Cerita Tentang Sebuah Stasiun Kereta Tua


Jauh sebelum kokok ayam berbunyi ….. dan menjelang adzan shubuh, becak melaju kencang menuju arah selatan ke sebuah desa bernama desa “Sumber Kolak”, dengan sedikit terburu-buru, ditengah dinginnya udara pagi Situbondo becakpun melaju dan berhenti di sebuah stasiun. Pamanku menggandeng tanganku dengan erat adn menuntunku ke sebuah lobi stasiun untuk menunggu kereta datang.

Gelap nian pagi buta kala itu, mata pun seolah belum siap untuk terbelalak. Yang terdengar hanyalah suara kodok dan jangkrik yang bersahutan dan para penumpang yang mulai berdatangan. Mata selalu tertuju ke arah hamparan ladang padi dan jagung di depan stasiun, namun bibir terpaku diam terbawa heningnya dan dinginnya pagi.

Inilah kali pertama aku bersua dan menjalin cerita dengan sebuah stasiun yang kini “telah tiada”. Stasiun dengan ketinggian 30 m diatas permukaan laut yang dibangun oleh pemerintah kolonial belanda di awal 1900-an untuk menunjang kegiatan perdagangan dengan sumber pangan strategis di daerah Jember, Bondowoso dan sekitarnya hingga ujung rel terhenti di pelabuhan Panarukan.

stasiun jemberStasiun Jember tempoe doeloe. Salah satu komoditas penting kala itu adalah tembakau, kopi dan tebu/gula. Perlu diketahui, stasiun Jember ini merupakan salah satu dari 15 stasiun tertua di Indonesia. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di sini

Pada masa itu, komoditas perkebunan seperti gula, karet dan tembakau diangkut dari Stasiun Jember menuju Pelabuhan Panarukan di wilayah Situbondo untuk selanjutnya diangkut dengan kapal api menuju Kota Rotterdam di Belanda.

Stasiun Soember Kolak – paling tidak itu yang tertera di peta zaman kolonial-, menjadi salah satu stasiun kelas 1 di jamannya dan hanya memiliki dua rel yang parallel. 2 Jalur utama dibangun melalui stasiun ini, satu rel menuju daerah Panji (dimana banyak perkebunan tebu membentang di wilayah itu, dan satu jalur lagi menghubungkan jalur emas Jember – Panarukan). Stasiun ini dibangun oleh Staats Spoorwegen (SS) yang juga membangun jaringan perkeretaapian di wilayah selatan Situbondo hingga Panarukan.

Old Map

Gambar di atas adalah snapshot Wilayah Situbondo dan sekitarnya. Bisa dilihat stasiun Sumber Kolak yang bertuliskan “Station Soember Kolak”.  Jalur kereta api di peta kuno ini (spoorweg) disimbolkan dengan garis solid tebal berwarna hitam. Nah penulis dilahirkan di kota yang masih bertuliskan “Patoqan” kala itu. Di peta itu lokasi pabrik gula juga sudah ditampilkan dengan baik. Misal SF Wringin Anom yang berarti Suiker Fabrique Wringin Anom. Sumber : KITLV

Pertanyaan saya mengenai peta di atas adalah : Ketika Belanda sudah bisa membuat peta  wilayah di tahun-tahun tersebut, kira-kira apa yang sudah bisa dilakukan kakek-nenek buyut saya di jamannya yah….?!

Station roof

Pertama kali aku mengenal kereta api ketika aku masih berusia 4 atau 5 tahun, dan stasiun ini pun punya cerita hingga aku beranjak SMA. Hingga aku bisa mengunjunginya kembali dan berhasil merekam sisa-sisa jejaknya. Dan stasiun Situbondo pun kini tinggal cerita. Waktu terasa cepat berlalu melihat perubahan yang terjadi pada stasiun ini. Sungguh banyak memori tersimpan di Staisun ini. Benar kata sebuah pepatah mengenai memori

“Memories, even your most precious ones, fade surprisingly quickly. But I don’t go along with that. The memories I value most, I don’t ever see them fading.” 

by  Kazuo Ishiguro

In front of the lobby

Lobby

Bagian depan lobby Stasiun. Dari sini kita bisa melihat Gunung Ringgit tinggi menjulang, hamparan padi menyeimbangkannya. Jika malam tiba, dahulu kala daerah ini sangatlah sepi. Disinilah dahulu ketika aku berusia 4 atau 5 tahun menanti kereta api menuju stasiun Kalisat. Banyak serpihan kenangan ketika tanganku mulai memotret setiap sisi-sisinya.

Sedih-haru menjadi satu mengingat stasiun ini sudah “tidak bernyawa” lagi.

Rooftop

Tampak atap-atap kayu yang masih terlihat kokoh. Entah sudah berapa lama usianya. Tetapi yang pasti usia atapnya melebihi usia bantalan rel yang sudah mulai dicuri satu pesatu yang juga menjadi alasan penutupan stasiun ini.

Tuas rel1

Tuas Rel Wesel Inggris

Satu hal yang sedari dulu menarik perhatianku adalah, tuas-tuas penggerak persimpangan rel kereta api atau tuas penggerak wesel inggris. Di tuas penggerak ini aku lihat dua tulisan “Dari Panarukan” dan “Dari Prajekan”. Stasiun Panarukan terletak di sebelah utara stasiun ini sementara Stasiun Prajekan terletak di arah selatan stasiun ini.

Peron Tiket

Peron pembelian tiket. Tampak daftar harga tiket masih terpasang berselubung plastik. Sayang aku tak bisa melihat harga yang terpampang disitu. Dahulu kala seingatku harga tiket semasa aku SMA untuk perjalanan Situbondo – Kalisat berkisar Rp. 1500 – 2000 rupiah.

Ada kejadian unik saat aku pergi menuju Kalisat semasa SMA. Kala itu aku sedang mengikuti bimbingan belajar pasca Ebtanas (Ujian Akhir). Dalam perjalanan yang masih tak jauh dari stasiun, kereta api bekerja keras memutarkan roda di lokomotifnya, namun tak sejengkalpun kereta api berjalan. Penumpang pun gaduh dan bertanya ada apa gerangan, ternyata rel kereta api yang basah sehingga membuat permukaan rel cukup licin yang membuat roda besi di lokomotif selip. Dan kala itu sang masinis konon turun dari lokomotif dan membersihkan atau lebih tepatnya “mengelap” rel besi agar kering sehingga lokomotif bisa berjalan.

Namun sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang cukup indah untuk diabadikan, hamparan sawah luas dan perumahan penduduk desa yang seolah menyatu bagai harmoni, walaupun banyak diantara rumah penduduk masih sangat sederhana. Walaupun 10 tahun lebih telah berlalu , mungkin jika stasiun Sumber Kolak dan kereta api bisa berjalan kembali maka akan menjadi napak tilas yang sempurna bagiku untuk sesekali mengingat memori indah kala itu.

Around the station

Suatu sore di sekitar Stasiun. Di bulan ini (Januari – Maret) banyak petani yang memanen padi dan sesaat lagi umumnya mereka akan menanam jagung, juga mungkin tebu. Dari kejauhan tampak gunung Ringgit,  kami umumnya menamakannya “Gunung Putri Tidur”. Aroma sore hari yang mengharu biru sembari  mengingat kenangan masa lalu.

Entrance

Stasiun Situbondo jika dilihat dari arah barat (dari arah panarukan). Rasanya hanya beberapa bulan aku tinggalkan, namun seolah sudah bertahun-tahun kesan yang ditimbulkan. Stasiun Sumber Kolak akankah kau tiada selamanya ??

Station West View Toward Panaroekan

Pemandangan di atas adalah pemandangan tampak barat dari Stasiun menuju stasiun terdekat berikutnya, yaitu stasiun Tribungan. Nampak Rel kereta api yang sudah tertutup rumput dan menjadi besi tua.

Begitulah serpihan-serpihan cerita dari stasiun Sumber Kolak. Kuberharap suatu saat stasiun ini akan difungsikan lagi. Aku bermimpi di masa akan datang ketika Stasiun Sumber Kolak bisa berfungsi kembali, dan anak cucuku bisa menikmati perjalanan rute yang sama sebagai yang kini telah hilang. Dan tulisan ini mudah-mudahan sedikit noktah sebagai pesan untuk anak cucuku kelak tuk kembali merajut memori yang terputus dan hilang.

——————————————————————————————————————

Ditulis beberapa ratus meter dari Stasiun Sumber Kolak

Di Kota dimana aku dilahirkan

Sitoebondo – Patoqan – Februari 2014

“Time’s the thief of memory”
― Stephen King –

——————————————————————————————————————

A Place called home


“When you live on the road,going home is a place to escape and just be with your family to unwind” 

– Jonathan Davis –

Alone Little Girl

Foto di atas diambil kala sore hari di sebuah desa,,,, desa dimana aku dilahirkan, sebuah tempat yang selalu merebahkan asa yang selalu merajut kata “aku ingin pulang” 

Ketika aku beserta istri menyusuri jalanan desa nan sunyi pada sore hari, aku berhenti sejenak di sebuah persimpangan rel kereta api tua bekas lokomotif  uap penarik kereta tebu yang membelah kebun tebu hingga ke pelosok-pelosok desa. Cuaca sore itu cukup tenang dan sejuk setelah pagi hingga siangnya desa diguyur hujan.

Sesekali angin sore berhembus di atas kepala dengan ringannya, sementara rona jingga masih belum tampak tua. Sementara istri memilih untuk tetap mengamatiku dari kejauhan di tepi sungai tak berair, aku berjalan menyusuri rel kereta api secepat aku menghitung bantalan rel kereta api yang mulai lapuk dan berkarat. Di sebelah barat ditempat aku berdiri sebuah keluarga sedang sibuk menggembala hewan ternaknya yang tak seberapa, sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang ibu dan seorang perempuan kecil yang bermaksud membantu ibunya menggembala kambing. Dengan riangnya perempuan kecil itu memain-mainkan rumput dan ilalang di sekelilingnya.

Sungguh hening sore itu, di tengah sepi nan sendu nya sore suara keceriaan sebuah keluarga dengan hewan ternaknya bagaikan sebuah noktah merah di atas kertas polos putih tak berwarna, membawa anganku tuk sekedar merajut memori masa kecilku di desa ini. Keceriaan gadis kecil itu berlanjut ketia ia melompat menapaki satu demi satu bantalan rel kereta api dengan cerianya meninggalkan sendiri ibunya yang sedang sibuk dengan gembala kambingnya.

Seorang gadis dari keluarga kecil nan sederhana, jauh dari hiruk pikuk kehidupan gemerlap kota dan janji kemilau nya,,,membawa lamunanku menjauh seiring gadis itu menjauh berjalan menuju ujung rel,, sesekali berhenti dan sesekali ia berjalan kembali sambil memanggil ibu nya. Hatiku tertawa geli dan ingin berteriak ….”bawalah aku ke masa kecilku dulu …. aku ingin pulang” … pemandangan sore itu sungguh membuat aku seolah melihat kembali masa kecilku dulu di desa ini……ketika kala itu akupun berbuat hal yang sama, menemani ibu ku ke sawah, menggembala kambing … masa kecil dengan segenap keceriaannya, tak mengenal ada rasa khawatir akan masa depan, tak pernah merisaukan masa lalu, yang ada hanya saat ini….itulah “anak-anak”

Gadis kecil itu berhenti tak jauh dari tanda persimpangan rel berbentuk lingkaran berwarna merah….iapun berbalik arah dan tiba tiba kaget akan keberadaanku yang sedari tadi asyik memotretnya…..(hihihihi….aku tertawa dalam hati)…ia tetap menatapku tanpa menghiraukan aksiku yang memotretnya langsung….keinginan hati ingin menyapa…namun ia lari kembali ke balik semak-semak untuk bertemu dengan ibunya. Sungguh 5 menit yang berharga di sore hari…..

Kuharap ia bisa menceritakan bahwa pria yang berdiri di sana sedang mengimpikan masa kecilnya, mengimpikan  sebuah tempat yang sebentar lagi mungkin ia akan meninggalkannya, sebuah tempat…dimana sejauh apapun kaki melangkah, setinggi apapun cita-cita, segemerlap apapun tempat perantauan…namun ia akan rindu kampung halamannya…sebuah tempat dimana ia selalu merindukannya ….tempat kelahirannya….kampung halamannya….sebuah tempat….a place called home

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠

I walk
I wade
Through full lands
And lonely
I stumble
I stumble
With you
I wait
To be born
Again
With love comes the day
Just hold on to me

Now is the time to follow through, to read the signs
Now the message is sent, let’s bring it to it’s final end

One-day-I-know-there’ll-be-a-place-for-us.

A place called home

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠

-Surabaya –

Kota perjuangan