LOST


Re-blogged from Imelda’s wordwall – a great poem to contemplate

Albanie and Raihanah-2

There was a father
he loved his children
he worked day and night
to make their future certain
They needed to have wealth
so he believed
that they would not suffer the poverty
of his own childhood.

His children asked for toys and treats
“there’s no money,” he always complained,
“for rainy days, they have been saved.”
There was no time together
no movies, no restaurants
family time was nothing
but silly maudlin wants.

The children asked for his affection
he could not spare a hug
such a display of weakness
was not a father’s job.
Tenderness had no use
but to spoil a child
so he spared the carrots
and doled out the rod.

He would give them education
a roof over their head
a successful (rich) future
they would have what they need
that was enough
so he believed.

There is a father
living in a big house, all alone
Now he has the means
and he has the time
to satisfy the desires of his children.
But,
the sons and daughters are now all gone
raising children of their own
making sure the latter have the life
they have never known.

Father and children
what bonds hold them
apart from duty and blood?
Could they look back in time
then find love?

by : Imelda

A poem for myself – A father

Ketika aku cemburu padanya


Bismillah,

Akhirnya bisa mengisi laman kosong lagi sembari mengatur nafas di sela-sela kesibukan. Cerita-cerita hari mengisi lembaran-lembaran yang entah akan terbaca kembali atau tidak. Roman-roman tentang keluh kesah manusia di awal bulan Juni sepertinya tak ingin beranjak dari pikiran, bahkan tadi siang pun kami belajar mengenai cinta akhirat dan kisah senda gurau nya kehidupan duniawi. Bahkan pertanyaan dari seseorang di Majelis yang sempat menjadi bahan diskusi seru mengenai sejauh apa kita harus bersikap “zuhud” dan apa batasan-batasannya sehingga kita bisa dikatakan zuhud terhadap dunia. Rupaya seorang penanya tadi siang yang berkumpul bersama kami adalah seorang pengusaha besar yang hari-harinya disibukkan dengan urusan bisnis nya, dan rupanya ia terusik mengenai makna “meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat”. 

Vintage

Baiklah kita lupakan kejadian tadi siang…karena sesungguhnya ada kisah yang mengantarkanku pada khayalan tingkat tinggi…hingga aku cemburu pada seorang pria ….. seorang manusia yang Rasulullah pernah berkata “Sesungguhnya Julaibib ini sebahagian daripada aku dan aku ini sebahagian daripada dia”….kisah cintanya sungguh membuat kaum lelaki cemburu padanya hingga hari berbangkit

……………….Berikut kisahnya……………….

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya.

Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.

Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.

Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas.

Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.

Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib:

”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi.

Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad.

Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.

Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.

Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib.

Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.

”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.

”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya.

”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”
Nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat.

”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?” isterinya berseru.

”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran…”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun.

”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”

Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini:

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata…”
(QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah:

”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah…”

DOA YANG INDAH

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya.

Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib.

Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka.

Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala.

Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi.

Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya.

Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu.

Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga.

”Ya Allah”, lirih Sang Nabi:

”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak!

Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak.

Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita.

Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat.

Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaati-Nya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya.

Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama.

Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya.

Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.

Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya.

Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran:

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak, Ya Rasulallah!”

Serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang…?”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!”

Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya…

“Tetapi aku kehilangan Julaibib…” kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. BeliauShallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi.

Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia.

Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib.

Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit:

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

…Ya………………………..

Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

De Javasche Bank – Riwayatmu Kini


Mendapatkan notifikasi tentang sejarah perbankan Indonesia, langsung teringat akan janji yang belum ditunaikan ketika mendapatkan kesempatan istimewa menjadi orang yang pertama kali (iya betul orang yang pertama kali) mengunjungi de Javasche Bank di tahun 2012.

Dan alhamdulillah tulisan saya mendapat banyak koreksi dari De javasche Bank Promotion Manager mba Kiki, dan insyaallah tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan.

Alkisah ketika saya dan sepupu saya hunting foto kota tua Surabaya. Di hari yang mendung dan hujan rintik – rintik, kami mulai menyusuri jalan di sekitar Jembatan Merah hingga terdampar di sebuah gedung kuno yang sudah tampak lebih cantik dibanding dengan gedung lainnya.

Jari mulai merekam setiap sisi luar gedung, hingga security penjaga gerbang dari sebuah gedung yang konon katanya ex. Gedung BNI dulunya menyapa kami (karena tampangnya mencurigakan kali yah… :D) ”sedang apa mas?….foto-foto ya? Silahkan masuk, mas boleh kok foto bagian dalamnya…” . Memasuki gedung kami langsung disambut dengan manajer Museum yang bernama mas Ahmad untuk ditawari berkeliling museum. Dari penjelasan yang beliau sampaikan, dengan cukup antusias, mencerminkan dedikasinya untuk menggawangi gedung De Javasche Bank ini.

Sang manajer Museum berkata pada kami bahwa gedung ini baru diresmikan menjadi Museum beberapa hari yang lalu, namun tidak semua orang tahu, dan kami lah yang pertama kali mengunjungi museum ini …. Senang bukan kepalang tentunya, ….. dan saya berjanji untuk memposting tulisan ini untuk beliau … sang “Museum Keeper” :D (mohon maaf tulisannya baru muncul 2 tahun kemudian karena suatu hal).

Bercerita tentang sejarahnya,saya kutipkan hasil koreksi mba Kiki berdasarkan Gedenkboek, pembangunan gedung De Javasche Bank di Surabaya adalah pada September 1829. Gedung yang dibangun pada 1828 adalah Kantor Pusat yang ada di Jakarta. Pada hakikatnya, De Javasche Bank diberi kewenangan tidak hanya untuk mencetak uang (info ini masih akan beliau kaji lagi), melainkan juga untuk menyimpakan dan untuk menyediakan kredit bagi perusahaan-perusahaan”. Prakarsa pembangunan javaschee Bank ini adalah untuk mencetak mata uang Indonesia dengan presiden direktur yang pertama kala itu adalah Chr. de Haan.

Gambar 1. Beginilah gedung Javasche Bank yang diperkirakan awal 1900-an

jiunkpe-ns-mmedia-1915-na00001-20-javasche_bank-resource11

 Gambar 2. Salah Satu Pecahan Mata Uang yang Dikeluarkan Javasche Bank

Javasche_bank

De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud, dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij, Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies. Menurut sumber yang terpercaya (Mba Kiki – pen) dia mengatakan “Octrooi bukanlah hak, menurut pengertian saya. karena octrooi itu semacam undang2 atau amandemen”

Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota. Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J. Smulders.

Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, serta sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.

Gambar 3. Beginilah gedung Javasche Bank yang sempat saya potret di tahun 2012

de javasche bank 2013

Oke deh … kembali ke tempat dimana saya berpijak kala itu, kami masuk ke gedung dan diarak menuju lantai paling bawah. Kesan pengap dan lembab langsung menyergap. Sang manajer museum De Javasche Bank menunjukkan foto-foto kondisi bawah tanah sebelum di renovasi. Tak tahan rasanya melihat foto-foto de Javasche Bank sebelum di konservasi, bagaikan rumah hantu bak uji nyali. Ia pun berkata, bahwa ruangan bawah tanah ini dulunya terendam air hamper selutut orang dewasa yang berasal dari system drainase sekitar yang dikarenakan pompa air ruangan bawah tanah yang tidak berfungsi.

Berbicara bangunan kolonial, tak lengkap rasanya berbicara mengenai gaya arsitekturnya. Dan ternyata setelah saya menyelusuri salah satu paper yang dibuat oleh salah satu mahasiswa Petra, dan rupanya di kutip di buku panduan Museum yang dihadiahkan mas Ahmad kepada saya (terima kasih sekali mas Ahmad atas kebaikannya). Dikisahkan  bahwa gedung ini memanglah dibangun di tahun 1828 tetapi dipugar di tahun 1910 dan dibangun kembali di lokasi yang sama dengan gaya arsitektur Neo Renaissance atau gaya Elektisisme. Tidak tanggung-tanggung pengerjaannya langsung dibawah biro arsitek terkemuka Hindia Belanda yang didirikan oleh Eduard Cuypers, Marius J. Hulswit bersama A.A Vermont. (namun statement ini masih disangsikan kebenarannya dan masih diselidiki oleh pihak Museum Javasce Bank)

Akan tetapi menurut informasi terakhir dari mba kiki selaku person in charge dalam memberikan informasi yang sesuai, beliau mengatakan gedung De Javasche Bank mengalami renovasi sekitar tahun 1920an. Semua ruang digeser dan dirubah tanpa merubah kolom bangunan. bahkan posisi pintu pun digeser, yang semula ada di pinggir, digeser menjadi di tengah. Menurut kawan saya, pintu putar yang sekarang berada di gedung baru menjadi trend di Amsterdam sekitar tahun 1922. Jadi kami berasumsi bahwa pemugaran gedung terjadi setelah tahun 1922. Gedung tersebut digunakan Bank Indonesia pada tahun 1953/54, dan menurut Kepala Humas Bank Indonesia, pada waktu digunakan Bank Indonesia, posisi pintu sudah seperti sekarang, juga sudah ada penambahan ruangan untuk ruang kepala cabang, dan 2 bangunan tambahan. Jadi kami berasumsi, semua pemugaran itu dilakukan pada jaman Kolonial” .

Beliau suga menambahkan dan mengenai lantai, bersama dengan kawan saya (cucu dari kepala cabang terakhir De Javasche Bank), kami mengkaji denah gedung, lantai 1 dan basement, pada tahun 1910 dan menemukan bahwa lantai tidak diubah. bahkan, warna ubin menunjukkan bagian-bagian dari ruangan lantai 1. ubin berwarna hitam merupakan tempat partisi diletakkan untuk membagi hall menjadi beberapa ruangan kecil untuk kantor kepala cabang (tepat di tengah2 ruangan di bawah strain glass), ruang asisten teller, ruang administrasi pembukuan, ruang kliring, ruang teller, dan ruang (yang kami asumsikan) sebagai tempat pertemuan pimpinan perusahaan dengan kepala cabang dalam proses pengajuan kredit, 1 ruang khusus disediakan bagi nasabah yang bertransaksi dengan jumlah besar, sedikit ruang untuk jalan di dekat dinding, dan ubin berwarna abu-abu merupakan ruang publik dimana nasabah menunggu giliran untuk dilayani”.

Khusus desain Javasche Bank ada tiga komponen menarik yang wajib dibahas. Pertama adalah fitur klasik berupa pilar yang tetap dihadirkan namun berubah fungsi. Pilar kekar itu di”slempit”kan kedalam tembok dan menjadi dekorasi. Kesan angkuh berwibawa tetap hadir namun kesan bangunan lebih segar dan jauh dari kesan  jiplakan. Pilar-pilar yang menyusup kedalam tembok ini banyak kita temui di gedung-gedung bergaya Second Empire (1850-1880).

Kedua adalah bentuk atap yang merupakan modifikasi  bentuk atap yang pernah populer di Perancis abad ke-17. Atap ini kemiringannya hampir vertical dan disebut atap Mansart, nama arsitek Perancis Francois Mansart (1596-1666) yang menciptakannya. Gaya atap ini juga dipakai lagi oleh arsitek-arsitek Second Empire.

Ketiga adalah ornamen Hindu Jawa yang tidak mungkin terlewatkan mata, yang menghiasi eksterior gedung. Ornamen ini sepertinya dimaksudkan untuk memberikan cita-rasa lokal pada bangunan model baru ini.  Bandingkan bangunan di Surabaya sebelumnya yang bergaya Eropa dan ornamen local nya absen. Sempat sekilas membaca salah satu paragraf di buku panduan Museum, bahwa rancangan gedung ini dikritik oleh beberapa pengamat arsitektur karena tidak cocok dengan iklim tropis indonesia (sampai saat ini saya belum paham betul apanya yang salah…. hehhe…maklum bukan Arsitek)

Gambar 4. Beginilah Foto Javasche Bank Ketika Pertama Kali Didirikan (Sumber : KITLV) – Bandingkan dengan gambar yang pertama

242d5f76-35bb-43c0-91f4-fee099faed80

 

Beberapa gambar di bawah adalah penampakan ruang bawah tanah yang sempat terekam kamera. Hampir semuanya peninggalan Bank BI di era-era awal sebelumnya bukan peninggalan Javasche Bank sendiri. Ruangan bawah tanah dijadikan gallery peralatan-peralatan Bank, serta replica emas batangan. Dari segi design, dsign bangunan di bawah tanah dirancang sedemikian rupa sehingga aman dari pencurian. Tampak cermin di setriap sudut lorong yang sekaligus bisa melihat di setiap lorong-lorong di sisi sebelahnya. Bagaikan CCTV semua aktivitas di sepnajang lorong dapat terpantau melalu cermin yang membuat bayangan bisa dipantulkan oleh pengawas.

Gambar 5. Lorong – Lorong di Lantai Bawah Tanah

Corridor - underground

Berkeliling di ruang bawah tanah (yang memang ahlinya orang londo untuk membuat sesuatu yang lebih rendah dari permukaan bawah laut), kami menyusuri lorong2 penyimpanan atau brankas uang, emas ataupun surat berharga. Dari pintu brankas tampak pembuat brankas yang ternyata perusahaan itu “masih hidup” sampai sekarang. Yaitu LIPS Brandkasten yang bermarkas di Dordrecht di Belanda. Uniknya LIPS Brankasten ini adalah sebuah perusahaan keluarga yang didirikan sekita tahun 1847 dan tetap eksis sampai sekarang.

Bisa dibayangkan perusahaan yang panjang umurnya….itu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa bangunan colonial itu umumnya awet dan berikut para supplier bangunannya yang umumnya bisa di tracking hingga saat ini. Bahkan untuk urusan perusahaan pembuat Grendel pintu.

Gambar 6. Salah satu benda-benda yang dipamerkan di ruangan bawah tanah termasuk emas batangan tiruan

de Javasche Bank Gallery - 3 de Javasche Bank Gallery - 1

Gambar 7. Logo LIPS Brandkasten Yang Tampak di Brankas Bawah Tanah

Deposit box symbol

Deposit box 2

Gambar 8. Bandingkan Dengan Yang Ini (bisa di lihat disini sejarahnya)

Etablissements_Lips_SA_-_Bruxelles

Gambar 9. Salah Satu Brankas di Lorong Bawah Tanah yang dibuat oleh LIPS Brandkasten

Info yang saya dapat bahwa setiap Hollandsche yang berkunjung di De Javasche Bank bercerita bahwa hampir semua rumah di Belanda menggunakan produk buatan Lips untuk kunci dan gembok. salah satu pengunjung pernah bekerja di Bank, dan dari beliau saya dapat informasi brankasnya juga buatan Lips.

Deposit box

Baiklah, setelah kita melihat gedung dari luar – bawah tanah, akhirnya saya naik ke permukaan….sempat menghela nafas karena saya melihat gaya arsitektur yang masih dijaga dengan baik, dengan konsep konservasi yang dikerjakan dengan teliti.

Gambar 10. Suasana Kantor Kala Itu (Sumber : Tropen Museum – Wikipedia)

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_van_de_Javasche_Bank_in_Soerabaja_TMnr_10015466 COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015475

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015474

Gambar di atas disangsikan interior Javasche Bank Surabaya (namun saya belum mendapat bukti yang kuat, karena foto-foto saya ambil dari KITLV)

Gambar 11. Suasana Interior Saat ini (Diambil tahun 2012)

de javasche bank interior 3 de javasche bank interior

Gambar 12. Wong Fei Hung sedang ambil kredit cicilan 0% (hehehe..kalau ini bercanda) sumber : Wikipedia

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_loketten_van_de_Javasche_Bank_te_Batavia._TMnr_60002647

Gambar 13. Lokasi Teller saat ini (Perkiraan saya gambar di atas bukan di gedung utama karena lantai yang masih terbuat dari kayu, akan tetapi di gedung sebelah yang saat ini telah dipugar)

Bilik Nasabah

Mata ini tak henti-hentinya mengamati sekeliling, seolah berada di Javasche Bank jaman dulu, pantas saja gedung Javaschew Bank ini mendapatkan nominasi Surabaya Tourism Award dari Pemkot Surabaya dan masuk dalam salah satu destinasi Surabaya HeritageTrack yang dikelola House of Sampoerna.

Konservasi yang teliti dan mendetrai ditandai dengan meniru pola cat di pilar nya. Gambar pertama adalah pola hasil rekonstruksi dan pola cat di pilar bawahnya adalah versi aslinya.

Gambarf 14. Motif di Pilar Penyangga Gedung

Motif pilar renewed

Motif pilar original

Setelah panjang lebar berbicara di lantai utama, kami diajak naik ke attic, sebuah ruangan antara atap dan plafon. Menurut penjelasan mas Ahmad, ruangan ini paling tidak favorit, sepi dan tak ada orang yang mau berlama-lama di ruangan ini :)

Gambarf 15. Attic – tempat menyimpan arsip dan berkas-berkas

Attic

Setelah puas berdiskusi, kami diajak ke kantor dan dihadiahi sebuah buku lengkap tentang sejarah ghedung Javasche Bank serta metode konserevasinya. Satu hal yang selalu menarik bagi saya, setiap kali berkunjung ke bangunan tua adalah sejarahnya ….. karena dari sejarah kita dapat berkhayal sembari mengambil manfaat akan apa yang pernah terjadi di jaman lampau. Termasuk tulisan yang saya buat ini, mudah-mudahan memberikan jejak manarik untuk mengingat gedung Javasche Bank

SEKIAN

**************

Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada

- Mas Ahmad yang sangat antusias menyambut kami dan sabar menunggu laporan perjalanan kami

- dek Detta yang sudi menemani dan penunjuk jalan selama saya di Surabaya, walaupun hujan tetap semangat berburu kisah-kisah kota tua di Surabaya

- Angkita Wasito Kirana – Promotion Manager yang sudah sudi merevisi dan mengkoreksi isi tulisan saya. Saya apresiasi dedikasinya untuk mengggali terus sejarah gedung ini

When Morning Has Come – Part 2


Posting kali ini lanjutan sequel dari postingan sebelumnya when morning has come :) . Di jumat pagi hari ini, setelah puas dengan sepiring nasi uduk, dan memangku si kecil di hadapan laptop – kembali lagi mengenang sentimen indahnya pagi hari dan segala aktivitasnya yang mampu direkam oleh kamera.

Topik kali ini ini adalah suasana pagi hari di sebuah desa bernama desa “Patokan”. Seperti biasanya, hobby jalan pagi sembari melihat kehidupan yang mulai menggeliat bisa kuabadikan dalam sebuah rangkaian foto sederhana.

******

Pagi menampakkan keindahannya

Hamparan sawah dan meliuknya sungai yang berselimut kabut

Birunya langit menaungi burung-burung pengelana

Ketika permadani hijau dihamparkan — disitu kami menggeliat menyongsong rizki-Mu

Secercah sinar menembus sisi-sisi dedaunan terjatuh ke tanah

Itulah pagi yang tampak apa adanya

Biarlah aku menikmatinya

*******

 

Situbondo morning scene

Ketika perut ini belum terisi sepenuhnya, aku berinisiatif mengintari sawah ladang di dekat rumah. Matahari belumlah meninggi, 2 orang bapak-bapak “sontoloyo”, (maaf bukan bermaksud berkata kasar, tapi memanglah sebutan untuk penggiring atau penggembala bebek adalah “sontoloyo” :D ) memulai aktivitasnya di pagi yang cerah dengan menggiring ratusan bebeknya menyusuri kali, pemandangan yang sungguh jarang terjadi akhir-akhir ini.

morning walk 2

 

Tak jauh dari “Sontoloyo” seorang penggembala kambing tak mau kalah semangatnya. Menyusuri pinggiran kali, sang penggembala kambing optimis akan rezeki hari itu. :)

The tractor

Tidak seperti dahulu, ketika tenaga sapi digunakan untuk membajak sawah. Sang petani ini lebih nyaman dengan traktor nya. Rezeki burung bangai pun tidak Allah hiraukan kala itu, ketika mereka bisa mengais dibalik tanah yang telah dibajak. Sepertinya sang pembajak sawah lupa memakai kaca mata hitam nya :D

Boat

Semakin ke arah utara, sampailah aku ke tepian perkampungan nelayan pantai pathek. Berhenti sejenak termenung akan hamparan lautan luas di depan mata. Sisa reruntuhan bangunan di ujung muara sungai sedikit menggelitik di benak, bekas bangunan apakah itu di ujung muara sungai ?!! Pagi masihlah sejuk, dan ombak pun tenang setenang suasana perkampungan nelayan di sekitarnya.

Fisherman

Seorang nelayan sedang mengumpulkan umpan ikan sebelum pergi menangkap ikan ke lautan luas. Tampak otot nya yang seolah tak pernah lelah mencari rezeki ….

Fisherman-2

 

Memancing tak lengkap jika tanpa umpan. Awalnya aku kira nelayan yang aku temui tadi akan menjaring ikan di tepian pantai. Melihat hasil yang didapat kemungkinan sang nelayan mengumpulkan kail untuk memancing ikan yang lebih besar di tengah lautan.

Me & Raihanah

Berjalan melewati perbukitan bersama sang istri, napak tilas jalanan yang sering aku lewati semenjak kecil. Namun kali ini lebih baik, karena si kecil Raihanah pun ikut bersama menikmati pagi yang indah di kota kelahiran ayahnya. :)

 

 

Picture that worth a thousand words


And…..

Let the pictures speaks by themselves

Sunset edge

♥♥♥

Sunset at Kalbut Port

♥♥♥

Before Dawn

♠♠♠

Just beyond the sunset….

Lies a home for me

where the world is peaceful

♠♠♠

All above pictures were taken from the place called home

dedicated for my hometown – Situbondo