sebagai pemimpin perjalanan.

Singkat cerita, jalanan meliuk berbatas dinding bukit dan jurang menjulang serta tanjakan yang membikin jantung berdegup kencang serta hamparan kebun teh di kanan kiri jalan menjadi teman perjalanan hingga 6 jam ke depan. Sesekali kami menepi sekedar tuk mengabadikan suasana perjalanan yang unik dan pemandangan yang elok. Tak kusangka si Oddy yang telah menginjak usia tidak muda lagi, dengan torsi 205.94 Nm) / 4800 rpm mampu meladeni tanjakan hampir 40 derajat dengan medan gravel dan sedikit jalan yang rusak.

IMG-20140930-WA0001

Timbul rasa kasihan terhadap si Oddy, karena sejatinya kendaraan ini tidak diperuntukkan untuk medan yang kami lalui. Namun kenyamanannya dan performanya yang prima membuat kami sekeluarga sangat menikmati berkendara di atasnya. Walaupun Istri tercinta sesekali mabuk perjalanan karena usia kehamilannya yang memasuki akhir semester pertema. Tapi rasa lelah dapat diredam dengan suspensi double wishbone untuk roda depan maupun belakang.

Singkat cerita, dengan modal HP Lenovo A 3000 tab seadanya, didapatlah kenangan sepanjang perjalanan seperti ini:

IMG-20140930-WA0002

Pangalengan view

Jenuh berkendara, kami mampir sekedar mengisi perut keroncongan di sebuah lokasi yang terletak di tengah sawah. Sementara jarum indikator bensin si Oddy menunjukkan 3/4. Tidak seperti dua mobil di depannya, si Oddy memang dirancang haus bensin, dengan kapasitas mesin 2,300 cc, kondisi tanki bahan bakar harus sesekali di tengok, terlebih melewati jalan antah berantah di daerah lintas Pangalengan dimana kami harus mengandalkan Pomini, alias Pom Bensin Mini.

Siang menyapa, perut sudah mulai keroncongan, akhirnya bisa menikmati sepiring nasi dan ayam bakar sembari melihat sawah memanjang nan luas itu …………………memang sesuatu bingitz :D

IMG-20140927-WA0021

IMG-20140927-WA0015

Sepanjang perjalanan disugihi tikungan nan tajam, terkadang naik cukup terjal dan terkadang turun namun langsung berbelok arah. Bisa dibilang kemudi tak pernah terarah lurus kedepan, kalau tidak belok kiri ya belok kanan. Dengan tipe drive-train yang front wheel drive, tentunya urusan nanjak menanjak agak sedikit sulit bagi si Oddy. Terkadang kaki depan si Oddy selip menghantam jalanan gravel.

Perjalanan panjang nan melelahkan akhirnya terbayar ketika kami finish di check point pertama, yaitu Pantai Ranca Buaya. Hari menjelang senja, badan pegal tak karuan, mata ngantuk, tubuh lelah, akhirnya sedikit terbayar dengan suara deburan ombak mengalun indah. Kejadian unik ketika beratus ratus kilometer kami lalui menuju tempat ini, ternyata kami bertemu seorang kawan SMA dulu, dan ternyata kawan SMA ku adalah salah satu teman sekamar salah satu pemimpin rombongan touring…walah…dunia memang sempit…:D

Melihat di kejauhan silhouette dari anak-anak yang ceria bermain di tengah deburan ombak, suasana senja yang tenang, serta adzan maghrib yang sebentar lagi berkumandang, sungguh kombinasi peristiwa yang selalu aku impikan.

Senja di Ranca Buaya

Selalu teringat pertama kali bagaimana aku menatap langit senja, dan rupanya itu terulang, ketika si sulung terpukau akan langit senja dalam dekapan hembusan angin laut di senja hari.

Menatap Langit

Senja pun semakin matang, perlahan meninggalkan pantai selatan nan elok, dalam gemulainya hembusan ombak. Akhirnya inilah pemandangan terakhir yang sempat diabadikan.

Pantai Ranca Buaya

Hari mulai larut, jalanan kembali mulai tidak bersahabat. Hamparan jalan berkerikil terhampar di depan sepanjang 3-5 km, membuat bulu kuduk bergidik, karena tak ada satupun yang melewati jalan itu kecuali kami bertiga, apa jadinya kalau salah satu dari kami mengalami ban bocor…. aaahhh tak bisa dibayangkan.

Malam-pun mulai larut, sepi menemani, akhirnya kami sampai di penginapan. Badan lelah, mata perih, rasanya ingin kubayar tuntas dengan tidur lelap. Karena esok hari perjalanan pulang yang cukup panjang menuju Depok terbentang luas.

Oddy dan Rekan

Si Oddy bersama 2 rekannya. Walaupun usia nya tidak belia lagi, namun semangat juangnya melewati medan berat perlu diacungi jempol. Kami sekeluarga pasti sangat merindukannya saat ini. :(

Nikmatnya perjalanan serta kendaraan yang baik, adalah bagian dari anugerah dari Allah ta’ala. Sangat bersyukur di tengah-tengah kesibukan, masih bisa menyempatkan diri untuk melihat tempat yang indah di sisi selatan pulau Jawa.

Menatap laut

Menikmati keindahan alam, merupakan hal yang “gratis” dan “mudah” bagi ayahnya dulu. Namun tidak buat kedua anakku, dimana hutan beton, dan pav block adalah tempat kehidupannya saat ini. Bersyukur masih bisa bertelanjang kaki menjamah pasir bersama.

Pemandangan

Salah satu pemandangan yang menampakkan rumah penduduk di tengah ladang padi, serta dikelilingi oleh bukit-bukit nan hijau. Sesungguhnya ini lah tempat impian ku ketika aku menghabiskan masa tuaku nanti.

When I Stood still against the wave vintage

Si sulung terpana melihat ombak menggulung beriringan, seperti ayahnya dulu :)

Akhirnya kisah perjalanan terakhirku bersama si Oddy harus berakhir di sini. Oddy … kami merindukanmu. In syaa Allah perjalanan berikutnya akan dilakukan dengan sesuatu yang ber-ground clearance tinggi, rear wheel drive, dan memiliki torsi di atas 300 Nm/rpm…..

Mimpi itu…..


Bamboo Chair

 

Di suatu hari di penghujung pagi, aku memandang penghujung langit melalui jalan setapak yang seolah tak berujung. Sebuah kursi bambu dibangun seadanya, namun tampak kokoh di bawah pohon rindang. Di sinilah umumnya para petani beristirahat sejenak sebelum pergi……berpeluh, penuh lumpur, lelah,, walaupun sejuk rindangnya pohon cukup menggoda namun tak seorangpun ingin berlama-lama duduk di kursi bamboo di bawah pohon rindang itu….

Sang petani tahu benar bahwa kursi di bawah pohon nan rindang itu bukan tujuan akhirnya, walaupun terbentang di hadapannya ladang jagung dan padi, ditambah indahnya pemandangan dan segarnya udara pagi kala itu.

Begitu pula aku…… tak kan berlama-lama terbuai dengan pemandangan eksotis dipadu dengan sunyinya pagi kala itu, karena dalam hitungan jam aku akan kemabli ke Jakarta.

Dan semua yang aku alami pagi itu, seindah apapun,…. hanya akan menjadi serpihan-serpihan memori bak mimpi, yang akan hilang ketika “terbangun”

Begitu pula kehidupan di dunia ini…….segemerlap apapun cita-cita yang diperoleh ataupun harapan tertinggi yang telah tercapai, kelak akan menjadi mimpi ketika kita terbangun…..

Ya….

Ketika kita terbangun di alam dimana kehidupan sesungguhnya akan dimulai

 

Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah, berkata : “tidaklah dunia ini seluruhnya dari awal hingga akhirnya kecuali ibarat seseorang yang tertidur sejenak, kemudian terbangun. “Makna tersebut diambil dari sabda Nabi sallallahu’alaihi wasallam: Tidaklah aku di dunia ini melainkan (hanya) seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon lalu beristirahat dan kemudian meninggalkannya (pohon tersebut).” (HR. At-tirmidzi no. 3277)

Band of Brothers


Pernahkah kita membayangkan bahwa keceriaan kita dalam menikmati hubungan persaudaraan, ketika kita masih muda atau semasa kita masih kanak-kanak akan berubah seiring bertambahnya usia kita??

hold your hands

- We few, we happy few, we band of brothers -

————————-

from left – right

My lil brother – my son – my cousin

Travel Theme – Simplify


Travel Theme – Simplify

Simple escapade from frenzied full populated city to simple yet quite and restful place in Dusun Bambu – Lembang Village.

3 hours driving from Jakarta to the location was worthwhile as I didn’t have to spend much time & extra preparation to prepare a “great escape” plan.

Comfy yet homely place, and easy access to location (guided by GPS) made my travel plan simplified.

Boat

Dusun Bambu-1

Lakehouse

Village

Raihanah on the bridge

———————————————–

Comfy yet homely place, and easy access to location (guided by GPS) made my travel plan simplified.

What a simple happiness for “small family-type” vacation

———————————————–