Duhai putriku ….


Raihanah abualbanie

 

Duhai putriku…

Aku tahu ini tak akan semudah yang engkau pikirkan

Putriku… engkau memang bukanlah putri raja arab ataupun orang arab… namun berhijablah

Putriku… Ayah mu pun bukanlah raja arab… namun berhijablah

Putriku… Aku pun demikian… bukan orang arab tapi akupun berhijab… sama sepertimu

Dan yang kutahu kau dan aku berhijab bukan karena meniru orang arab..

Yang kutahu Tuhanku dan Tuhanmu… Allah ‘azza wa jalla memerintahkan demikian

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Walaupun suatu saat nanti… jangankan satu putri Arab yang enggan berhijab… seluruh wanita di dunia enggan berhijab… kuharap hanya engkau putriku tetaplah demikian dengan hijabmu… karena cintamu pada Rabb mu dan Rasulullah di atas segalanya

Karena Rasul kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada ummat nya

“………Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian…..” [HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”]

“Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

#catatan Ummu Albanie untuk putrinya Raihanah

When Morning Has Come – Part 2


Posting kali ini lanjutan sequel dari postingan sebelumnya when morning has come 🙂 . Di jumat pagi hari ini, setelah puas dengan sepiring nasi uduk, dan memangku si kecil di hadapan laptop – kembali lagi mengenang sentimen indahnya pagi hari dan segala aktivitasnya yang mampu direkam oleh kamera.

Topik kali ini ini adalah suasana pagi hari di sebuah desa bernama desa “Patokan”. Seperti biasanya, hobby jalan pagi sembari melihat kehidupan yang mulai menggeliat bisa kuabadikan dalam sebuah rangkaian foto sederhana.

******

Pagi menampakkan keindahannya

Hamparan sawah dan meliuknya sungai yang berselimut kabut

Birunya langit menaungi burung-burung pengelana

Ketika permadani hijau dihamparkan — disitu kami menggeliat menyongsong rizki-Mu

Secercah sinar menembus sisi-sisi dedaunan terjatuh ke tanah

Itulah pagi yang tampak apa adanya

Biarlah aku menikmatinya

*******

 

Situbondo morning scene

Ketika perut ini belum terisi sepenuhnya, aku berinisiatif mengintari sawah ladang di dekat rumah. Matahari belumlah meninggi, 2 orang bapak-bapak “sontoloyo”, (maaf bukan bermaksud berkata kasar, tapi memanglah sebutan untuk penggiring atau penggembala bebek adalah “sontoloyo” 😀 ) memulai aktivitasnya di pagi yang cerah dengan menggiring ratusan bebeknya menyusuri kali, pemandangan yang sungguh jarang terjadi akhir-akhir ini.

morning walk 2

 

Tak jauh dari “Sontoloyo” seorang penggembala kambing tak mau kalah semangatnya. Menyusuri pinggiran kali, sang penggembala kambing optimis akan rezeki hari itu. 🙂

The tractor

Tidak seperti dahulu, ketika tenaga sapi digunakan untuk membajak sawah. Sang petani ini lebih nyaman dengan traktor nya. Rezeki burung bangai pun tidak Allah hiraukan kala itu, ketika mereka bisa mengais dibalik tanah yang telah dibajak. Sepertinya sang pembajak sawah lupa memakai kaca mata hitam nya 😀

Boat

Semakin ke arah utara, sampailah aku ke tepian perkampungan nelayan pantai pathek. Berhenti sejenak termenung akan hamparan lautan luas di depan mata. Sisa reruntuhan bangunan di ujung muara sungai sedikit menggelitik di benak, bekas bangunan apakah itu di ujung muara sungai ?!! Pagi masihlah sejuk, dan ombak pun tenang setenang suasana perkampungan nelayan di sekitarnya.

Fisherman

Seorang nelayan sedang mengumpulkan umpan ikan sebelum pergi menangkap ikan ke lautan luas. Tampak otot nya yang seolah tak pernah lelah mencari rezeki ….

Fisherman-2

 

Memancing tak lengkap jika tanpa umpan. Awalnya aku kira nelayan yang aku temui tadi akan menjaring ikan di tepian pantai. Melihat hasil yang didapat kemungkinan sang nelayan mengumpulkan kail untuk memancing ikan yang lebih besar di tengah lautan.

Me & Raihanah

Berjalan melewati perbukitan bersama sang istri, napak tilas jalanan yang sering aku lewati semenjak kecil. Namun kali ini lebih baik, karena si kecil Raihanah pun ikut bersama menikmati pagi yang indah di kota kelahiran ayahnya. 🙂