De Javasche Bank – Riwayatmu Kini


Mendapatkan notifikasi tentang sejarah perbankan Indonesia, langsung teringat akan janji yang belum ditunaikan ketika mendapatkan kesempatan istimewa menjadi orang yang pertama kali (iya betul orang yang pertama kali) mengunjungi de Javasche Bank di tahun 2012.

Alkisah ketika saya dan sepupu saya hunting foto kota tua Surabaya. Di hari yang mendung dan hujan rintik – rintik, kami mulai menyusuri jalan di sekitar Jembatan Merah hingga terdampar di sebuah gedung kuno yang sudah tampak lebih cantik dibanding dengan gedung lainnya.

Jari mulai merekam setiap sisi luar gedung, hingga security penjaga gerbang dari sebuah gedung yang konon katanya ex. Gedung BNI dulunya menyapa kami (karena tampangnya mencurigakan kali yah… :D) ”sedang apa mas?….foto-foto ya? Silahkan masuk, mas boleh kok foto bagian dalamnya…” . Memasuki gedung kami langsung disambut dengan manajer Museum yang bernama mas Ahmad untuk ditawari berkeliling museum. Dari penjelasan yang beliau sampaikan, dengan cukup antusias, mencerminkan dedikasinya untuk menggawangi gedung De Javasche Bank ini.

Sang manajer Museum berkata pada kami bahwa gedung ini baru diresmikan menjadi Museum beberapa hari yang lalu, namun tidak semua orang tahu, dan kami lah yang pertama kali mengunjungi museum ini …. Senang bukan kepalang tentunya, ….. dan saya berjanji untuk memposting tulisan ini untuk beliau … sang “Museum Keeper” :D (mohon maaf tulisannya baru muncul 2 tahun kemudian karena suatu hal).

Bercerita tentang sejarahnya, gedung de Javaschee Bank of Soerabaia ini dibangun pada tanggal 24 Januari 1828 oleh pemerintahan Hindia Belanda, yang merupakan salah satu Bank terbesar di masa kolonial. Prakarsa pembangunan javaschee Bank ini adalah untuk mencetak mata uang Indonesia dengan presiden direktur yang pertama kala itu adalah Chr. de Haan.

Gambar 1. Beginilah gedung Javasche Bank yang diperkirakan awal 1900-an

jiunkpe-ns-mmedia-1915-na00001-20-javasche_bank-resource11

 Gambar 2. Salah Satu Pecahan Mata Uang yang Dikeluarkan Javasche Bank

Javasche_bank

De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud, dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij, Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies.

Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota. Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J. Smulders.

Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, serta sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.

Gambar 3. Beginilah gedung Javasche Bank yang sempat saya potret di tahun 2012

de javasche bank 2013

Oke deh … kembali ke tempat dimana saya berpijak kala itu, kami masuk ke gedung dan diarak menuju lantai paling bawah. Kesan pengap dan lembab langsung menyergap. Sang manajer museum De Javasche Bank menunjukkan foto-foto kondisi bawah tanah sebelum di renovasi. Tak tahan rasanya melihat foto-foto de Javasche Bank sebelum di konservasi, bagaikan rumah hantu bak uji nyali. Ia pun berkata, bahwa ruangan bawah tanah ini dulunya terendam air hamper selutut orang dewasa yang berasal dari system drainase sekitar yang dikarenakan pompa air ruangan bawah tanah yang tidak berfungsi.

Berbicara bangunan kolonial, tak lengkap rasanya berbicara mengenai gaya arsitekturnya. Dan ternyata setelah saya menyelusuri salah satu paper yang dibuat oleh salah satu mahasiswa Petra, dan rupanya di kutip di buku panduan Museum yang dihadiahkan mas Ahmad kepada saya (terima kasih sekali mas Ahmad atas kebaikannya). Dikisahkan  bahwa gedung ini memanglah dibangun di tahun 1828 tetapi dipugar di tahun 1910 dan dibangun kembali di lokasi yang sama dengan gaya arsitektur Neo Renaissance atau gaya Elektisisme. Tidak tanggung-tanggung pengerjaannya langsung dibawah biro arsitek terkemuka Hindia Belanda yang didirikan oleh Eduard Cuypers, Marius J. Hulswit bersama A.A Vermont. 

Khusus desain Javasche Bank ada tiga komponen menarik yang wajib dibahas. Pertama adalah fitur klasik berupa pilar yang tetap dihadirkan namun berubah fungsi. Pilar kekar itu di”slempit”kan kedalam tembok dan menjadi dekorasi. Kesan angkuh berwibawa tetap hadir namun kesan bangunan lebih segar dan jauh dari kesan  jiplakan. Pilar-pilar yang menyusup kedalam tembok ini banyak kita temui di gedung-gedung bergaya Second Empire (1850-1880).

Kedua adalah bentuk atap yang merupakan modifikasi  bentuk atap yang pernah populer di Perancis abad ke-17. Atap ini kemiringannya hampir vertical dan disebut atap Mansart, nama arsitek Perancis Francois Mansart (1596-1666) yang menciptakannya. Gaya atap ini juga dipakai lagi oleh arsitek-arsitek Second Empire. Uniknya model atap ini kalau kita teliti telah muncul di gedung sayap kanan dan kiri Paleis van Justitie di foto atas.

Ketiga adalah ornamen Hindu Jawa yang tidak mungkin terlewatkan mata, yang menghiasi eksterior gedung. Ornamen ini sepertinya dimaksudkan untuk memberikan cita-rasa lokal pada bangunan model baru ini.  Bandingkan bangunan di Surabaya sebelumnya yang bergaya Eropa dan ornamen local nya absen. Sempat sekilas membaca salah satu paragraf di buku panduan Museum, bahwa rancangan gedung ini dikritik oleh beberapa pengamat arsitektur karena tidak cocok dengan iklim tropis indonesia (sampai saat ini saya belum paham betul apanya yang salah…. hehhe…maklum bukan Arsitek)

Gambar 4. Beginilah Foto Javasche Bank Ketika Pertama Kali Didirikan (Sumber : KITLV) – Bandingkan dengan gambar yang pertama

242d5f76-35bb-43c0-91f4-fee099faed80

 

Beberapa gambar di bawah adalah penampakan ruang bawah tanah yang sempat terekam kamera. Hampir semuanya peninggalan Bank BI di era-era awal sebelumnya bukan peninggalan Javasche Bank sendiri. Ruangan bawah tanah dijadikan gallery peralatan-peralatan Bank, serta replica emas batangan. Dari segi design, dsign bangunan di bawah tanah dirancang sedemikian rupa sehingga aman dari pencurian. Tampak cermin di setriap sudut lorong yang sekaligus bisa melihat di setiap lorong-lorong di sisi sebelahnya. Bagaikan CCTV semua aktivitas di sepnajang lorong dapat terpantau melalu cermin yang membuat bayangan bisa dipantulkan oleh pengawas.

Gambar 5. Lorong – Lorong di Lantai Bawah Tanah

Corridor - underground

Berkeliling di ruang bawah tanah (yang memang ahlinya orang londo untuk membuat sesuatu yang lebih rendah dari permukaan bawah laut), kami menyusuri lorong2 penyimpanan atau brankas uang, emas ataupun surat berharga. Dari pintu brankas tampak pembuat brankas yang ternyata perusahaan itu “masih hidup” sampai sekarang. Yaitu LIPS Brandkasten yang bermarkas di Dordrecht di Belanda. Uniknya LIPS Brankasten ini adalah sebuah perusahaan keluarga yang didirikan sekita tahun 1847 dan tetap eksis sampai sekarang.

Bisa dibayangkan perusahaan yang panjang umurnya….itu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa bangunan colonial itu umumnya awet dan berikut para supplier bangunannya yang umumnya bisa di tracking hingga saat ini. Bahkan untuk urusan perusahaan pembuat Grendel pintu.

Gambar 6. Salah satu benda-benda yang dipamerkan di ruangan bawah tanah termasuk emas batangan tiruan

de Javasche Bank Gallery - 3 de Javasche Bank Gallery - 1

Gambar 7. Logo LIPS Brandkasten Yang Tampak di Brankas Bawah Tanah

Deposit box symbol

Deposit box 2

Gambar 8. Bandingkan Dengan Yang Ini (bisa di lihat disini sejarahnya)

Etablissements_Lips_SA_-_Bruxelles

Gambar 9. Salah Satu Brankas di Lorong Bawah Tanah yang dibuat oleh LIPS Brandkasten

Deposit box

Baiklah, setelah kita melihat gedung dari luar – bawah tanah, akhirnya saya naik ke permukaan….sempat menghela nafas karena saya melihat gaya arsitektur yang masih dijaga dengan baik, dengan konsep konservasi yang dikerjakan dengan teliti.

Gambar 10. Suasana Kantor Kala Itu (Sumber : Tropen Museum – Wikipedia)

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_van_de_Javasche_Bank_in_Soerabaja_TMnr_10015466 COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015475

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015474

Gambar 11. Suasana Interior Saat ini (Diambil tahun 2012)

de javasche bank interior 3 de javasche bank interior

Gambar 12. Wong Fei Hung sedang ambil kredit cicilan 0% (hehehe..kalau ini bercanda) sumber : Wikipedia

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_loketten_van_de_Javasche_Bank_te_Batavia._TMnr_60002647

Gambar 13. Lokasi Teller saat ini (Perkiraan saya gambar di atas bukan di gedung utama karena lantai yang masih terbuat dari kayu, akan tetapi di gedung sebelah yang saat ini telah dipugar)

Bilik Nasabah

Mata ini tak henti-hentinya mengamati sekeliling, seolah berada di Javasche Bank jaman dulu, pantas saja gedung Javaschew Bank ini mendapatkan nominasi Surabaya Tourism Award dari Pemkot Surabaya dan masuk dalam salah satu destinasi Surabaya HeritageTrack yang dikelola House of Sampoerna.

Konservasi yang teliti dan mendetrai ditandai dengan meniru pola cat di pilar nya. Gambar pertama adalah pola hasil rekonstruksi dan pola cat di pilar bawahnya adalah versi aslinya.

Gambarf 14. Motif di Pilar Penyangga Gedung

Motif pilar renewed

Motif pilar original

Setelah panjang lebar berbicara di lantai utama, kami diajak naik ke attic, sebuah ruangan antara atap dan plafon. Menurut penjelasan mas Ahmad, ruangan ini paling tidak favorit, sepi dan tak ada orang yang mau berlama-lama di ruangan ini :)

Gambarf 15. Attic – tempat menyimpan arsip dan berkas-berkas

Attic

Setelah puas berdiskusi, kami diajak ke kantor dan dihadiahi sebuah buku lengkap tentang sejarah ghedung Javasche Bank serta metode konserevasinya. Satu hal yang selalu menarik bagi saya, setiap kali berkunjung ke bangunan tua adalah sejarahnya ….. karena dari sejarah kita dapat berkhayal sembari mengambil manfaat akan apa yang pernah terjadi di jaman lampau. Termasuk tulisan yang saya buat ini, mudah-mudahan memberikan jejak manarik untuk mengingat gedung Javasche Bank

SEKIAN

**************

Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada

- Mas Ahmad yang sangat antusias menyambut kami dan sabar menunggu laporan perjalanan kami

- dek Detta yang sudi menemani dan penunjuk jalan selama saya di Surabaya, walaupun hujan tetap semangat berburu kisah-kisah kota tua di Surabaya

When Morning Has Come – Part 2


Posting kali ini lanjutan sequel dari postingan sebelumnya when morning has come :) . Di jumat pagi hari ini, setelah puas dengan sepiring nasi uduk, dan memangku si kecil di hadapan laptop – kembali lagi mengenang sentimen indahnya pagi hari dan segala aktivitasnya yang mampu direkam oleh kamera.

Topik kali ini ini adalah suasana pagi hari di sebuah desa bernama desa “Patokan”. Seperti biasanya, hobby jalan pagi sembari melihat kehidupan yang mulai menggeliat bisa kuabadikan dalam sebuah rangkaian foto sederhana.

******

Pagi menampakkan keindahannya

Hamparan sawah dan meliuknya sungai yang berselimut kabut

Birunya langit menaungi burung-burung pengelana

Ketika permadani hijau dihamparkan — disitu kami menggeliat menyongsong rizki-Mu

Secercah sinar menembus sisi-sisi dedaunan terjatuh ke tanah

Itulah pagi yang tampak apa adanya

Biarlah aku menikmatinya

*******

 

Situbondo morning scene

Ketika perut ini belum terisi sepenuhnya, aku berinisiatif mengintari sawah ladang di dekat rumah. Matahari belumlah meninggi, 2 orang bapak-bapak “sontoloyo”, (maaf bukan bermaksud berkata kasar, tapi memanglah sebutan untuk penggiring atau penggembala bebek adalah “sontoloyo” :D ) memulai aktivitasnya di pagi yang cerah dengan menggiring ratusan bebeknya menyusuri kali, pemandangan yang sungguh jarang terjadi akhir-akhir ini.

morning walk 2

 

Tak jauh dari “Sontoloyo” seorang penggembala kambing tak mau kalah semangatnya. Menyusuri pinggiran kali, sang penggembala kambing optimis akan rezeki hari itu. :)

The tractor

Tidak seperti dahulu, ketika tenaga sapi digunakan untuk membajak sawah. Sang petani ini lebih nyaman dengan traktor nya. Rezeki burung bangai pun tidak Allah hiraukan kala itu, ketika mereka bisa mengais dibalik tanah yang telah dibajak. Sepertinya sang pembajak sawah lupa memakai kaca mata hitam nya :D

Boat

Semakin ke arah utara, sampailah aku ke tepian perkampungan nelayan pantai pathek. Berhenti sejenak termenung akan hamparan lautan luas di depan mata. Sisa reruntuhan bangunan di ujung muara sungai sedikit menggelitik di benak, bekas bangunan apakah itu di ujung muara sungai ?!! Pagi masihlah sejuk, dan ombak pun tenang setenang suasana perkampungan nelayan di sekitarnya.

Fisherman

Seorang nelayan sedang mengumpulkan umpan ikan sebelum pergi menangkap ikan ke lautan luas. Tampak otot nya yang seolah tak pernah lelah mencari rezeki ….

Fisherman-2

 

Memancing tak lengkap jika tanpa umpan. Awalnya aku kira nelayan yang aku temui tadi akan menjaring ikan di tepian pantai. Melihat hasil yang didapat kemungkinan sang nelayan mengumpulkan kail untuk memancing ikan yang lebih besar di tengah lautan.

Me & Raihanah

Berjalan melewati perbukitan bersama sang istri, napak tilas jalanan yang sering aku lewati semenjak kecil. Namun kali ini lebih baik, karena si kecil Raihanah pun ikut bersama menikmati pagi yang indah di kota kelahiran ayahnya. :)

 

 

Picture that worth a thousand words


And…..

Let the pictures speaks by themselves

Sunset edge

♥♥♥

Sunset at Kalbut Port

♥♥♥

Before Dawn

♠♠♠

Just beyond the sunset….

Lies a home for me

where the world is peaceful

♠♠♠

All above pictures were taken from the place called home

dedicated for my hometown – Situbondo

Weekly Photo Challenge : Perspective


Nothing more tempting than just awaiting the sun sets while holding your camera pointing to bright yellow – red & shiny spot above the horizon. As Jeff Sinon said “Mother Nature does all the hard work, I’m just there to point my camera at it” , – his statement absolutely correct especially for amateur like me :D.

I decided to go to the nearest traditional port  at my Hometown Situbondo, just brought my standard gear, as I had no plan at all to take any picture that day. But I changed my mind when I saw 2 boats berthed for loading – unloading with the sun sparkling in between. Until I found perfect spot to take pictures.

I was playing around with my standard lens Canon 18-55 to take 2 different perspective of the sunset scene by adjusting the focal length. To manipulate the perspective, I compress the scene by choosing the fishing ship near by as the “foreground  actor”. If I see below picture, my eyes are agitated to focus to the fishing ship in the right and then move the left where the sun starts to set. The picture tells to me the story of the fishing boat – loneliness – peacefulness – the spirit of the local fishermen

Gloomy Sunset

Then it goes different, when I add some elements in the foreground (rocks) & background (small boats in the background, little part of the mountain while maintaining the shiny spots as the main actor). I sense more strong emotion blow from inside of me and then I feel  amazed & feel lonely. And I believe there’s only one Creator, make this things so beautiful, Allah almighty, and again it makes me so small.

before dawn at kalbut port

 

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Loneliness adds beauty to life.  It puts a special burn on sunsets and makes night  air smell better.

- Henry Rollins -

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Cerita Tentang Sebuah Stasiun Kereta Tua


Jauh sebelum kokok ayam berbunyi ….. dan menjelang adzan shubuh, becak melaju kencang menuju arah selatan ke sebuah desa bernama desa “Sumber Kolak”, dengan sedikit terburu-buru, ditengah dinginnya udara pagi Situbondo becakpun melaju dan berhenti di sebuah stasiun. Pamanku menggandeng tanganku dengan erat adn menuntunku ke sebuah lobi stasiun untuk menunggu kereta datang.

Gelap nian pagi buta kala itu, mata pun seolah belum siap untuk terbelalak. Yang terdengar hanyalah suara kodok dan jangkrik yang bersahutan dan para penumpang yang mulai berdatangan. Mata selalu tertuju ke arah hamparan ladang padi dan jagung di depan stasiun, namun bibir terpaku diam terbawa heningnya dan dinginnya pagi.

Inilah kali pertama aku bersua dan menjalin cerita dengan sebuah stasiun yang kini “telah tiada”. Stasiun dengan ketinggian 30 m diatas permukaan laut yang dibangun oleh pemerintah kolonial belanda di awal 1900-an untuk menunjang kegiatan perdagangan dengan sumber pangan strategis di daerah Jember, Bondowoso dan sekitarnya hingga ujung rel terhenti di pelabuhan Panarukan.

stasiun jemberStasiun Jember tempoe doeloe. Salah satu komoditas penting kala itu adalah tembakau, kopi dan tebu/gula. Perlu diketahui, stasiun Jember ini merupakan salah satu dari 15 stasiun tertua di Indonesia. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di sini

Pada masa itu, komoditas perkebunan seperti gula, karet dan tembakau diangkut dari Stasiun Jember menuju Pelabuhan Panarukan di wilayah Situbondo untuk selanjutnya diangkut dengan kapal api menuju Kota Rotterdam di Belanda.

Stasiun Soember Kolak – paling tidak itu yang tertera di peta zaman kolonial-, menjadi salah satu stasiun kelas 1 di jamannya dan hanya memiliki dua rel yang parallel. 2 Jalur utama dibangun melalui stasiun ini, satu rel menuju daerah Panji (dimana banyak perkebunan tebu membentang di wilayah itu, dan satu jalur lagi menghubungkan jalur emas Jember – Panarukan). Stasiun ini dibangun oleh Staats Spoorwegen (SS) yang juga membangun jaringan perkeretaapian di wilayah selatan Situbondo hingga Panarukan.

Old Map

Gambar di atas adalah snapshot Wilayah Situbondo dan sekitarnya. Bisa dilihat stasiun Sumber Kolak yang bertuliskan “Station Soember Kolak”.  Jalur kereta api di peta kuno ini (spoorweg) disimbolkan dengan garis solid tebal berwarna hitam. Nah penulis dilahirkan di kota yang masih bertuliskan “Patoqan” kala itu. Di peta itu lokasi pabrik gula juga sudah ditampilkan dengan baik. Misal SF Wringin Anom yang berarti Suiker Fabrique Wringin Anom. Sumber : KITLV

Pertanyaan saya mengenai peta di atas adalah : Ketika Belanda sudah bisa membuat peta  wilayah di tahun-tahun tersebut, kira-kira apa yang sudah bisa dilakukan kakek-nenek buyut saya di jamannya yah….?!

Station roof

Pertama kali aku mengenal kereta api ketika aku masih berusia 4 atau 5 tahun, dan stasiun ini pun punya cerita hingga aku beranjak SMA. Hingga aku bisa mengunjunginya kembali dan berhasil merekam sisa-sisa jejaknya. Dan stasiun Situbondo pun kini tinggal cerita. Waktu terasa cepat berlalu melihat perubahan yang terjadi pada stasiun ini. Sungguh banyak memori tersimpan di Staisun ini. Benar kata sebuah pepatah mengenai memori

“Memories, even your most precious ones, fade surprisingly quickly. But I don’t go along with that. The memories I value most, I don’t ever see them fading.” 

by  Kazuo Ishiguro

In front of the lobby

Lobby

Bagian depan lobby Stasiun. Dari sini kita bisa melihat Gunung Ringgit tinggi menjulang, hamparan padi menyeimbangkannya. Jika malam tiba, dahulu kala daerah ini sangatlah sepi. Disinilah dahulu ketika aku berusia 4 atau 5 tahun menanti kereta api menuju stasiun Kalisat. Banyak serpihan kenangan ketika tanganku mulai memotret setiap sisi-sisinya.

Sedih-haru menjadi satu mengingat stasiun ini sudah “tidak bernyawa” lagi.

Rooftop

Tampak atap-atap kayu yang masih terlihat kokoh. Entah sudah berapa lama usianya. Tetapi yang pasti usia atapnya melebihi usia bantalan rel yang sudah mulai dicuri satu pesatu yang juga menjadi alasan penutupan stasiun ini.

Tuas rel1

Tuas Rel Wesel Inggris

Satu hal yang sedari dulu menarik perhatianku adalah, tuas-tuas penggerak persimpangan rel kereta api atau tuas penggerak wesel inggris. Di tuas penggerak ini aku lihat dua tulisan “Dari Panarukan” dan “Dari Prajekan”. Stasiun Panarukan terletak di sebelah utara stasiun ini sementara Stasiun Prajekan terletak di arah selatan stasiun ini.

Peron Tiket

Peron pembelian tiket. Tampak daftar harga tiket masih terpasang berselubung plastik. Sayang aku tak bisa melihat harga yang terpampang disitu. Dahulu kala seingatku harga tiket semasa aku SMA untuk perjalanan Situbondo – Kalisat berkisar Rp. 1500 – 2000 rupiah.

Ada kejadian unik saat aku pergi menuju Kalisat semasa SMA. Kala itu aku sedang mengikuti bimbingan belajar pasca Ebtanas (Ujian Akhir). Dalam perjalanan yang masih tak jauh dari stasiun, kereta api bekerja keras memutarkan roda di lokomotifnya, namun tak sejengkalpun kereta api berjalan. Penumpang pun gaduh dan bertanya ada apa gerangan, ternyata rel kereta api yang basah sehingga membuat permukaan rel cukup licin yang membuat roda besi di lokomotif selip. Dan kala itu sang masinis konon turun dari lokomotif dan membersihkan atau lebih tepatnya “mengelap” rel besi agar kering sehingga lokomotif bisa berjalan.

Namun sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang cukup indah untuk diabadikan, hamparan sawah luas dan perumahan penduduk desa yang seolah menyatu bagai harmoni, walaupun banyak diantara rumah penduduk masih sangat sederhana. Walaupun 10 tahun lebih telah berlalu , mungkin jika stasiun Sumber Kolak dan kereta api bisa berjalan kembali maka akan menjadi napak tilas yang sempurna bagiku untuk sesekali mengingat memori indah kala itu.

Around the station

Suatu sore di sekitar Stasiun. Di bulan ini (Januari – Maret) banyak petani yang memanen padi dan sesaat lagi umumnya mereka akan menanam jagung, juga mungkin tebu. Dari kejauhan tampak gunung Ringgit,  kami umumnya menamakannya “Gunung Putri Tidur”. Aroma sore hari yang mengharu biru sembari  mengingat kenangan masa lalu.

Entrance

Stasiun Situbondo jika dilihat dari arah barat (dari arah panarukan). Rasanya hanya beberapa bulan aku tinggalkan, namun seolah sudah bertahun-tahun kesan yang ditimbulkan. Stasiun Sumber Kolak akankah kau tiada selamanya ??

Station West View Toward Panaroekan

Pemandangan di atas adalah pemandangan tampak barat dari Stasiun menuju stasiun terdekat berikutnya, yaitu stasiun Tribungan. Nampak Rel kereta api yang sudah tertutup rumput dan menjadi besi tua.

Begitulah serpihan-serpihan cerita dari stasiun Sumber Kolak. Kuberharap suatu saat stasiun ini akan difungsikan lagi. Aku bermimpi di masa akan datang ketika Stasiun Sumber Kolak bisa berfungsi kembali, dan anak cucuku bisa menikmati perjalanan rute yang sama sebagai yang kini telah hilang. Dan tulisan ini mudah-mudahan sedikit noktah sebagai pesan untuk anak cucuku kelak tuk kembali merajut memori yang terputus dan hilang.

——————————————————————————————————————

Ditulis beberapa ratus meter dari Stasiun Sumber Kolak

Di Kota dimana aku dilahirkan

Sitoebondo – Patoqan – Februari 2014

“Time’s the thief of memory”
― Stephen King -

——————————————————————————————————————

Catatan di Halaman Rumah – Peringatan Dewa Janus Pada Pukul 00:00


Suasana kantor kala itu terlihat hening, waktu menunjukkan pukul 15:15, hanya aku dan teman sejawat yang tersisa di penghujung hari menyambut Ashar dan berencana pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Alhamdulillah tanda-tanda hujan lebat malam ini membuat aku bersemangat pulang dan meringkuk dalam kehangatan selimut tanpa memperdulikan hingar-bingar sesuatu yang akan terjadi pukul 00:00.

Memasuki halaman rumah ditemani aspal yang basah di-sepanjang perjalanan, percikan-percikan air hujan membasahi kaki hingga maghrib pun terlwati dan mata terpejam lebih awal dan terbangun tidak tepat pada waktunya menjelang tengah malam, terdengar dari kejauhan suara ledakan di udara bak  suara flak canon yang menyalak tak henti-henti menyambut kedatangan pasukan divisi lintas udara 101 & 506 di tanggal 6 Juni 1944. Sontak aku terbangun dan keluar rumah…..tanpa alas kaki aku menuju halaman rumah yang kala itu kabut tipis sudah mulai menyelimuti gelapnya malam….jalanan depan rumah tampak sunti lengang, langit pun mulai membiru cerah dan terang, juntai daun pohon kelapa diam tak bergerak, tak ada angin dan udara pun bersih nian malam itu

Calm Night 1140 hrs

Kuamati sekeliling, tak satupun manusia kala itu keluar rumah kecuali aku sendiri, hingga pukul 11:50 malam menjelang 1 Januari 2014.

Calm Night 1145 hrs

Menjelang pukul 11:57 sebuah kejadian yang tak diinginkan terjadi, kembang api menyalak tidak pada tempatnya … entah karena tidak sengaja, selongsong yang mungkin dikira kosong menyala di darat dan menimbulkan kepanikan, walaupun tidak terjadi sesuatu malam itu, mudah-mudahan hal itu bisa menjadi pelajaran

Calm Night 1157 hrs

Nyaris mendekati tengah malam, suasana pun berubah drastis, kompleks rumah yang semula hening, berubah seketika, saat dentuman saling sahut menyahut, tampak satu keluarga dengan sengaja keluar rumah untuk merayakan sesuatu yang ternyata nama Januari diambil dari kata “Janus” yang merupakan dewa dalam mitologi Yunani yang berarti tuhan permulaan. Janus “dikhayalkan” oleh penduduk romawi dengan dewa berkepala dua yang wajahnya menghadap arah yang berlawanan, yang berarti satu wajah menghadap ke bulan-bulan yang ditinggalkan dan satu wajah menatap bulan yang akan datang dengan penuh ketidakpastian. Yang pasti dewa “khayalan” yang bernama “Janus” ini memiliki arti yang penting di jajaran dewa-dewa zaman Paganisme. Terlepas dari mitologi kedewaan, yang pasti kita hidup di jaman yang sudah tidak semestinya berpesta untuk sesuatu yang hanya “khayalan” semata bukan?

Bahkan dari beberapa literatur, perayaan menyambut tahun Masehi juga sudah pernah dilakukan oleh masyarakat Madinah jaman Jahiliah, yang disebut hari raya Nairuz, yaitu hari pertama dalam perhitungan tahun bangsa arab yg diukurkan ketika matahari brada pada titik bintang haml/aries.

Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu beliau berkata : Rasūlullâh Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madînah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” RasūlullâhShallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allôh telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhhâ dan idul fithri.” [Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim.]

Berikut hingar bingar yang sempat terekam jejak kamera……..

Kembang api pun mulai menyalak

Calm Night 0002 hrs

Calm Night 0002 hrs B&W

Calm Night 0005 hrs

Jarum dinding meninggalkan tengah malam, suara dentuman berkurang drastis dan kembali suasana mulai hening, kabut pun mulai turun lebih tebal lagi bercampur dengan asap hasil pembakaran kembang api yang menyalak tak henti-henti nya.

That’s it ….

Hanya berlangsung beberapa jam perayaan “menghormati dewa Janus” dan malam pun kembali sunyi senyap

Calm Night 0015 hrs

Allah berfirman, “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)

♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦

Ditulis di pagi harinya

Dan hari pun masih tetap mendung

Tanggal 29 Bulan Shafar 1435 Hijirah

atau

1 januari 2014

♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦

Senja di Fremantle


Fremantle Sunset 2

Tak ingin memejamkan mata cepat-cepat, ketika musim panas masih di penghujung musim. Kecerian dalam canda tawa bersama sahabat lama tak ingin kulepaskan begitu saja. Namun hari itu ternyata hari terakhir, secepat kami melupakan bagaimana rasa rendang yang telah lolos dari pemeriksaan di Bandara Perth

Hari itu di Fremantle, di akhir perjalanan,  berenang dalam silhouette dibawah sinar senja yang keemasan.

Mata ini tak pernah lepas dari lingkaran keemasan yang makin lama turun ditelan dalamnya samudra pasifik, sementara hati ini penasaran ingin melihat sorot lampu mercusuar di kejauhan yang akan menuntun kapal-kapal “yacht” yang akan bertengger. Nampaknya angin memang ingin memeluk silhouette lebih dalam dan lama lagi.

Sunset at Fremantle

Tak terdengar suara riak air di tepi pantai, namun pasir tak kan berbohong, satu persatu ombak itu jatuh, entah yang keberapa kali … ku tak bergeming tuk selalu melihat lingkaran kuning cerah turun tenggelam.

Tenggelam di Fremantle. Seolah senja ini tertulis di atas awan dan tentunya ini anugerah terindah bagiku yang memanglah mengagumi senja sejak dulu.

Seolah sekali dalam seumur hidup….kuingin menyaksikan sekali lagi……………..dan lagi

 

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

In the place where the water meet the sky

The sun may go down but at the end of the day

The flaring shades of love will always have to stay

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

“It’s almost impossible to watch a sunset and not dream” – Bern Williams

IMG_2955

 

Someday …..

you will find the one who will watch every sunrise with you

until the sunset of your life

*******