Perahu boat “Serenity” tertambat dengan kerasnya ditandai dengan benturan keras di lambung kanan kapal. Mataku tak mampu terpejam membayangkan bisa snorkling dan menikmati indahnya pemandangan bawah laut Papua. Pintu terbuka dan angin sejuk menyapa…kulihat di kejauhan matahari pun tak kunjung terbit..awan seolah berpendar keemasan. Kami keluar satu persatu berjajar.
Kusiapkan kamera …“kuberharap kali ini lensaku tak lagi berembun karena suhu di dalam boat sangatlah dingin dan kelembapan udara di Papua yang hampir di atas 80%”. Kucoba kucuri waktu mengamati ibu-ibu dan para ayah yang menyiapkan dagangan mereka….yaitu kepiting. Kubuka kamera….yaaaah embun menutupi seluruh lensa – ku, akhirnya kuseka sesekali … kucoba ambil beberapa gambar untuk memastikan tidak ada gambar yang mengalami distorsi karena embun.

Tampak di seberang dek…satu keluarga warga papua sedang menurunkan barang dagangan mereka yang berupa kardus-kardus kecil berisi kepiting. Sang anak tertegun sedikit karena aku menghampiri dan memotretnya secara sembunyi-sembunyi.

Tak sampai 30 menit, bus pun datang menjemput untuk mengantarkan kami menuju Bandara Udara Babo.
Tulisan Saya mengenai Bandara Udara Babo bisa dilihat di :
http://abualbanie.wordpress.com/2011/02/13/tempat-misterius-itu-adalah-lapangan-terbang-babo/
http://abualbanie.wordpress.com/2012/03/23/weekly-photo-challenge-unusual/
Sembari menunggu panggilan naik pesawat, sudah kubayangkan menyelam di bawah air laut yang jernih dan konon aku masih bisa menemukan sisa-sisa perang pacific yang tenggelam di dasar laut Pantai Bosnik.
Bak…Presiden Barrack Obama…kami digiring dan dijaga ketika naik pesawat…hihihihii

Tak sampai 1 jam kami tiba di Bandara Frans Kaisepo Biak…sayang sekali aku tak mendapatkan kesempatan duduk di Jendela, jadi foto Babo & Biak from the Air tak bisa kuabadikan, padahal momen itu adalah moment yang aku tunggu-tunggu.
Menuju ke Pantai Bosnik, kami mendengar berita yang kurang baik….“peralatan snorkling nya tak adaaaaa….!!”. Dengan lemah, letih dan lesu kami beranjak pergi menuju pantai Bosnik hanya tuk sekedar “ingin tau” sebagus apakah pantai Bosnik itu??? Dengan mencarter mobil Avanza yang dijejali 10 penumpang dan jalan yang cukup menantang, sembari kepala terantuk-antuk atap mobil dan kaki terasa kram…..tibalah kami di pantai yang bernama Bosnik…….biarlah foto yang berbicara akan keindahan pantai yang belum terjamah ini.





Dan ditengah hujan pun…kami sempat menikmati sebuah kelapa muda….cuaca di sini tidak menentu, sesekali cerah dan dalam hitungan menit awan mendung menggelayut dan hujan deras pun turun. Baru beberapa menit, matahari pun bersinar cerah dan kami pun kembali ketepian pantai menikmati deru ombak.

Tampak dari kejauhan 5 bersaudara sedang bermain derunya ombak, melompat dari atas bukit, …waaaah betapa beruntungnya mereka…tak apa tak ada gedung tinggi menjulang atas nama kemajuan, tak apa tak ada mega mall serba lengkap, … biarlah pantai mu, pohonmu dan kehidupanmu menjadi penawar duka bagi kami ….. hidup disini di sebuah pulau nan jauh di Timur…..Papua….mutiara hitam yang terabaikan
Aku berkata dalam hati…apakah aku sedang berlibur?? TIDAK…. kami hanya memanfaatkan 5 jam menunggu boarding pesawat menuju Jakarta. Hanya lima jam menunggu kami tiba kembali di Bandara Frans Kaisepo Biak… ku duduk merenung di lounge di tepian bibir pantai, mengamati seorang Ibu dan anaknya yang mungkin mencari makan siang…sisa-sisa remis mereka punguti satu persatu…..Ya Allah….keindahan yang engkau berikan di Dunia sedikitpun tak akan sebanding dengan keindahan surga di kehidupan akhirat kelak.

Kami Hanya 5 Jam Menunggu……
0.000000
0.000000
Like this:
8 bloggers like this post.