Dan Senja pun berlalu…..


P_20161227_052323 pagi

“Banyak orang yang menangisi masa lalunya

dan rindu untuk kembali ke masa-masa itu.

Tapi mengapa kita tidak berfikir untuk memperbaiki hari ini..

…..sebelum ia menjadi masa lalu…?”

– Syaikh Ali Musthafa Thantawi rahimahullah –

Dan senjapun pergi…
Cepat atau lambat kita akan menjadi masa lalu…

(Ust. Aan Chandra Thalib – ACT El-Gharantaly)

Advertisements

Duhai putriku ….


Raihanah abualbanie

 

Duhai putriku…

Aku tahu ini tak akan semudah yang engkau pikirkan

Putriku… engkau memang bukanlah putri raja arab ataupun orang arab… namun berhijablah

Putriku… Ayah mu pun bukanlah raja arab… namun berhijablah

Putriku… Aku pun demikian… bukan orang arab tapi akupun berhijab… sama sepertimu

Dan yang kutahu kau dan aku berhijab bukan karena meniru orang arab..

Yang kutahu Tuhanku dan Tuhanmu… Allah ‘azza wa jalla memerintahkan demikian

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Walaupun suatu saat nanti… jangankan satu putri Arab yang enggan berhijab… seluruh wanita di dunia enggan berhijab… kuharap hanya engkau putriku tetaplah demikian dengan hijabmu… karena cintamu pada Rabb mu dan Rasulullah di atas segalanya

Karena Rasul kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada ummat nya

“………Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian…..” [HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”]

“Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

#catatan Ummu Albanie untuk putrinya Raihanah

Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer


Alone Little Girl

 

“When life gives you lemon, you will make a lemonade”

….be grateful of what you have,

….utilize what you have,

….and make it to the greatest thing you can enjoy and share with

“The heart will rest and feel relief if it is settled with Allah ta’ala and it will worry and be anxious if it settled with people”

** Ibn-Qayyim **

Mimpi itu…..


Bamboo Chair

 

Di suatu hari di penghujung pagi, aku memandang penghujung langit melalui jalan setapak yang seolah tak berujung. Sebuah kursi bambu dibangun seadanya, namun tampak kokoh di bawah pohon rindang. Di sinilah umumnya para petani beristirahat sejenak sebelum pergi……berpeluh, penuh lumpur, lelah,, walaupun sejuk rindangnya pohon cukup menggoda namun tak seorangpun ingin berlama-lama duduk di kursi bamboo di bawah pohon rindang itu….

Sang petani tahu benar bahwa kursi di bawah pohon nan rindang itu bukan tujuan akhirnya, walaupun terbentang di hadapannya ladang jagung dan padi, ditambah indahnya pemandangan dan segarnya udara pagi kala itu.

Begitu pula aku…… tak kan berlama-lama terbuai dengan pemandangan eksotis dipadu dengan sunyinya pagi kala itu, karena dalam hitungan jam aku akan kemabli ke Jakarta.

Dan semua yang aku alami pagi itu, seindah apapun,…. hanya akan menjadi serpihan-serpihan memori bak mimpi, yang akan hilang ketika “terbangun”

Begitu pula kehidupan di dunia ini…….segemerlap apapun cita-cita yang diperoleh ataupun harapan tertinggi yang telah tercapai, kelak akan menjadi mimpi ketika kita terbangun…..

Ya….

Ketika kita terbangun di alam dimana kehidupan sesungguhnya akan dimulai

 

Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah, berkata : “tidaklah dunia ini seluruhnya dari awal hingga akhirnya kecuali ibarat seseorang yang tertidur sejenak, kemudian terbangun. “Makna tersebut diambil dari sabda Nabi sallallahu’alaihi wasallam: Tidaklah aku di dunia ini melainkan (hanya) seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon lalu beristirahat dan kemudian meninggalkannya (pohon tersebut).” (HR. At-tirmidzi no. 3277)

Ketika aku cemburu padanya


Bismillah,

Akhirnya bisa mengisi laman kosong lagi sembari mengatur nafas di sela-sela kesibukan. Cerita-cerita hari mengisi lembaran-lembaran yang entah akan terbaca kembali atau tidak. Roman-roman tentang keluh kesah manusia di awal bulan Juni sepertinya tak ingin beranjak dari pikiran, bahkan tadi siang pun kami belajar mengenai cinta akhirat dan kisah senda gurau nya kehidupan duniawi. Bahkan pertanyaan dari seseorang di Majelis yang sempat menjadi bahan diskusi seru mengenai sejauh apa kita harus bersikap “zuhud” dan apa batasan-batasannya sehingga kita bisa dikatakan zuhud terhadap dunia. Rupaya seorang penanya tadi siang yang berkumpul bersama kami adalah seorang pengusaha besar yang hari-harinya disibukkan dengan urusan bisnis nya, dan rupanya ia terusik mengenai makna “meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat”. 

Vintage

Baiklah kita lupakan kejadian tadi siang…karena sesungguhnya ada kisah yang mengantarkanku pada khayalan tingkat tinggi…hingga aku cemburu pada seorang pria ….. seorang manusia yang Rasulullah pernah berkata “Sesungguhnya Julaibib ini sebahagian daripada aku dan aku ini sebahagian daripada dia”….kisah cintanya sungguh membuat kaum lelaki cemburu padanya hingga hari berbangkit

……………….Berikut kisahnya……………….

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya.

Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.

Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.

Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas.

Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.

Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib:

”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi.

Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad.

Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.

Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.

Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib.

Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.

”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.

”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya.

”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”
Nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat.

”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?” isterinya berseru.

”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran…”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun.

”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”

Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini:

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata…”
(QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah:

”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah…”

DOA YANG INDAH

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya.

Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib.

Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka.

Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala.

Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi.

Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya.

Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu.

Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga.

”Ya Allah”, lirih Sang Nabi:

”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak!

Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak.

Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita.

Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat.

Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaati-Nya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya.

Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama.

Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya.

Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.

Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya.

Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran:

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak, Ya Rasulallah!”

Serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang…?”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!”

Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya…

“Tetapi aku kehilangan Julaibib…” kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. BeliauShallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi.

Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia.

Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib.

Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit:

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

…Ya………………………..

Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

Adakah yang SALAH ?


Malam pun kembali datang…..tak sempat Sholat maghrib di rumah…akhirnya masjid tak jauh dari kantor menjadi tempat peraduanku…seolah tubuh yang panas luruh mendingin seirama dengan mendinginnya keringat sembari berdiri terpaku menunggu muadzin menyelesaikan Adzan…

Hati terasa sejuk….nan sunyi

Biru nya pagi berganti sendu mengharu biru maghrib….tiap hari hidup bak roti sandwich yang hanya terpusat tidak pada dua potongan roti…terlalu peduli apa yang diantara nya. Akan tetapi yang kutahu hanya dua lapis kehidupan….Shubuh dan Maghrib dimana lembaran buka-tutup yang lebih tampak ketimbang hiruk-pikuk siang hari sebagai isinya.

Selepas berdzikir….sampailah di rumah….begitu pula sampailah nasehat dari seorang teman …. bait-bait hurufnya kubaca sembari menikmati waktu untuk tak tergesa-gesa bangkit dari posisi terbaik yang berupaya meluruskan badan dan meregangkan otot yang kaku, mengklaim kembali nafas yang tersengal …

begini kutipan nasehat itu …………………….

sunset

Dulu…….

orang tua kita berangkat bekerja setelah matahari terbit & sudah kembali ke rumah sebelum matahari terbenam…

Walaupun memiliki anak yang banyak, rumah & halaman pun tetap luas.., bahkan tidak sedikit ada yg memiliki kebun & semua anak-anaknya bersekolah…

Sekarang…..

Banyak yang berangkat kerja Shubuh bahkan sebelum Shubuh & sampai rumah tengah malam…..
Kerja keras yang dijalani melebihi jam kerja orang-tuanya tapi rumah & tanah yang dimiliki tidak seluas rumah orang-tuanya, bahkan banyak yang takut memiliki anak banyak karena takut kekurangan…

Ada yang salah dengan cara hidup orang modern…

Orang tua kita hidup tanpa banyak alat bantu tapi tenang menjalani hidupnya…
Sementara kita yang dilengkapi dengan :

pampers..,
mesin cuci..,
kompor gas,
HP,
kendaraan,
eMail,
FB,
BB dll

yang seharusnya sangat mempermudah hidup ini tetapi tetap saja kerepotan…
Sampai-sampai tidak sempat menikmati hidup karena semuanya dilakukan terburu-buru…

Berangkat kerja..,
TERBURU-BURU….
Pulang kerja..,juga
TERBURU-BURU….
Makan siang..,
TERBURU-BURU..
Dilampu merah..,
TERBURU-BURU..
Bahkan ber DOApun..,
TERBURU-BURU..

Hanya MATI..,
yang tdk seorangpun mau TERBURU-BURU..
Saking takutnya akan kurangnya harta untuk keluarga sampai-sampai dalam hati kita ada HITUNGAN dalam MEMBERI.., sementara ALLAH ta’ala tidak pernah perhitungan dalam memberi nikmat kepada kita..

Sampai dimanakah hidup kita pada HARI INI..?

Rasanya pantas untuk kita renungkan kembali……

**♥♥♥**

Menikmati Sangat Malam Sabtu

Sebelum Hari Terburu-buru

**♥♥♥**

Jangan Pernah Menyepelekan Doa


Hari telah larut untuk seorang ayah yang ingin menikmati canda tawa si kecil menyambut kedatanganku. Kepala ini masih penuh dengan segala seluk beluk masalah pekerjaan dan kehidupan. Tubuh dan pakaian pun seolah melekat jadi satu bersama kulit yang basah oleh keringat sementara lutut yang lunglai seolah kaki tak mampu berjalan. Sedih tak bisa dielakkan dari senyum wajah yang terpaksa dengan segenap permasalahan yang melekat di hati.

Setiap kali menemui persimpangan….ketika segenap usaha sudah dilakukan seolah tak berarti…disitulah sesungguhnya manusia diuji, bahwa sesungguhnya kita manusia adalah makhluk yang lemah. Maka berdo’alah…mintalah kepada sang maha kuat.. Allah ‘Azza wajalla

Pathway

Terkesima dengan sebuah nasihat dari Ustadz Firanda di bawah tentang Do’a

 

Kepada saudaraku yang hatinya terluka…kalbunya dimakan kesedihan dan kegelisahan…

Kepada saudaraku yang dilindas dan digilas beratnya kemiskinan…dililit hutang yang menggunung….

Kepada saudaraku yang memikul segunung problematika….yang merasa seluruh jalan dan sebab telah tertutup…

Apakah kau lupa senjatamu yang sangat ampuh…??, Doa…dialah permohonan yang ditujukan kepada Pencipta alam semesta ini…?? Apakah kau meremehkannya???

Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah berkata :

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيهِ *** وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ

Apakah engkau mengejek doa dan menyepelekannya….
Tidakkah engkau tahu apa yang bisa diperbuat oleh doa?

سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي وَلَكِنْ *** لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ

Anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset, akan tetapi…
Anak panah tersebut ada waktunya/tempo untuk mengenai…dan setiap waktu pasti ada akhirnya

Janganlah pernah meremehkan doa… ia adalah senjata kaum shalihin… bahkan senjata para Nabi ‘alaihim as-salaam.

Angkatlah kedua tanganmu…mintalah kepada Rabb-mu…jangan pernah malu untuk meminta kepada Rabb-mu yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang kepada para hambaNya…

Curahkan segala keluh kesahmu kepada Rabb-mu yang lebih rahmat kepada seorang hamba dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya…

Masihkah engkau berburuk sangka kepadaNya…, masihkah engkau enggan untuk berdoa… ??!!

Bangunlah di gelapnya malam tatkala semua orang tertidur pulas…keluhkan seluruh bebanmu kepada Allah….

لاَ تَسْأَلَنَّ بَنِي آدَمَ حَاجَةً *** وَسَلِ الَّذِي أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ

Jangan sekali-kali engkau meminta hajatmu kepada anak Adam…
Akan tetapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintunya tidak pernah tertutup

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ *** وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Allah murka jika engkau tidak meminta kepadaNya
Adapun anak Adam jika engkau meminta-minta kepadanya maka ia marah.

 

*********

Hari minggu yang mendung

dan hujan tak kunjung datang

********