Berburu Sunset dan Berpetualang di Tanjung Lesung


Topik touring kali ini adalah  wisata pantai “paket hemat super ekonomis – kelas bulu ringan terbang” yang pas buat orang urban (sebut saja Jabodetabek) di tanggal tua yang mana gajiannya masih sekitar semingggu setelah tanggal Touring.

Akan tetapi kami yang ahli dalam situasi “kepepet” tetap berpikir keras mencari tujuan wisata yang sesuai dengan motto yang terkesan dipaksakan…. 😀

Skenario tujuan wisata yang dipilih pun tidak tanggung-tanggung, yaitu :

Lokasi pantai yang jauh dari keramaian, ramah keluarga,tidak begitu crowded serta tidak terlalu jauh dari lokasi tinggal sehingga mudah dicapai tapi tidak mengorbankan kenyamanan wisata berkeluarga, kalau bisa buy one get one…..atau free ongkir … (saking pengennya berhemat)…. awalnya kami ragu dengan tujuan wisata kali ini…. namun rintangan dan rasa ragu itu hilang akibat desakan rasa ingin berlibur di pantai …

Apa boleh dinyana,ternyata touring kali ini bisa diangggap sukses gemilang, segemilang serangan kilat “blitzkrieg” heheheh … cepat – tepat – murah serta bisa mengeksploitasi kondisi alam yang tersedia dengan maksimal dengan kondisi yang seadanya dan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya… Depok 18 Agustus 2017 … atas nama Hendra Taruna dan Keluarga … merdekaaaaa!!!! ……….. lhooo eh??

Ya betul….perjalanan 1 hari setelah hari kemerdekaan RI ke-72…di Hari Jumat pagi selepas shubuh..si hitam evie dengan tank yang sudah diisi full solar merangkak perlahan menuju titik kumpul di daerah Serang untuk menuju pantai Tanjung Lesung …

Perlu diketahui destinasi kali ini ….. kami dapat setelah berdiskusi 1000 manhrs lebih dengan para anggota turing. Dengan perdebatan sengit dengan segala bukti kuat dan ilmiah beserta …..udah STOP alay nya …. !!!!!

Dan berujung bahwa kami tidak sedikitpun menjamah lokasi wisata pantai di Tanjung Lesung membuat perjalanan kali ini menarik untuk diceritakan.

Info yang didapat mengenai Tanjung Lesung ini sebenarnya minim, dan aga sedikit psimis mengenai kondisi pantai nya..karena dari episode-episode sebelumnya, kita terbiasa mengeksploitasi pantai Selatan yang umumnya lebih Indah untuk dikunjungi ketimbang pantai Utara Jawa. Mampukah destinasi kalai ini mengalahkan keseruan destinasi sebelumnya????? Mari kita simak kelanjutannya….jeng…jeng

Selepas sarapan di Pandeglang…mengisi perut keroncongan karena sedari pagi belum makan (Alhamdulillah sudah mandi)….akhirnya kami dan anggota turing tiba setelah Sholat Jum’at di lokasi penginapan, yaitu Kampung Nelayan. Dengan harga Rp. 400 ribu per kamar, serta kamar yang tersaji dan fasilitas yang ada, kami beri nilai “B” gemuk (value for money lah intinya), dengan kebersihan dan kerapihan serta suasana di sekitar penginapan yang cukup tenang mengingat kami berangkat di hari-hari yang harusnya peak sesason untuk pengunjung. Dan kami bisa mencapai lokasi ini “hanya” 4-5 jam dari kediaman kami di Depok tanpa macet dengan kecepatan jelajah 80 – 100 km/jam. Jika dikalibrasi waktu tempuh saya – kantor yang memakan 4 jam PP, rasanya … masih OK lah.

Hari pertama “Senja yang menenangkan”………………

Seperti rencana…tujuan kali ini adalah berburu Silhouette nan menawan dalam Sunset. Awalnya sempat ragu mendapatkan spot yang pas…tapi apa boleh buat….

Menjelang Ashar…dapat info bahwa pantai akan segera tutup…akhirnya kita mencari alternative lokasi ke arah kiri dari pintu Utama masuk lokasi wisata Tanjung Lesung…sekitar 5 km darikampung nelayan (sesuai peta – ditandai dengan balon).

Rute penginapan - Panimbang Tj Lesung

Menyusuri pantai…kita disajikan pemandangan yang cukup apik..karena matahari udah kelelahan dan akan segera tenggelam di bawah horizon….kami banting setir ke arah bibir pantai dan menemukan spot parker yang kurang begitu meyakinkan,… tapi dalam hati berkata “….Ah yang penting ada lahan parkir dan kami bisa merapat ke bibir pantai …” dan harus rela merogoh Rp. 50 ribu rupiah per mobil (1 keluarga) yang tentunya lebih worthed ketimbang harus masuk ke objek wisata tanjung lesung yang mana tiketnya Rp. 40 ribu per orang …..

Karena kaki ini sudah gatal karena lama tidak merasakan pasir pantai…..

setelah mobil terparkir parkir dengan tenang…kita berhamburan menyambut datangnya ombak…terutama si sulung dan adik perempuannya yang udah tidak sabar bersua dengan aroma pasir pantai dan berbasah-basah ria tanpa di complain ayah – bunda nya…

dan tak butuh waktu lama…anak-anak berlarian menyambut ombak yang tenang sembari bayangan-bayangan mereka jatuh diantara kilauan emas matahari senja yang mulai nampak makin menguning dan menua jingga

Kesan pertama …… begitu menggoda ….selanjutnya……terserah saya .. :)..

P_20170818_171521-01

Ini kali kedua kaki kecil mungil si bungsu menginjakkan pasir halus pantai dan deburan ombak…agak ragu dan canggung di awal….

P_20170818_173027-01

Akhirnya kupanggul si kecil melawan ombak menuju onggokan karang

P_20170818_172153-01

Dan si bungsu pun akhirnya berani bersahabat dengan pasir pantai dan ombak nya

P_20170818_173731-01

Sang kakak … yang lebih berpengalaman, tak perlu beradaptasi untuk menyatu dengan alam…

P_20170818_172545-01

Personel turing ki-ka (Penulis,mang Nunung selaku inisiator, Mang Zain selaku penjaga gawang, Mang Dede selaku evaluator dan assessor yang terkenal suer ketat)

P_20170818_173319-01

Keceriaan sang anak bermain di pantai saat senja…seolah mewujudkan mimpi ayah nya ketika kecil dulu…yang selalu terpana akan elok nan syahdunya suasana senja di pantai dan hanya bisa dilihat di kalender…waktu seolah berhenti sejenak

Kobinasi yang pas di pantai sederhana yang kami kunjungi adalah …

  1. Hamparan pasir yang landai,
  2. Tak ada serpihan karang yang mengusik telapak kaki sehingga kami tak perlu meringis tertusuk rumah siput kosong dan karang pecah,
  3. Angin laut yang tak terlalu kencang,
  4. Ombak yang reatif tenang, serta suara gemericik ombak mendayu-dayu,
  5. Serta suasana sunset yang terpampang di muka, serta hanya sedikit pengunjung atau bisa dibilang seolah tak ada pengunjung selain kami…
  6. Dan yang terpenting kami di sini bersama keluarga yang kami cintai … masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan alam ciptaan Allah ta’ala yang umumnya hanya bisa dilihat di Kalender-kalender

Kombinasi apa lagi yang tepat untuk melukiskan suasana di atas sebagai blogger yang sangat mengagumi senja?? hehehe

Akhirnya matahari benar-benar tenggelam…tak ada lagi tersisa dari bulatan kuning emas yang mengapung di atas cakrawala.. silhouette bayangan anak-anak yang ceria di pantai pun mulai memudar…dengan kamar bilas seadanya kami akhirnya beranjak dari lokasi …

di dalam mobil kami masih terngiang dan mendiskusikan betapa syahdunya senja hari dengan suguhan wajah kelelahan si kecil dengan rambut basahnya serta remah-remah pasir di baju dan dan kaki yang masih terbawa….lampu-lampu kendaraan tampak menyapu jalanan gelap tanpa penerangan …. Suasana menjadi hening dan sunyi kembali ….kami kembali ke penginapan sembari membayangkan ikan bakar, sup ikan yang mengepul serta keceriaan anak-anak menemani acara bakar jagung dan sosis di malam itu…hingga kami pun terlelap … dalam lantunan deburan ombak serta heningnya malam di Kampung Nelayan

Hari kedua “Adventurous Day………………”

Selepas sholat shubuh … kami sempatkan mengais sisa-sisa cahaya fajar sembari menunggu lingkaran emas muncul lagi dari arah yang berbeda….sembari menyeka sisa air wudhu di wajah … suasana sejuk semilir angin laut menyapa….

lampu-lampu dermaga tampak masih menyala dan satu persatu padam..pertanda geliat hari baru akan dimulai … serta sembari menungggu nasi goreng gratis yang hangat dihidangkan…kita menghabiskan waktu terpana melihat suasana pantai pagi hari

P_20170819_055303-01

Semilir angin laut di pagi hari serta ketenangannya membuat spot ini menjadi unik….

P_20170819_055529-01

Ditemani si kecil kami menunggu cahaya muncul …karena hari ini akan menjadi hari yang mungkin tak akan dilupakan oleh mereka…apalagi kalau bukan snorkeling, berenang di pantai serta mencicipi banana boat di pulang Liwungan karena ini merupakan kali pertama si Sulung akan mencoba snorkeling melihat taman bawah laut

Menikmati aroma pagi sembari menunggu matahari meninggi di ufuk timur

Untuk hari kedua ini..kocek yang kami rogoh pun cukup ramah … karena kita bisa share diantara member touring (4 keluarga)

  • Sewa kapal dan snorkeling total Rp. 650,000 (untuk 12 orang)
  • Banana boat Rp. 250,000 untuk ber-6
  • Rata-rata makan seafood untuk satu keluarga (5orang) berkisar 150 ribu – 200 ribu)

Perjalanan ke pulau Liwungan tak begitu jauh dari tempat penginapan, tak sampai 30 menit, kami sudah sampai di Ponton yang baru saja dibangun setahun yang lalu.

Saking dekatnya, bahkan pulau Liwungan tampak terlihat timbul tenggelam dari seberang tempat kami menginap.

Perjalanan ke pulau Liwungan diiringi angin yang cukup kencang dan ombak yang sedikit kencang….angin menerpa wajah-wajah anak-anak kami yang tampak ceria dan cemas…seolah ada sesuatu yang menanti di pulau yang hanya dihuni oleh 3 orang saja….melihat wajah-wajah tegang para ibu-ibu seolah pendaratan di pulau liwungan setara pendaratan sekutu di Normandy  saat D-Day…hehhehe

Perjalanan dengan menggunakan perahu kayu ke pulau Liwungan

Kondisi pantai di pulau Liwungan tidak lebih baik ketimbang di destinasi pertama, walaupun bibir pantai yang landai….karena cukup banyak karang…jika tidak hati-hati kaki akan mudah tergores.

Paket banana boat juga bisa disesuaikan dengan “tingkat keberanian” penumpangnya… 🙂

Ini baru pertamakali si Kakak mencoba snorkling…awalnya takut dan ragu..tetapi seiring waktu … akhirnya kakak bisa mengatasi rasa takutnya

Satu hal yang menjadi catatan ..kondisi dermaga di Kampung Nelayan masih terbuat dari bamboo yang sangat sederhana .. beberapa tampak rapuh, serta ketinggian antara dek kapal dan dermaga cukup tinggi buat ibu-ibu…sehingga membuat acara transfer personil selama embarkasi di kampong nelayan cukup mengguncang mental para ibu yang masih punya balita. Mudah-mudahan kedepannya fasilitas ini bisa dibenahi sehingga lebih nyaman dan yang terpenting adalah factor keamanannya.

Tapi memang tak bisa dipungkiri…ini pengalaman yang unik buat para Istri yang selalu mendampingi hobby para suami Touring ke tempat yang “selalu aneh” buat mereka

Akhirnya kepulangan dari pulau Liwungan menandai berakhirnya adventure di bulan Agustus..dengan segudang pengalaman bagi si kecil untuk cerita esok….. in syaa Allah rihlah / perjalanan kali ini akan menambah khazanah mereka mengenai keberanian, survival dan rasa syukur kepada Allah ta’ala dengan mengenal keindahan ciptaanya……

Keunggulan touring keluarga yang biasa kami lakukan adalah, dari 4 keluarga yang ikut, umumnya memiliki anak-anak yang seusia, hal ini juga membuat mereka bisa lebih luwes untuk berbaur satu-sama lain dan berbagi pengalaman berharga diantara mereka

Terlepas itu semua…kami 4 keluarga bisa menikmati waktu luang yang sangat berharga untuk melihat anak-anak kami tumbuh dengan mengeksploitasi alam dan mengenal keindahannya

Sesampainya di rumah…satu kalimat yang selalu diulang oleh si Sulung ”pah….kapan lagi kita ke sana…andaikan Banie bisa mengulang waktu…Banie ingin naik Banana Boat dan Snorkling”

 

END

Ditulis 2 hari sepulang dari Tanjung Lesung…bahkan remah-remah pasir seolah masih tersisa di kaki

 

Untuk mu dan Untuk ku


Lonely

Kita tidak bisa mengubah yang telah terjadi

Juga tidak bisa menggariskan kepastian masa depan

Lalu……

Mengapa membunuh diri kita dengan penyesalan…..

…….atas apa yang sudah tidak bisa kita ubah

Hidup itu singkat, sementara target nya banyak

Maka tataplah awan dan jangan lihat ke tanah

Kalau merasa jalan sudah makin sempit,,,,

kembalilah kepada RabbmuAllah yang Maha Mengetahui hal yang ghaib

Dan ucapkanlah Alhamdulillah atas apa saja

Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang….

Kapal nabi Nuh alaihissalam dibuat hanya oleh satu orang

tetapi……………………..

Titanic tenggelam, sedangkan bahtera Nuh menyelamatkan ummat manusia

Taufik hanya dari Allah ta’ala

Kita bukanlah penduduk asli bumi,,

asal kita adalah Surga ….

Tempat dimana orang tua kita,, Adam alaihissalam,, tinggal pertama kali 

Kita tinggal di sinihanya untuk “Sementara”.

Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali

maka…………..

Berusahalah semampumu, untuk mengejar kafilah orang-orang yang shalih

yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas,,

di Akhirat sana…….

Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yang jauh…

atau karena ditinggal orang tercinta……

Bahkan…..kematian pun bukanlah perpisahan…

sebab kita akan bertemu kembali di akhirat…

Perpisahan adalah……..

ketika satu diantara kita masuk surga…..

sedang yang lainnya terjerembab di Neraka

Semoga Allah ta’ala menjadikan aku dan kita semua menjadi penghuni surga-Nya

********

by : Anonim

********

5102015

Palindrome night

20:28 WIB

Silhouette


I always be amazed by the tranquility of the sunset and sunrise and the way of the sun creates shadow and shapes the life.

“There’s a sunrise and a sunset every single day, and they’re absolutely free. Don’t miss so many of them.”

– Joe Walton –

Shadows

Sunrise

sunrise 2

Sunset silhouette

Sunrise silhouette

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Me

The pictures are dedicated for my Wife, son & daughter and my hometown- Situbondo where I took all of above photos

A place to remember

I do appreciate all the great things Allah Almighty give to us especially by giving us the sun….

thus I can see how beautiful sunrise and sunset are

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Weekly Photo Challenge : Perspective


Nothing more tempting than just awaiting the sun sets while holding your camera pointing to bright yellow – red & shiny spot above the horizon. As Jeff Sinon said “Mother Nature does all the hard work, I’m just there to point my camera at it” , – his statement absolutely correct especially for amateur like me :D.

I decided to go to the nearest traditional port  at my Hometown Situbondo, just brought my standard gear, as I had no plan at all to take any picture that day. But I changed my mind when I saw 2 boats berthed for loading – unloading with the sun sparkling in between. Until I found perfect spot to take pictures.

I was playing around with my standard lens Canon 18-55 to take 2 different perspective of the sunset scene by adjusting the focal length. To manipulate the perspective, I compress the scene by choosing the fishing ship near by as the “foreground  actor”. If I see below picture, my eyes are agitated to focus to the fishing ship in the right and then move the left where the sun starts to set. The picture tells to me the story of the fishing boat – loneliness – peacefulness – the spirit of the local fishermen

Gloomy Sunset

Then it goes different, when I add some elements in the foreground (rocks) & background (small boats in the background, little part of the mountain while maintaining the shiny spots as the main actor). I sense more strong emotion blow from inside of me and then I feel  amazed & feel lonely. And I believe there’s only one Creator, make this things so beautiful, Allah almighty, and again it makes me so small.

before dawn at kalbut port

 

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Loneliness adds beauty to life.  It puts a special burn on sunsets and makes night  air smell better.

– Henry Rollins –

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥