Long Trip Hero


IMG_20160211_122956

Terusik akan tulisan majalah Jip edisi 8 Juni 2012, mengenai partner perjalanan jauh “Long Trip Hero” akhirnya menginspirasi saya menulis kisah perjalanan keliling Jawa dengan kuda tunggangan saya Ford Everest Hitam TDCi tahun 2011.

Sajian garangan asem yang pedas segar serta udara Simpang Lima Semarang seolah menandai berakhirnya perjalanan 17 hari berkendara dengan Ford Everest. Lamunan akan perjalanan yang kami tempuh membuat sayang untuk tidak dituliskan sebagai kenangan. Seperti halnya saya menuliskan kenangan saya bersama si Oddy. Odyssey tua yang juga mewarnai kisah perjalanan keluarga.

Kilas balik 17 hari sebelumnya………. Kali ini penumpang segala umur menjadi tester sejauh apakah SUV yang konon hanya dipakai oleh lelaki berprofesi sebagai engineer atau teknisi di pabrik dan dipakai pekerja kasar di tempat “berdebu” dan hanya dipakai oleh orang bercoverall diuji kemampuannya dengan membawa keluarga kecil di jalan beraspal dan menghadapi segala macam cuaca.

Sekelumit persiapan perjalanan dan etape

Ford Everest TDCi

Kondisi bagasi.jpg

Kilas balik 17 hari sebelumnya, dimana semua orang terlelap dalam gelapnya Depok, kami sibuk berbenah. Ketika koper-koper berat terangkat ke atas roofbox menandai petualangan keluarga menyusuri pantura dan kota-kota di pulau Jawa. Perjalanan ini adalah perjalanan terjauh kami sekeluarga, sekaligus uji coba berkendara bersama Ford Everest yang sudah lama kami impikan.

Perjalanan kami bagi menjadi 4 etape.

Etape Pertama : Depok – Solo Tawangmangu

Etape Kedua : Tawangmangu – Maospati – Batu Malang – Situbondo

Etape Ketiga : Situbondo – Batu Malang – Surabaya

Etape Keempat : Surabaya – Semarang – Depok

Penumpang & Drive Mode

Komposisi penumpang adalah 2 Balita (Raihanah 2 tahun dan Umayr 8 bulan), satu anak kecil Albanie 6 tahun dan Istri tercinta.

Dalam perjalanan pulang nenek kami juga ikut serta, sehingga lengkap sudah range usia yang menguji “kesaktian” ford Everest TDCi  untuk membuktikan bahwa ia layak mendapatkan gelar “LONG TRIP HERO”. Tipe perjalanan dan rute yang ditempuh dipilih bervariasi, dari jalan menyusuri pantai utara, hinggi naik turun bukit menyusuri lereng gunung lawu serta menghadapi jalan berkelok di tengah hujan lebat dan minim penerangan sepanjang jalur Pujon menuju Batu – Malang.

Ban Michelin Cross Terrain 245/70 yang sudah berusia 5 tahun tetap dipertahankan. Dengan shock breaker Bilstein yang menjadi andalan peredam kejut si Evie hitam. Oli mesin Connoco Guardol ECT menjadi bumbu manis menemani kinerja mesin Duratorq.

Tak lupa beban berat 50 kg dipanggul oleh ford everest dengan roofbox whale carrier yang berisi 2 tas koper dan 1 tas jinjing. Untuk menguji semburan tenaga si “LONG TRIP HERO” saya sengaja tidak pernah merubah panel shift dari posisi “D” atau Drive untuk segala jenis medan yang dilalui … hal ini untuk mengekploitasi torsi dan kekuatan dan kenyamanan transmisi matic si Evie. 

Pengemudi

Kali ini saya memutuskan untuk mengendarai sendiri si kuda hitam. Satu hal yang luar biasa dari SUV ini adalah posisi mengemudi yang nyaman, seolah badan kita menyatu dengan kursi membuat badan tidak mudah lelah. Posisi menyetir yang ergonomis serta panel yang sederhana dan tidak banyak tombol membuat kesan mobil ini   “simple but exceed expectation”. Jika diibaratkan lelaki, mobil ini adalah pria tangguh dan apa adanya namun dapat diandalkan dalam kesederhanaannya. Pepatah bilang “Less is More”

Kesan Perjalanan

Banyak yang mengatakan sebelumnya bahwa perjalanan kami akan menjadi pengalaman mereppotkan dengan komposisi penumpangnya…. Well … tapi tak akan pernah tau kalau belumlah dicoba. Akhirnya dengan tekad yang sudah bulat, dengan uang saku seadanya serta kondisi fisik yang terlah jauh hari dipersiapkan, keputusan telah dibuat untuk berangkat.

Satu kotak berisi obat-obatan  untuk perjalanan jauh pun tak ketinggalan. Bahkan jauh-jauh hari kami selalu menghitung mundur “kapan yaaaa bias berangkat…” perasaan cemas dan penasaran bercampur jadi satu.  Untuk perjalanan jauh keluarga, untuk memastikan para penumpang balita nyaman maka kehadiran roof box untuk menyimpan koper sangat membantu, sehinggga kabin mobil masih lega untuk menyimpan camilan serta memastikan ruang gerak si kecil cukup tersedia yang kadang mondar-mandir ke depan dan ke belakang. 

Seperti biasa baris ke tiga disulap menjadi tempat tidur darurat yang empuk dan nyaman serta hangat dengan tumpukan bantal dan selimut. Walau pada akhirnya menjadi teman tidur pribadi si Sulung…..hehehheeh.

Untuk mempermudah pergerakan liburan kali ini sengaja dilewatkan tanpa kamera DSLR, cukup bermodalkan HP ASUS Zenfone 2 Laser dengan kamera yang seadanya.

Okeh…itu tahap persiapan………walah baru tahap pesiapan tulisannya udah cukup panjang…hehehehehe.

Dengan roofbox di atap yang berisi 2 koper dan tas jinjing, perjalanan sengaja saya batasi pada range kecepatan 80-100 km/jam. Hal ini untuk menghindari body roll over yang berlebihan ketika mobil bergerak menikung pada kecepatan tinggi.

Perjalanan keluar tol cipali sukses di tengah bertebarannya cerita horor akan bahaya tol Cipali malam hari. Konsumsi solar terhitung cukup irit dengan perbandingan 1:12. Jalanan rusak ketika melewati kilometer terakhir menuju exit tol Pejagan tak sedikitpun mempengaruhi kenyamanan berkendara dengan Ford Everest. Dengan ground clearance 255 mm mampu melibas semua lubang maupun mengatasi perbedaan ketinggian antara bahu jalan dan badan jalan ketika kondisi darurat. Ground clearance yang cukup tinggi ini sangat membantu terutama sepanjang lintas pantura, yang mana bahu jalan umumnya lebih rendah ketimbang badan jalan utama. Sehingga jikalau harus “nyemplung ke bahu jalan” … tidak harus mengorbankan bumper terantuk jalan.

Ujian melewati tol Semarang-Solo pun dilalui dengan mulus dan melahap hampir semua tanjakan tanpa menurunkan gigi dari posisi “D” ke 3,2 bahkan 1.

Sampai di Solo malam hari….dengan jalanan yang basah dan udara yang bersahabat, 2 mangkuk wedang ronde dan asle sedikit menghangatkan suasana dan obat kantuk untuk memompa stamina ke posisi semula karena hal ini merupakan akan perjalanan jauh pertama dengan menggunakan mobil. Hampir seluruh penumpang tertidur pulas dalam mimpi indahnya sementara Ford Everest dengan gagahnya mendaki jalan menuju Tawangmangu.

Dalam pendakian ke arah Tawangmangu si Hitam Ford Everest tak kehilangan tenaganya sedikitpun tanpa mengorbankan kenyamanannya melewati jalan menikung dan bergelombang dengan dibuktikan si kecil yang tidak gampang terbangun dan tetap tidur pulas. Juga dibuktikan akan stamina si kecil yang tetap segar ketika sampai di penginapan di malam yang cukup larut.

… Hal ini membuktikan bahwa suspensi Everest cukup nyaman. Cukup keras sehingga stabil pada kecepatan tinggi dan tidak terlampau keras sehingga masih nyaman di kecepatan rendah. Akhirnya malam pun berlalu… berharap si Evie pun bisa beristirahat untuk perjalanan panjang selanjutnya.

Keesokan harinya kami dibangunkan kokok ayam pertanda petualangan akan dimulai kembali.

Gunung Lawu di pagi hari.jpg

AbualbanieWordpress_2

Tempat melepas penat – Jawa Dwipa Tawangmangu

Ujian selanjutnya adalah jalan mendaki di kebun teh kemuning…jalan yang sempit dan sedikit berliku, serta kondisi jalan yang berkerikil tak membuat nyali pengemudi drop, bahkan sesekali fantasi liar untuk terus menanjak akhirnya harus diurungkan mengingat kondisi perut yang lapar keroncongan.

AbualbanieWordpress_3

Kebun Teh – Kemuning

Ford Everest TDCi kebun teh kemuning

Kebun Teh Kemuning – Karanganyar

Ujian berikutnya adalah menyusuri lereng gunung lawu dari cemoro sewu hingga Maospati. Lagi-lagi saya tidak merubah drive mode, awalnya saya pikir Everest akan keteteran…namun kenyataan di lapangan berbeda, perjalanan menanjak hinggga turunan hanya over drive mode saja yang saya nyalakan.

Tenaga yang melimpah serta handling yang cukup mumpuni dengan dibantu penggerak roda belakang, jalan berkelok menanjak dapat diatasi.

Menghadapi medan berbukit dan menanjak serta berkelok di balik kemudi Ford Everst dengan semburan tenaga mesin Duratorq 2500 cc dengan tenaga 143 ps dengan torsi sekitar 340-an Nm, Ford everest seolah ingin berkeata kepada pengemudi “I’ll never let you down”. 

Cemoro Sewu

Bersama si Evie dan si Kecil Raihanah

Dengan suspensi format independent double wishbone di depan menyumbangkan kenyamanan dan kepresisian kemudi. Sedangkan leaf spring dengan stabilizer bar di belakang, pas untuk membawa beban lebih. Toh, Everest adalah 7 seater, dengan kapasitas angkut yang cukup besar dan bisa diajak untuk bersusah payah. Sesekali pedal gas diinjak dalam-dalam untuk mengeksploitasi tenaga terpendam Everest si “LONG TRIP HERO” 

Hari berlalu…hujan pun turun dengan lebatnya .. Setelah turun dari lereng gunung lawu kami bergerak menuju timur ke arah Batu Malang menikmati ganasnya jalanan Pujon-Malang di malam hari. Kali ini Bapak dan Ibu turut serta, membuat Ford Everest berada pada full capacity dengan 7 penumpang dengan 4 orang dewasa dan 3 orang anak ditambah beban roofbox 50 kg, seolah mengatakan bahwa perjalanan kali ini bukan perjalanan remeh-temeh.

Ford Everest - jalur gunung lawu

Di lereng gunung lawu

Kabut menyergap.jpg

Ford Everest TDCi lereng.jpg

Melewati Pujon, tidak hanya tanpa lampu, hujan deras pun seolah memberi bumbu tersendiri untuk membuat perjalanan kali ini sangat mengesankan. Jalanan berkelok tiada henti dengan rambu penanda akan bahaya longsor sesekali disapu dengan lampu jauh …. Jarak pandang yang cukup terbatas karena hujan serta jalan yang licin membuat kami deg-degan sepanjang perjalanan. Jalanan berliku, tikungan curam serta kanan dan kiri ngarai kiri yang cukup dalam…apalagi yang diharapkan selain mobil tangguh segala medan dan pengemudi yang handal tentunya…ehem..ehem…. 😀 

Singkat cerita, satu persatu kota tujuan kami capai, dengan segala medan dan rintangannya masing-masing.

Ternyata berkendara dengan Ford Everest sangat menyenangkan. Kesan aman selama berkendara membuat rasa percaya diri ketika harus bertempur dengan mobil lain di medan yang berat dan belantara jalan raya dengan sopir AKAP dan truk yang cukup ganas….tidak termasuk ibu-ibu yang baru belajar naik motor matic tentunya … heheheh

Tak akan pernah cukup rasanya bercerita akan perjalanan keluarga kami melintasi pulau jawa selama 3 minggu lebih sejauh 2000 kilometer. Bertarung dengan truk besar, take over dengan kecepatan tinggi, menundukkan jalan berliku dan bersua dengan aspal mulus di tengah terik matahari dan hujan lebat… Ford everest dengan mantab menemani perjalanan keluarga tanpa halangan berarti.

IMG_20151223_070408.jpg

Menikmati indahnya kampung halaman

Ford Everest TDCi-Pasir Putih 3

Di Pasir Putih Situbondo

Menikati deburan ombak di Pantai Pasir Putih.jpg

Pasir Putih.jpg

Malang.jpg

Jembatan Suramadu

Evie melintasi jembatan Suramadu

Sekedar berbagi tips berkendara jarak jauh dengan membawa keluarga besar

  1. Pastikan kondisi pengemudi dalam kondisi fit. Periksa kesehatan jika perlu
  2. Pastikan kondisi kendaraan dalam kondisi prima, cek kondisi drive belt dan timing belt, kondisi roda dan tekanan ban serta kaki-kaki kendaraan cukup krusial, terutama jika medan yang akan dilewati cukup berat.
  3. Cek kondisi AC kendaraan, hal ini krusial mengingat suhu udara siang hari di Indonesia cukup panas. Terlebih membawa bayi yang rentan terhadap cuaca panas dan menjamin kenyamanan suasana dalam kabin.
  4. Jangan lupa surat-surat kendaraan ikut dibawa.
  5. Membawa bekal yang cukup serta jika perlu gunakan GPS atau peta untuk memantau kondisi perjalanan.
  6. Roofbox dan Baby car seat sangat membantu untuk kenyamanan dan keselamatan si kecil di dalam kabin.
  7. Bawalah obat-obatan yang krusial, misal obat sakit kepala dan masuk angin, hehehhe, jangan lupa lipitor bagi yang ingin wisata kuliner kelas berat.
  8. Ketahui keterbatasan diri, penumpang dan kendaraan. Jika lelah maka janganlah dipaksa. Jika kendaraan dianggap tidak mampu melewati jalur tertentu atau medan tertentu, pilih jalur yang mudah dan aman. Jangan berkendara sendirian di malam hari di jalan yang sepi kecuali telah pengalaman melewati jalur tersebut.
  9. Drive safely, biasakan berkendara dengan mode defensive driving.
  10. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat safar serta tetap mengawasi waktu sholat agar tidak terlewat dan memahami adab-adab safar.

Dan pada akhirnya …. Satu yang pasti…kami telah mengendarai “LONG TRIP HERO” 

Long Trip Hero.jpg

Ford Everest - Malang.jpg

Hendra Taruna – Fevci 046

Petualangan Keluarga Ke Ujung Selatan Jawa (1)


Bismillahirrahmanirrahim

Suatu pagi di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, pagi cerah nan yang tenang, warna matahari pun kekuningan, sejuk nian pagi itu….Pagi itu kami berbenah, si evie pun tak luput dari tangan-tangan “nganggur” untuk bersih2. Si hitam duduk tenang dan gagah, mengingatkan pendahulunya si Oddy. Setelah kinclong si Evie di “krukupin” (di selimutin – red) biar jadi “tape”…hehehe

Ford Everest

Hari yang dinanti pun tiba, perasaan gelisah gundah gulana akhirnya terjawab di suatu malam tanggal 4 syawal atau 20 Juli 2015. Setelah berjuang melawan sindrom flu dengan mie selera pedas dan tidur menggunakan jaket, akhirnya jam dinding menunjukkan jam 3 dini hari, dan kami pun berhamburan menuju kamar mandi. Hari yng ditunggu pun tiba, yaitu berkelana dan menguji ketangguhan si hitam evie…mendaki gunung lewati lembah…sungai mengalir Indah ke samudra….bersama keluarga berpetualang #bukan ninja Hattori.

Berhubung perjalanan ini adalah perjalanan dini hari, maka kami mempersiapkan kabin khusus untuk tidur anggota anak-anak.

IMG_20150720_071929

Disulaplah bagian belakang kabin Ford Everest menjadi ruang tidur mungil….senang rasanya melihat 2 jagoan kecil akur….dan tidur pulas

Sekedar berbagi tips mengenai susunan penumpang, karena ini perjalanan “multi-usia” … untuk penumpang lansia, grand-yut kami tempatkan di sebelah pengemudi…loh kenapa? karena baris kedua otomatis dihuni oleh car-seat untuk bayi yang sedang masa menyusui. Jadi sang ibu harus diletakkan bersama dengan sang bayi. Sementara untuk bepergian dengan balita, disarankan menggunakan car-seat, selain untuk kemanan dan kenyamanan, dengan adanya car-seat akan membuat sang Ibu tidak cepat lelah memangku bayi, terutama ketika bayi sedang tidur pulas, maka car seat sangat membantu. bahkan sangat membantu ketika sang Ibu ingin tidur, karena dengan bayi di car-seat akan menghindari terjadinya “bayi lepas”  dari pangkuan ibu.

Tapi apa daya jika car seat diserobot sang kakak

IMG-20150724-WA0022

Ketangguhan si Evie kali ini diuji dengan mengkombinasikan penumpang, dari usia 78 tahun dan bayi usia 5 Bulan. Tak pelak, pengembaraan kali ini memang ajang factor kenyamanan evie melewati jalur yang “sedikit menantang”. Kami memilih “Sawarna” dan “Ujung Genteng” sebagai tujuan akhir dari perjalanan kami. Dari hasil bocoran intelijen, akan ada kombinasi jalan rusak, semi offroad dan tanjakan yang cukup untuk mengobati rasa penasaran akan maksimum torsi evie di 330/1800 Nm/rpm dengan penggerak roda belakang. Paling tidak alasan touring kali ini adalah ajang pembenaran kami memilih Ford Everest sebagai kuda tunggangan keluarga yang bisa segala medan..hehehehehe.

Perjalanan dimulai dengan mudik ke keluarga istri di Purwadadi, sembari melewati lembang kami menuju Bandung keesokan hari nya. Bermalam di Bandung sang evie sudah nampak berdebu setelah berkelana ke Purwadadi. Demi mendapatkan kembali tenaga yang terkuras habis bermacet ria di Lembang, kesehatan pengemudi dan penumpang perlu mendapat perhatian. Dan malam itu adalah malam yang relative singkat untuk melepas penat, tapi kami semua memiliki kualitas tidur yang baik……tidur pulas….!!

Petualangan pun dimulai, setelah berkumpul dengan anggota touring yang sama ketika kami touring ke Garut. Kami berangkat dari Bandung ke Sawarna Via Sukabumi. Perjalanan ke Sawarna “sesuatu banget”….selepas Sukabumi sebelum bersua dengan pelabuhan ratu, kami disuguhkan jalan yang luar biasa jeleknya. Dengan posisi no.3 dari iring-iringan, rasa kantuk yang luar biasa, serta jarak aman “pengereman” si Evie yang cukup lebar, membuat urutan no.3 selalu diperebutkan dengan mobil lain, walhasil si evie selalu keteteran mengejar dua grand livina di depannya. Dengan body bongsor, saya aga kesulitan untuk bermanuver atau take-over di jalan sempit.

Namun, rasa pegal dan jenuh diobati pemandangan yang luar biasa dari atas ketinggian.

Satu hal yang menarik, berkendara dengan Ford Everest, dengan ground clearance yang cukup tinggi, fuel tank capacity yang mencapai 70L, serta mampu menegak Biosolar…. maka ….. perjalanan panjang melewati jalur “jarang SPBU”, torsi yang memadai, paduan jalan mendaki, semi offroad, dan jalanan berlubang membuat berkendara jauh lebih nyaman dan tak perlu was-was lagi, bahkan selama berkendara saya tak perlu ancang-ancang yang cukup jauh ketika akan melewati jalan yang mendaki, sehingga membuat pengemudi lebih rileks. Dan dari hasil survey para penumpang…sejauh berkendara etape pertama ini tak ada keluhan berarti akan kenyamanannya….selain yang kadang “glodakan” .. hehehe

Namun yang menjadi kelemahan adalah tipe suspensi belakang yang berupa Rigid Leaf Spring with Stabilizer, membuat pantulan “ekor” si evie cukup berasa hentakannya. Karena tipe suspensi ini di design untuk bekerja keras, maka sejatinya untuk maximum load-lah barulah suspensi belakang bisa teredam “keganasannya”. Mengenai performa pengeraman, Ford Everest ini memiliki jarak pengereman yang cukup panjang, jadi perlu hati-hati dalam menjaga jarak dengan mobil di depannya. Maka motto “you can drive faster but we can go everywhere” sangat tepat disematkan kepada Ford Everest ini….(bukan promosi lho ya)

Pantai Selatan

Hari pun semakin gelap….singkat cerita, 10 km menuju penginapan di Little Hula-Hula di pantai sawarna, sajian jalan semi offroad di malam hari menemani perut keroncongan dan badan pegal tak sabar untuk sampai di penginapan. Walhasil, dengan menembus gelapnya malam melewati jalan yang rusak berat kami sampai di penginapan. Dengan fasilitas yang ada, saya rasa cukup sepadan dengan harganya. Namun yang menjadi catatan adalah jalan infrastruktur menuju pantai sawarna yang membuat saya sangat kecewa. Jalan yang tak terawat, sedikit penerangan dan rambu-rambu yang tidak jelas menuju lokasi pantai membuat kesan pantai sawarna yang konon surga yang tersembunyi tidaklah benar adanya.

Tapi diluar itu semua, marilah kita simak pemandangan di bawah ni….

Pantai Sawarna

Tujuan kami ke pantai selatan adalah melihat keganasan Samudra Hindia….

Raihanah Sawarna-2

Membuat si kecil bahagia adalah suatu tambahan ekstra dalam perjalanan kali ini…

Raihanah - sawarna

Mengeksplorasi rasa keingintahuannya mengenai “apa itu ombak”

Albanie & Raihanah 1

Karena kebetulan air lagi surut … maka ikan yang terperangkap di kubangan serta Ophiuroidea (bintang ular – red) yang malau-malu bersembunyi di balik karang menjadi daya tarik tersendiri duo kecil.

IMG_20150722_062923IMG_20150722_062820IMG_20150722_062826IMG_20150722_071454

Keceriaan si kecil setelah perjalanan panjang

 Sawarna - paddies fieldSalah satu spot favorit di sebelah penginapan

IMG-20150722-WA0011

Personnel yang sama ketika touring ke Garut

IMG-20150722-WA0024

IMG-20150722-WA0027

Grand-yut put tak mau ketinggalanmenikmati touring kali ini, di usia nya 78 tahun tak surut semangat untuk menjelajahi ujung selatan pulau jawa

Akhirnya menjelang tengah hari, kami harus berkemas, menuju destinasi berikutnya yang tak kalah menantang jalur nya ….

Membawa personel dengan rentang usia cukup besar menjadi tantangan sendiri, karena masing-masing usia memiliki kecepatannya sendiri dan caranya sendiri untuk menikmati suasana liburan…hehheh

 

Etape berikutnya berlanjut di  tulisan berikutnya

⇒⇐⇒⇐⇒⇐⇒⇐⇒⇐

Depok di pagi hari setelah diguyur hujan….

sebelum berangkat ngantor tentunya

Kenangan Terakhir Bersama si Oddy


Pagi yang cerah…udara yang hangat menyelimuti ….. tak kusangka ternyata hari itu adalah hari terakhir si Oddy menemani hari-hari keluarga mungilku. Duduk berjemur menghadap timur, elegan nan rapi…tampan dan pengantar setia. Sudah hampir 3 tahun si Oddy menemani, suka duka kami alami bersama. Si kotak berwarna perak elegan dengan mesin VTEC SOHC 16 valve berkapasitas 7 penumpang seberat 1.6 Ton dengan ground clearance 155 mm,sedang berbenah untuk menyusuri 3 hari perjalanan melewati selatan pulau jawa.

IMG_20140924_065350

 

Bukan pertama kalinya 65 liter tanki terisi penuh, terlebih ini perjalanan panjang. Dengan bagasi yang hampir terisi penuh, namun baris ketiga yang dipertahankan untuk kamar tidur si sulung ketika kelelahan dalam perjalanan.

Berangkatlah si Oddy di pagi buta menuju Bandung. Dengan bermalam di hotel Padma tuk melepas penat sekaligus untuk mempersiapkan fisik yang prima karena ini pertama kalinya kami sekeluarga melakukan perjalanan jauh, dan pertama kalinya bagiku sebagai sopir tanpa cadangan.

Semalam di Padma cukup memberikan nuansa sendiri bagi keluarga, dengan tarif yang tidak terlalu mahal, lokasi ini memang sebuah tempat “pelarian” yang ideal.

IMG_20140926_121212-EFFECTS

Sembari menunggu kamar disiapkan, tak ada salahnya sedikit leyeh-leyeh memanjakan diri

IMG_20140926_121934-EFFECTS (1)

Mengamati 2 peri kecil berlarian dengan antusias, cukup melegakan hati, bahwa perjalanan ini in sya Allah tidak sia-sia

IMG-20140926-WA0011

Melihat si bungsu terpana dengan air mancur di depannya, sesuatu banget kata orang bilang

Kami berencana menghabiskan malam di sini, sembari menikmati keheningan malam-nya Bandung, kasur dan bantal empuk, serta merasakan berendam di air hangat adalah menu utama keluarga kami. Sedikit memanjakan diri ….hmmm ini bukan sedikit tapi lebih tepatnya “banyak memanjakan diri”.

Tak terasa semalam di Padma sungguh singkat, pagi pun menyapa, kubuka Jendela kamar dan inilah yang kulihat

IMG_20140927_055209

Cahaya matahari masih malu-malu, kabut pun masih turun merendam suasana pagi di Hotel Padma. Si kecil masih pulas, kupaksakan langkah kaki malasku tuk menciduk air wudhu. Rencanya ingin berenang tapi setelah melihat uap dingin di atas kolam renang, pupuslah semangat 45 yang sudah di tanam seminggu sebelum berangkat, yaitu berenang sebagai pengganti olah raga pagi.

IMG-20140927-WA0002-EFFECTS

Oke…sampai di situ “leha-leha” di Hotel. Kami bergegas check out…dan tancap gas ke Garut … lebih tepatnya kota kecil Pameungpeuk via pangalengan, yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Teman seperjuangan touring kali ini telah menunggu di pintu tol. Baru kali ini kami bepergian jauh tanpa waze atau dituntun GPS, itu karena pemimpin perjalanan kali ini yang bisa diandalkan. Kami satu rombongan 3 mobil dan kami telah mendapuk kawan yang baru kami kenal dadakan sebagai pemimpin perjalanan.

Singkat cerita, jalanan meliuk berbatas dinding bukit dan jurang menjulang serta tanjakan yang membikin jantung berdegup kencang serta hamparan kebun teh di kanan kiri jalan menjadi teman perjalanan hingga 6 jam ke depan. Sesekali kami menepi sekedar tuk mengabadikan suasana perjalanan yang unik dan pemandangan yang elok. Tak kusangka si Oddy yang telah menginjak usia tidak muda lagi, dengan torsi 205.94 Nm) / 4800 rpm mampu meladeni tanjakan hampir 40 derajat dengan medan gravel dan sedikit jalan yang rusak.

IMG-20140930-WA0001

Timbul rasa kasihan terhadap si Oddy, karena sejatinya kendaraan ini tidak diperuntukkan untuk medan yang kami lalui. Namun kenyamanannya dan performanya yang prima membuat kami sekeluarga sangat menikmati berkendara di atasnya. Walaupun Istri tercinta sesekali mabuk perjalanan karena usia kehamilannya yang memasuki akhir semester pertema. Tapi rasa lelah dapat diredam dengan suspensi double wishbone untuk roda depan maupun belakang.

Singkat cerita, dengan modal HP Lenovo A 3000 tab seadanya, didapatlah kenangan sepanjang perjalanan seperti ini:

IMG-20140930-WA0002

Pangalengan view

Jenuh berkendara, kami mampir sekedar mengisi perut keroncongan di sebuah lokasi yang terletak di tengah sawah. Sementara jarum indikator bensin si Oddy menunjukkan 3/4. Tidak seperti dua mobil di depannya, si Oddy memang dirancang haus bensin, dengan kapasitas mesin 2,300 cc, kondisi tanki bahan bakar harus sesekali di tengok, terlebih melewati jalan antah berantah di daerah lintas Pangalengan dimana kami harus mengandalkan Pomini, alias Pom Bensin Mini.

Siang menyapa, perut sudah mulai keroncongan, akhirnya bisa menikmati sepiring nasi dan ayam bakar sembari melihat sawah memanjang nan luas itu …………………memang sesuatu bingitz 😀

IMG-20140927-WA0021

IMG-20140927-WA0015

Sepanjang perjalanan disugihi tikungan nan tajam, terkadang naik cukup terjal dan terkadang turun namun langsung berbelok arah. Bisa dibilang kemudi tak pernah terarah lurus kedepan, kalau tidak belok kiri ya belok kanan. Dengan tipe drive-train yang front wheel drive, tentunya urusan nanjak menanjak agak sedikit sulit bagi si Oddy. Terkadang kaki depan si Oddy selip menghantam jalanan gravel.

Perjalanan panjang nan melelahkan akhirnya terbayar ketika kami finish di check point pertama, yaitu Pantai Ranca Buaya. Hari menjelang senja, badan pegal tak karuan, mata ngantuk, tubuh lelah, akhirnya sedikit terbayar dengan suara deburan ombak mengalun indah. Kejadian unik ketika beratus ratus kilometer kami lalui menuju tempat ini, ternyata kami bertemu seorang kawan SMA dulu, dan ternyata kawan SMA ku adalah salah satu teman sekamar salah satu pemimpin rombongan touring…walah…dunia memang sempit…:D

Melihat di kejauhan silhouette dari anak-anak yang ceria bermain di tengah deburan ombak, suasana senja yang tenang, serta adzan maghrib yang sebentar lagi berkumandang, sungguh kombinasi peristiwa yang selalu aku impikan.

Senja di Ranca Buaya

Selalu teringat pertama kali bagaimana aku menatap langit senja, dan rupanya itu terulang, ketika si sulung terpukau akan langit senja dalam dekapan hembusan angin laut di senja hari.

Menatap Langit

Senja pun semakin matang, perlahan meninggalkan pantai selatan nan elok, dalam gemulainya hembusan ombak. Akhirnya inilah pemandangan terakhir yang sempat diabadikan.

Pantai Ranca Buaya

Hari mulai larut, jalanan kembali mulai tidak bersahabat. Hamparan jalan berkerikil terhampar di depan sepanjang 3-5 km, membuat bulu kuduk bergidik, karena tak ada satupun yang melewati jalan itu kecuali kami bertiga, apa jadinya kalau salah satu dari kami mengalami ban bocor…. aaahhh tak bisa dibayangkan.

Malam-pun mulai larut, sepi menemani, akhirnya kami sampai di penginapan. Badan lelah, mata perih, rasanya ingin kubayar tuntas dengan tidur lelap. Karena esok hari perjalanan pulang yang cukup panjang menuju Depok terbentang luas.

Oddy dan Rekan

Si Oddy bersama 2 rekannya. Walaupun usia nya tidak belia lagi, namun semangat juangnya melewati medan berat perlu diacungi jempol. Kami sekeluarga pasti sangat merindukannya saat ini. 😦

Nikmatnya perjalanan serta kendaraan yang baik, adalah bagian dari anugerah dari Allah ta’ala. Sangat bersyukur di tengah-tengah kesibukan, masih bisa menyempatkan diri untuk melihat tempat yang indah di sisi selatan pulau Jawa.

Menatap laut

Menikmati keindahan alam, merupakan hal yang “gratis” dan “mudah” bagi ayahnya dulu. Namun tidak buat kedua anakku, dimana hutan beton, dan pav block adalah tempat kehidupannya saat ini. Bersyukur masih bisa bertelanjang kaki menjamah pasir bersama.

Pemandangan

Salah satu pemandangan yang menampakkan rumah penduduk di tengah ladang padi, serta dikelilingi oleh bukit-bukit nan hijau. Sesungguhnya ini lah tempat impian ku ketika aku menghabiskan masa tuaku nanti.

When I Stood still against the wave vintage

Si sulung terpana melihat ombak menggulung beriringan, seperti ayahnya dulu 🙂

Akhirnya kisah perjalanan terakhirku bersama si Oddy harus berakhir di sini. Oddy … kami merindukanmu. In syaa Allah perjalanan berikutnya akan dilakukan dengan sesuatu yang ber-ground clearance tinggi, rear wheel drive, dan memiliki torsi di atas 300 Nm/rpm…..

De Javasche Bank – Riwayatmu Kini


Mendapatkan notifikasi tentang sejarah perbankan Indonesia, langsung teringat akan janji yang belum ditunaikan ketika mendapatkan kesempatan istimewa menjadi orang yang pertama kali (iya betul orang yang pertama kali) mengunjungi de Javasche Bank di tahun 2012.

Dan alhamdulillah tulisan saya mendapat banyak koreksi dari De javasche Bank Promotion Manager mba Kiki, dan insyaallah tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan.

Alkisah ketika saya dan sepupu saya hunting foto kota tua Surabaya. Di hari yang mendung dan hujan rintik – rintik, kami mulai menyusuri jalan di sekitar Jembatan Merah hingga terdampar di sebuah gedung kuno yang sudah tampak lebih cantik dibanding dengan gedung lainnya.

Jari mulai merekam setiap sisi luar gedung, hingga security penjaga gerbang dari sebuah gedung yang konon katanya ex. Gedung BNI dulunya menyapa kami (karena tampangnya mencurigakan kali yah… :D) ”sedang apa mas?….foto-foto ya? Silahkan masuk, mas boleh kok foto bagian dalamnya…” . Memasuki gedung kami langsung disambut dengan manajer Museum yang bernama mas Ahmad untuk ditawari berkeliling museum. Dari penjelasan yang beliau sampaikan, dengan cukup antusias, mencerminkan dedikasinya untuk menggawangi gedung De Javasche Bank ini.

Sang manajer Museum berkata pada kami bahwa gedung ini baru diresmikan menjadi Museum beberapa hari yang lalu, namun tidak semua orang tahu, dan kami lah yang pertama kali mengunjungi museum ini …. Senang bukan kepalang tentunya, ….. dan saya berjanji untuk memposting tulisan ini untuk beliau … sang “Museum Keeper” 😀 (mohon maaf tulisannya baru muncul 2 tahun kemudian karena suatu hal).

Bercerita tentang sejarahnya,saya kutipkan hasil koreksi mba Kiki berdasarkan Gedenkboek, pembangunan gedung De Javasche Bank di Surabaya adalah pada September 1829. Gedung yang dibangun pada 1828 adalah Kantor Pusat yang ada di Jakarta. Pada hakikatnya, De Javasche Bank diberi kewenangan tidak hanya untuk mencetak uang (info ini masih akan beliau kaji lagi), melainkan juga untuk menyimpakan dan untuk menyediakan kredit bagi perusahaan-perusahaan”. Prakarsa pembangunan javaschee Bank ini adalah untuk mencetak mata uang Indonesia dengan presiden direktur yang pertama kala itu adalah Chr. de Haan.

Gambar 1. Beginilah gedung Javasche Bank yang diperkirakan awal 1900-an

jiunkpe-ns-mmedia-1915-na00001-20-javasche_bank-resource11

 Gambar 2. Salah Satu Pecahan Mata Uang yang Dikeluarkan Javasche Bank

Javasche_bank

De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud, dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij, Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies. Menurut sumber yang terpercaya (Mba Kiki – pen) dia mengatakan “Octrooi bukanlah hak, menurut pengertian saya. karena octrooi itu semacam undang2 atau amandemen”

Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota. Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J. Smulders.

Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, serta sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.

Gambar 3. Beginilah gedung Javasche Bank yang sempat saya potret di tahun 2012

de javasche bank 2013

Oke deh … kembali ke tempat dimana saya berpijak kala itu, kami masuk ke gedung dan diarak menuju lantai paling bawah. Kesan pengap dan lembab langsung menyergap. Sang manajer museum De Javasche Bank menunjukkan foto-foto kondisi bawah tanah sebelum di renovasi. Tak tahan rasanya melihat foto-foto de Javasche Bank sebelum di konservasi, bagaikan rumah hantu bak uji nyali. Ia pun berkata, bahwa ruangan bawah tanah ini dulunya terendam air hamper selutut orang dewasa yang berasal dari system drainase sekitar yang dikarenakan pompa air ruangan bawah tanah yang tidak berfungsi.

Berbicara bangunan kolonial, tak lengkap rasanya berbicara mengenai gaya arsitekturnya. Dan ternyata setelah saya menyelusuri salah satu paper yang dibuat oleh salah satu mahasiswa Petra, dan rupanya di kutip di buku panduan Museum yang dihadiahkan mas Ahmad kepada saya (terima kasih sekali mas Ahmad atas kebaikannya). Dikisahkan  bahwa gedung ini memanglah dibangun di tahun 1828 tetapi dipugar di tahun 1910 dan dibangun kembali di lokasi yang sama dengan gaya arsitektur Neo Renaissance atau gaya Elektisisme. Tidak tanggung-tanggung pengerjaannya langsung dibawah biro arsitek terkemuka Hindia Belanda yang didirikan oleh Eduard Cuypers, Marius J. Hulswit bersama A.A Vermont. (namun statement ini masih disangsikan kebenarannya dan masih diselidiki oleh pihak Museum Javasce Bank)

Akan tetapi menurut informasi terakhir dari mba kiki selaku person in charge dalam memberikan informasi yang sesuai, beliau mengatakan gedung De Javasche Bank mengalami renovasi sekitar tahun 1920an. Semua ruang digeser dan dirubah tanpa merubah kolom bangunan. bahkan posisi pintu pun digeser, yang semula ada di pinggir, digeser menjadi di tengah. Menurut kawan saya, pintu putar yang sekarang berada di gedung baru menjadi trend di Amsterdam sekitar tahun 1922. Jadi kami berasumsi bahwa pemugaran gedung terjadi setelah tahun 1922. Gedung tersebut digunakan Bank Indonesia pada tahun 1953/54, dan menurut Kepala Humas Bank Indonesia, pada waktu digunakan Bank Indonesia, posisi pintu sudah seperti sekarang, juga sudah ada penambahan ruangan untuk ruang kepala cabang, dan 2 bangunan tambahan. Jadi kami berasumsi, semua pemugaran itu dilakukan pada jaman Kolonial” .

Beliau suga menambahkan dan mengenai lantai, bersama dengan kawan saya (cucu dari kepala cabang terakhir De Javasche Bank), kami mengkaji denah gedung, lantai 1 dan basement, pada tahun 1910 dan menemukan bahwa lantai tidak diubah. bahkan, warna ubin menunjukkan bagian-bagian dari ruangan lantai 1. ubin berwarna hitam merupakan tempat partisi diletakkan untuk membagi hall menjadi beberapa ruangan kecil untuk kantor kepala cabang (tepat di tengah2 ruangan di bawah strain glass), ruang asisten teller, ruang administrasi pembukuan, ruang kliring, ruang teller, dan ruang (yang kami asumsikan) sebagai tempat pertemuan pimpinan perusahaan dengan kepala cabang dalam proses pengajuan kredit, 1 ruang khusus disediakan bagi nasabah yang bertransaksi dengan jumlah besar, sedikit ruang untuk jalan di dekat dinding, dan ubin berwarna abu-abu merupakan ruang publik dimana nasabah menunggu giliran untuk dilayani”.

Khusus desain Javasche Bank ada tiga komponen menarik yang wajib dibahas. Pertama adalah fitur klasik berupa pilar yang tetap dihadirkan namun berubah fungsi. Pilar kekar itu di”slempit”kan kedalam tembok dan menjadi dekorasi. Kesan angkuh berwibawa tetap hadir namun kesan bangunan lebih segar dan jauh dari kesan  jiplakan. Pilar-pilar yang menyusup kedalam tembok ini banyak kita temui di gedung-gedung bergaya Second Empire (1850-1880).

Kedua adalah bentuk atap yang merupakan modifikasi  bentuk atap yang pernah populer di Perancis abad ke-17. Atap ini kemiringannya hampir vertical dan disebut atap Mansart, nama arsitek Perancis Francois Mansart (1596-1666) yang menciptakannya. Gaya atap ini juga dipakai lagi oleh arsitek-arsitek Second Empire.

Ketiga adalah ornamen Hindu Jawa yang tidak mungkin terlewatkan mata, yang menghiasi eksterior gedung. Ornamen ini sepertinya dimaksudkan untuk memberikan cita-rasa lokal pada bangunan model baru ini.  Bandingkan bangunan di Surabaya sebelumnya yang bergaya Eropa dan ornamen local nya absen. Sempat sekilas membaca salah satu paragraf di buku panduan Museum, bahwa rancangan gedung ini dikritik oleh beberapa pengamat arsitektur karena tidak cocok dengan iklim tropis indonesia (sampai saat ini saya belum paham betul apanya yang salah…. hehhe…maklum bukan Arsitek)

Gambar 4. Beginilah Foto Javasche Bank Ketika Pertama Kali Didirikan (Sumber : KITLV) – Bandingkan dengan gambar yang pertama

242d5f76-35bb-43c0-91f4-fee099faed80

 

Beberapa gambar di bawah adalah penampakan ruang bawah tanah yang sempat terekam kamera. Hampir semuanya peninggalan Bank BI di era-era awal sebelumnya bukan peninggalan Javasche Bank sendiri. Ruangan bawah tanah dijadikan gallery peralatan-peralatan Bank, serta replica emas batangan. Dari segi design, dsign bangunan di bawah tanah dirancang sedemikian rupa sehingga aman dari pencurian. Tampak cermin di setriap sudut lorong yang sekaligus bisa melihat di setiap lorong-lorong di sisi sebelahnya. Bagaikan CCTV semua aktivitas di sepnajang lorong dapat terpantau melalu cermin yang membuat bayangan bisa dipantulkan oleh pengawas.

Gambar 5. Lorong – Lorong di Lantai Bawah Tanah

Corridor - underground

Berkeliling di ruang bawah tanah (yang memang ahlinya orang londo untuk membuat sesuatu yang lebih rendah dari permukaan bawah laut), kami menyusuri lorong2 penyimpanan atau brankas uang, emas ataupun surat berharga. Dari pintu brankas tampak pembuat brankas yang ternyata perusahaan itu “masih hidup” sampai sekarang. Yaitu LIPS Brandkasten yang bermarkas di Dordrecht di Belanda. Uniknya LIPS Brankasten ini adalah sebuah perusahaan keluarga yang didirikan sekita tahun 1847 dan tetap eksis sampai sekarang.

Bisa dibayangkan perusahaan yang panjang umurnya….itu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa bangunan colonial itu umumnya awet dan berikut para supplier bangunannya yang umumnya bisa di tracking hingga saat ini. Bahkan untuk urusan perusahaan pembuat Grendel pintu.

Gambar 6. Salah satu benda-benda yang dipamerkan di ruangan bawah tanah termasuk emas batangan tiruan

de Javasche Bank Gallery - 3 de Javasche Bank Gallery - 1

Gambar 7. Logo LIPS Brandkasten Yang Tampak di Brankas Bawah Tanah

Deposit box symbol

Deposit box 2

Gambar 8. Bandingkan Dengan Yang Ini (bisa di lihat disini sejarahnya)

Etablissements_Lips_SA_-_Bruxelles

Gambar 9. Salah Satu Brankas di Lorong Bawah Tanah yang dibuat oleh LIPS Brandkasten

Info yang saya dapat bahwa setiap Hollandsche yang berkunjung di De Javasche Bank bercerita bahwa hampir semua rumah di Belanda menggunakan produk buatan Lips untuk kunci dan gembok. salah satu pengunjung pernah bekerja di Bank, dan dari beliau saya dapat informasi brankasnya juga buatan Lips.

Deposit box

Baiklah, setelah kita melihat gedung dari luar – bawah tanah, akhirnya saya naik ke permukaan….sempat menghela nafas karena saya melihat gaya arsitektur yang masih dijaga dengan baik, dengan konsep konservasi yang dikerjakan dengan teliti.

Gambar 10. Suasana Kantor Kala Itu (Sumber : Tropen Museum – Wikipedia)

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_van_de_Javasche_Bank_in_Soerabaja_TMnr_10015466 COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015475

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015474

Gambar di atas disangsikan interior Javasche Bank Surabaya (namun saya belum mendapat bukti yang kuat, karena foto-foto saya ambil dari KITLV)

Gambar 11. Suasana Interior Saat ini (Diambil tahun 2012)

de javasche bank interior 3 de javasche bank interior

Gambar 12. Wong Fei Hung sedang ambil kredit cicilan 0% (hehehe..kalau ini bercanda) sumber : Wikipedia

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_loketten_van_de_Javasche_Bank_te_Batavia._TMnr_60002647

Gambar 13. Lokasi Teller saat ini (Perkiraan saya gambar di atas bukan di gedung utama karena lantai yang masih terbuat dari kayu, akan tetapi di gedung sebelah yang saat ini telah dipugar)

Bilik Nasabah

Mata ini tak henti-hentinya mengamati sekeliling, seolah berada di Javasche Bank jaman dulu, pantas saja gedung Javaschew Bank ini mendapatkan nominasi Surabaya Tourism Award dari Pemkot Surabaya dan masuk dalam salah satu destinasi Surabaya HeritageTrack yang dikelola House of Sampoerna.

Konservasi yang teliti dan mendetrai ditandai dengan meniru pola cat di pilar nya. Gambar pertama adalah pola hasil rekonstruksi dan pola cat di pilar bawahnya adalah versi aslinya.

Gambarf 14. Motif di Pilar Penyangga Gedung

Motif pilar renewed

Motif pilar original

Setelah panjang lebar berbicara di lantai utama, kami diajak naik ke attic, sebuah ruangan antara atap dan plafon. Menurut penjelasan mas Ahmad, ruangan ini paling tidak favorit, sepi dan tak ada orang yang mau berlama-lama di ruangan ini 🙂

Gambarf 15. Attic – tempat menyimpan arsip dan berkas-berkas

Attic

Setelah puas berdiskusi, kami diajak ke kantor dan dihadiahi sebuah buku lengkap tentang sejarah ghedung Javasche Bank serta metode konserevasinya. Satu hal yang selalu menarik bagi saya, setiap kali berkunjung ke bangunan tua adalah sejarahnya ….. karena dari sejarah kita dapat berkhayal sembari mengambil manfaat akan apa yang pernah terjadi di jaman lampau. Termasuk tulisan yang saya buat ini, mudah-mudahan memberikan jejak manarik untuk mengingat gedung Javasche Bank

SEKIAN

**************

Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada

– Mas Ahmad yang sangat antusias menyambut kami dan sabar menunggu laporan perjalanan kami

– dek Detta yang sudi menemani dan penunjuk jalan selama saya di Surabaya, walaupun hujan tetap semangat berburu kisah-kisah kota tua di Surabaya

– Angkita Wasito Kirana – Promotion Manager yang sudah sudi merevisi dan mengkoreksi isi tulisan saya. Saya apresiasi dedikasinya untuk mengggali terus sejarah gedung ini

Senja di Fremantle


Fremantle Sunset 2

Tak ingin memejamkan mata cepat-cepat, ketika musim panas masih di penghujung musim. Kecerian dalam canda tawa bersama sahabat lama tak ingin kulepaskan begitu saja. Namun hari itu ternyata hari terakhir, secepat kami melupakan bagaimana rasa rendang yang telah lolos dari pemeriksaan di Bandara Perth

Hari itu di Fremantle, di akhir perjalanan,  berenang dalam silhouette dibawah sinar senja yang keemasan.

Mata ini tak pernah lepas dari lingkaran keemasan yang makin lama turun ditelan dalamnya samudra pasifik, sementara hati ini penasaran ingin melihat sorot lampu mercusuar di kejauhan yang akan menuntun kapal-kapal “yacht” yang akan bertengger. Nampaknya angin memang ingin memeluk silhouette lebih dalam dan lama lagi.

Sunset at Fremantle

Tak terdengar suara riak air di tepi pantai, namun pasir tak kan berbohong, satu persatu ombak itu jatuh, entah yang keberapa kali … ku tak bergeming tuk selalu melihat lingkaran kuning cerah turun tenggelam.

Tenggelam di Fremantle. Seolah senja ini tertulis di atas awan dan tentunya ini anugerah terindah bagiku yang memanglah mengagumi senja sejak dulu.

Seolah sekali dalam seumur hidup….kuingin menyaksikan sekali lagi……………..dan lagi

 

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

In the place where the water meet the sky

The sun may go down but at the end of the day

The flaring shades of love will always have to stay

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

“It’s almost impossible to watch a sunset and not dream” – Bern Williams

IMG_2955

 

Someday …..

you will find the one who will watch every sunrise with you

until the sunset of your life

*******

Sebuah Taman Bernama Taman Bunga Nusantara


Malam yang sibuk ditutup dengan rampungnya bumbu nasi kuning….terbayang nasi kuning, perkedel dan berbagai macam lauk yang mengepul-ngepul di tengah hamparan daun teh. Ternyata malam yang sibuk itu pun menggeret penghuni rumah yang terbangun kesiangan. Begitu langit mulai tampak kontras dengan atap-atap, membiru cerah… “Astaghfirullah…shubuh udah nyaris lewat…”  lantas kami berlarian tunggang langgang.

Setelah situasi mulai nampak terkendali…dan semua siap….ternyata tutup tangki power steering mobil terjatuh ke bagian bawah dek mesin …“what a time….” di tengah suasana yang hectic akhirnya aku tiduran terlentang di atas aspal mencari dimana tutup itu terjatuh…walhamdulillah tidak membutuhkan waktu lami, aku duduk di ruang kemudi dan semua anggota keluarga di dalam mobil duduk dengan manis….bak pilot pesawat kami menanyakan kesiapan para penumpang…

“seat belt ?…”check!!

“kamera ? ….”check!!

“HP & kunci rumah ? … “check!!

“nasi kuning dan lauk-pauknya? … “check

Istri menimpali … “Jam Tangan ga lupa?!! … aku jawab “sudah” Sudah melingkar di pergelangan tangan … 

Jalan berkelok naik turun…kebun teh membentang di sebelah kanan-kiri sepanjang perjalanan….aku buka jendela mobil kanan dan kiri beserta sunroof…walhasil angin sejuk pagi hari mengalir deras ke sudut-sudut kabin….dan tak satupun ruangan dalam kabin mobil yang tak merasakan sejuk dan segarnya udara pegunungan kawasan puncak pagi hari.

Tak lama kemudian perut keroncongan …. terbayanglah bekal nasi kuning buatan istri, wangi dan aromanya seolah bocor keluar thermos nasi di bagasi belakang menuju ruang kemudi,,,,yap…kubanting setir ke kanan, kami memasuki kawasan gunung mas untuk sarapan….karena istri sedang hamil 8 bulan (kala itu), aku mengesampingkan keinginan untuk menyusuri jalanan mendaki diantara kebun teh…udara sejuk meyapa, panorama gunung di kejauhan nampak begitu indahnya, dan dalam sesaat mobil disulap menjadi mobil karavan wisata, dengan berbagai macam bekal makanan tersaji di dalam mobil….kami makan dengan lahapnya…(karena memang belum sarapan). Agrowisata Gunung Mas ini dikelola oleh PTPN VIII Gunung Mas yang merupakan peninggalan kolonial Belanda…seperti biasa…aku suka banget yang berbau-bau peninggalan penjajah….

Tak lupa kami melihat proses pengepakan teh Walini…dan membeli satu-dua kotak teh….penasaran akan rasa teh yang satu ini..!!!

Namun ini bukan akhir cerita … perjalanan nan rumit berikutnya membawa kami ke agenda utama perjalanan kali ini….yaitu.. TAMAN BUNGA NUSANTARA…setelah bertahun-tahun penasaran (sebenernya ga sampai tahunan siih..heheh) akhirnya setelah melewati jalan yang sangat tidak meyakinkan bahwa itu satu-satunya jalan ke lokasi, kami tiba dengan selamat….setelah memasuki lokasi….waaah alhamdulillah…mata ini sedikit terobati oleh indahnya bentangan bunga sekaligus warna-warninya…walaupun aku lelaki namun indahnya bunga dan berbbagai ragam warnanya tak pelak membuat tanganku tak kuasa mengabadikannya….sila dinikmati pemandangannya

Lampu di salah satu sudut di tepian jalan Taman Bunga Nusantara

Lampu di salah satu sudut di tepian jalan Taman Bunga Nusantara

Menikmati bagaimana angsa hitam berenang kesana kemari...jadi pingin ikut nyelam...eehh

Menikmati bagaimana angsa hitam berenang kesana kemari…jadi pingin ikut nyelam…eehh

Berbaris....

Berbaris….

Di salah satu sudut taman Amerika....membayangkan halaman rumah menyajikan nuansa romantisme seperti ini

Di salah satu sudut taman Amerika….membayangkan halaman rumah menyajikan nuansa romantisme seperti ini

It's OK to be unique

It’s OK to be unique

Twin Roses

Twin Roses

Di salah satu area di Taman Bunga Nusantara

Di salah satu area di Taman Bunga Nusantara

Air mancur yang menari ...

Air mancur yang menari …

Lokasi favorit kami sekeluarga

Lokasi favorit kami sekeluarga

Di tengah terik matahari yang cukup panas...berteduh di depan air mancur merupakan ide yang patut dicoba

Di tengah terik matahari yang cukup panas…berteduh di depan air mancur merupakan ide yang patut dicoba

Di salah satu sudut sebelum memasuki taman utama

Di salah satu sudut sebelum memasuki taman utama

Di tepian jalan di taman Meksiko

Di tepian jalan di taman Meksiko

Masih di tepian jalan di Taman Meksiko

Masih di tepian jalan di Taman Meksiko

....again...

….again…

Di taman Amerika

Di taman Amerika

Bunga Matahari di Taman Amerika

Bunga Matahari di Taman Amerika

Saat memasuki taman bunga ini…kita akan disuguhi oleh merak raksasa yang terbuat dari bunga…dengan berbagai macam bunga yang menjadi hiasannya. Tidak jauh dari merak raksasa ada jam raksasa yang cukup besar yang bisa dilihat dari pintu masuk…sayang karena keterbatasan yang ada tidak semua spot menarik bisa aku sajikan.

Setelah melewati suguhan awal yang menggoda, lantas kita disuguhi koleksi taman bunga yang bersifat tematik, ada taman Meksiko, taman Perancis, taman Belanda, dan beberapa taman dari mancanegara.

Dengan tiket masuk yang ramah di kantong (kalau tidak salah Rp.25,000 untuk kendaraan mobil), perjalanan tak lebih dari 2 jam dari rumah kediaman kami, rasanya ini adalah tempat hiburan yang layak untuk dipertimbangkan, terutama yang telah memiliki keluarga dan anak kecil yang suka berlarian. Karena tempat ini dilengkapi area permainan untuk anak-anak, selain lapangan bola nan hijau, serta mainan miniatur untuk anak-anak seperti Go Kart, Train dsb

Taman bunga ini didirikan tahun 1995 dengan Ibu Tien Soeharto yang menjadi pelopornya. Taman Bunga Nusantara ini selain untuk rekreasi juga dijadikan tempat uji coba tanaman-tanaman baru yang nanti nya mungkin bisa dibiakkan secara lokal di daerah ini. Namun ada satu hal yang menjadi sorotan adalah akses ke lokasi Taman Bunga Nusantara, ketika melewati jalan-jalan di daerah Cipanas hampir disepanang jalan kita akan dimanjakan oleh berbagai macam penjual tanaman berbunga maupun non bunga. Jalan nya cukup sempit dilalui dan sedikit rusak karena sepertinya tidak dirancang sedemikian rupa untuk dilewati oleh kendaraan besar, sehingga penuh lubang di sana-sini. Sebaiknya para pengendara harus lebih berhati-hati untuk menuju ke sini, karena bahkan Bus pariwisata pun ternyata menempuh alur yang sama.

Akhirnya ketika hari beranjak siang, kami duduk di salah satu tenda makan di dalam lokasi, karena udara kala itu cukup terik, minuman teh dingin sedikit menghilangkan rasa haus setelah berkeliling ria menikmati indahnya taman bunga. Hingga akhirnya kami harus beranjak pulang kembali ke rumah. Sungguh pengalaman yang bagus buat si kecil yang bisa berwisata sambil belajar mengenal bunga.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Selamat Berlibur…

Pagi hari yang cerah menikmati hangatnya matahari di tengah cuti karena sakit

sehari sebelum libur panjang

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Dari sebuah jendela di udara…


Selalu gelisah tatkala pesawat telah mengurangi kecepatannya … pertanda sebentar lagi akan mendarat. Kepalaku selalu sedikit miring ke kiri…lekat ke jendela kabin tempat duduk urutan No. 1. Sang pilot sudah memberikan notifikasi bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Ngurah Rai International Airport. Sementara lamunan sudah tak sabar ingin menjejakkan kaki dengan segera di Perth – Western Australia.

5 Menit sebelum pengumuman oleh sang pilot mengenai pendaratan pesawat di Bali, sang Pilot memberi informasi melalui kokpit nya bahwa para penumpang di baris kanan bisa melihat gunung Bromo. “yaaahhh….aku kan di kursi sebelah kiri..”  padahal tangan ini sudah siap dengan kamera.

Setelah melalui awan nan menawan dan mengambil beberapa gambar cantik akan indahnya pulau Jawa dari atas…tugas selanjutnya melihat kampung halamanku dari atas……dalam waktu sepersekian menit kepalaku memandang hamparan daratan luas dari ketinggian lebih dari 3000 kaki. Mendadak aku menjadi orang yang paling terlihat bingung di dalam kabin…karena kepala ini menoleh kesana kemari dari sebuah jendela mungil tuk sekedar melihat tampak atas kota Situbondo-ku dari atas…namun dari atas sana semua tampak sama…hingga…..

Hingga aku melihat sebuah asap putih mengepul dari sebuag kawah dari sebuah gunung yang …dalam beberapa saat aku tertegun melihat keindahannya… yang entah gunung apa gerangan itu. Kuamati daerah di sekelilingnya…adakah kampung terdekat di kaki gunung itu? ternyata tak banyak pemukiman dekat puncak yang mengepul itu.

Aku pun seolah terbangun dari mimpi…melihat lokasi dan bentang geologis nya … ahh itu Gunung Raung yang dulu pernah meletus tahun 1915 dan pernah diberitakan pernah meletus tahun 1586 dan sekitaran 1800-an….. Alhamdulillah bersyukurnya aku karena sedari kecil aku ingin tahu sosok gunung yang satu ini. Berikut sosok gunung nan menawan itu tempoe doeloe – diambil dari KITLV (thanks to KITLV digital media & the photographer)

Goenoeng Raoeng

Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute

Source : Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute

Setelah menghela nafas … Alhamdulillah akhirnya fotomu kini kuabadikan … walau tak banyak cerita akan kekehidupannya akan gunung yang memiliki tinggi 3,332 meter di atas permukaan laut. Berharap suatu saat aku bisa mendakinya … aamiin

abualbanie.wordpress.com

Raung volcano view from south-east

Raung mt view from south

Raung mt view from south

Orang lebih banyak mengenal kawah Ijen, Bromo atau bahkan Semeru tak banyak yang bisa bercerita mengenai gunung yang satu ini. Karena saya bukan ahli volcano atau Geologi, akan tetapi kawah Ijen, Bromo atau Semeru adalah gunung berapi yang bersaudara…dalam artian proses pembentukan serta usia nya tak jauh terpaut lama dengan Volcanic Explosivity Index yang cukup besar (moderate – very large).

Akhirnya …. harus kurelakan pemandangan Raung nan mempesona tatkala selat Bali mulai nampak

Bali Strait in the morning

Bali Strait in the morning

↔↔↔↔↔↔