10 Jam di Maospati….


Berkali-kali kulihat handphone…..ahh..masih jam 02.00 pagi…!! hatiku tak tenang, sementara laju kereta masih menderu membelah gelapnya malam. Istriku sesekali bertanya “….sudah sampai mana mas?…” …..”.Masih di Jogja..!!”… jawabanku setengah sadar…sepertinya akan sampai di tujuan sedikit terlambat, sesuatu yang tak perlu harus dipertanyakan lagi mengenai ketepatan waktu di Negeri ini 😀

Dalam gerbong pertama…sesekali aku melihat ke sekeliling…para penumpang terlelap dalam mimpinya…kucoba melihat keluar Jendela, hanya titik-titik putih berkilauan di kejauhan menyembul dari kegelapan, lampu-lampu teras rumah mengkerlipkan cahayanya. Pandanganku menerawang jauh sembari memikirkan akan tujuan dari kereta Bima yang yang membawa kami pergi…ke sebuah desa yang bernama Maospati, tempat yang selalu kutuliskan akan keindahannya kala masih SD, ketika aku menulis dengan pensil 2H dan karangan itu tak jauh dari judul  “pergi ke rumah kakek dan nenek” 🙂 perjalanan kali ini istimewa tentunya, karena ini kali pertamanya sang cicit ketemu nenek buyutnya…sudah hampir lebih dari 10 tahun aku belum pernah mengunjungi rumah kakek dan nenekku kembali setelah aku meninggalkan kampung halamanku, sebuah rumah, sebuah desa yang hampir selalu terlintas di benak ketika grup paduan suara semasa SD menyanyikan lagu “desaku nan permai”

Menjelang shubuh…kereta BIMA pun berhenti di stasiun Madiun, tampak manusia yang masih setengah tidur berjalan gontai, turun satu persatu di setiap gerbong, terhuyung-huyung kami berjalan …sementara peluit panjang melengking seolah membangunkan para manusia setengah tidur yang menandakan kereta harus berangkat kembalithis is it. tak sabar aku mencicipi pecel Madiun yang kala itu masih berharga 500 rupiah

Perjalanan di kala shubuh membelah sunyinya jalanan desa dengan kabut tebal yang mulai turun, deru mesin diesel mobil Isuzu Panther tua perlahan menyusuri jalanan sempit, bak membuka lembaran rasa rindu yang sedikit demi sedikit terkelupas…..tak sabar aku melihat jalanan kampung dimana dulu aku selalu berjalan kaki membeli pecel Madiun, atau mencari kerupuk yang digoreng dengan pasir yang berasa asin yang bernama kerupuk upil…dinamakan begitu karena memang rasanya asin sekali seperti **** 🙂 (censored) 

Rasanya tak percaya, akhirnya aku bisa sarapan sebungkus nasi pecel dengan daun pisang di rumah seorang kerabat yang memang seorang penjual pecel ….dan kami langsung menyantapnya langsung di dapurnya, sebelum dijajakan kepada pembeli, ketika sayur mayur baru saja matang di rebus, ketika nasi mengepul baru matang, ketika tempe masih matang satu atau dua buah dari kuali yang dimasak di atas tungku berbahan kayu bakar. Dengan logat khas Jawa yang halus yang membuat suasana desa semakin terasa,, Ya Allah…..surga duniawi…gumamku dalam hati!!! 

Waktu berlalu…akhirnya aku sampai di rumah kakek dan nenek, begitu banyak perubahan setelah 10 tahun, ketika matahari mulai meninggi, kulepas sepatu, kujinjing celana hampir setinggi lutut … aku berlari ke tengah ladang … menghirup sejuknya udara pagi dan merasakan embun melekat di sela-sela kaki, sedikit melupakan bagaimana sebenarnya kehidupanku di kota paling ruwet di Indonesia..akhirnya kerinduanku akan kota ini pun terbayar sudah, tak lama pemandangan yang selalu kuimpikan, seoarang petani dan sapi nya sebelum membajak sawah di pagi hari melintas di depanku….aku potret dari jarak yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, dan dengan logat Jawa yang khas “aku di foto yo mas…?” kuberharap skill bahasa Jawaku masih belum kadaluarsa sehingga mampu sedikit berdialog, namun aku memilih menggunakan Bahasa Indonesia… 😀

Farmer & Partner

Mentari mulai meninggi, terpaan cahaya matahari terbit menyapu batang demi batang dari pohon jati, membuat suasana pagi menjadi hangat….

Morning Shine

Rumput liar di tepi jalanan pun turut meramaikan suasanya, rasanya aku ingin waktu berhenti sejenak, seolah aku mengumpulkan baris demi baris kalimat tuk mengungkapkan bahwa aku masih ingin disini

Morning sign

Matahari memanglah mulai meninggi, namun kabut tak mau pergi, dengan rona jingga pagi yang masih pekat, dari kejauhan tampak stasiun jaringan listrik tegangan tinggi, tampak garis tegas batang besi hasil buatan manusia di tengah lahan jagung dengan daunnya yang meliuk-liuk

Morning Haze

Pandanganku tak lepas dari sebuah gubuk gubuk tua di tepi hamparan sawah yang ternyata adalah sebuah rumah pompa untuk mengaliri sawah dan ladang

Pump's House frontside Pump's House

matahari sedikit lebih tinggi lagi, ketika lembaran daun pohon jati menjadi silhouette yang diterpa sinar kuning menandakan matahari masih nyaman di timur jauh dan ketika itu pula kumelangkahkan kaki menjauh, karena waktuku tak banyak …

Morning Haze 2

Sepuluh jam aku berada dalam cerita yang pernah aku buat saat aku masih SD dulu, sebuah cerita yang selalu kulukis di kertas bergambar dengan dua buah gunung yang dibelah dengan sebuah jalan raya di tengah dengan matahari terbit diantaranya dengan senyuman tentunya 🙂 ……sebuah cerita anak SD dengan keluguannya…akhirnya hidup kembali, seolah aku tengah berakting dengan skenario yang aku tulis dulu….akankah cerita ini akan berulang kembali? Aku berharap ya…selama embun masih turun, selama mentari masih hangat dan ketika harapan masih ada….aku selalu merindukannya, tuk bisa kembali ke kampung halamanku dan untuk diceritakan oleh anak-anakku

~~End~~

A Place called home


“When you live on the road,going home is a place to escape and just be with your family to unwind” 

– Jonathan Davis –

Alone Little Girl

Foto di atas diambil kala sore hari di sebuah desa,,,, desa dimana aku dilahirkan, sebuah tempat yang selalu merebahkan asa yang selalu merajut kata “aku ingin pulang” 

Ketika aku beserta istri menyusuri jalanan desa nan sunyi pada sore hari, aku berhenti sejenak di sebuah persimpangan rel kereta api tua bekas lokomotif  uap penarik kereta tebu yang membelah kebun tebu hingga ke pelosok-pelosok desa. Cuaca sore itu cukup tenang dan sejuk setelah pagi hingga siangnya desa diguyur hujan.

Sesekali angin sore berhembus di atas kepala dengan ringannya, sementara rona jingga masih belum tampak tua. Sementara istri memilih untuk tetap mengamatiku dari kejauhan di tepi sungai tak berair, aku berjalan menyusuri rel kereta api secepat aku menghitung bantalan rel kereta api yang mulai lapuk dan berkarat. Di sebelah barat ditempat aku berdiri sebuah keluarga sedang sibuk menggembala hewan ternaknya yang tak seberapa, sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang ibu dan seorang perempuan kecil yang bermaksud membantu ibunya menggembala kambing. Dengan riangnya perempuan kecil itu memain-mainkan rumput dan ilalang di sekelilingnya.

Sungguh hening sore itu, di tengah sepi nan sendu nya sore suara keceriaan sebuah keluarga dengan hewan ternaknya bagaikan sebuah noktah merah di atas kertas polos putih tak berwarna, membawa anganku tuk sekedar merajut memori masa kecilku di desa ini. Keceriaan gadis kecil itu berlanjut ketia ia melompat menapaki satu demi satu bantalan rel kereta api dengan cerianya meninggalkan sendiri ibunya yang sedang sibuk dengan gembala kambingnya.

Seorang gadis dari keluarga kecil nan sederhana, jauh dari hiruk pikuk kehidupan gemerlap kota dan janji kemilau nya,,,membawa lamunanku menjauh seiring gadis itu menjauh berjalan menuju ujung rel,, sesekali berhenti dan sesekali ia berjalan kembali sambil memanggil ibu nya. Hatiku tertawa geli dan ingin berteriak ….”bawalah aku ke masa kecilku dulu …. aku ingin pulang” … pemandangan sore itu sungguh membuat aku seolah melihat kembali masa kecilku dulu di desa ini……ketika kala itu akupun berbuat hal yang sama, menemani ibu ku ke sawah, menggembala kambing … masa kecil dengan segenap keceriaannya, tak mengenal ada rasa khawatir akan masa depan, tak pernah merisaukan masa lalu, yang ada hanya saat ini….itulah “anak-anak”

Gadis kecil itu berhenti tak jauh dari tanda persimpangan rel berbentuk lingkaran berwarna merah….iapun berbalik arah dan tiba tiba kaget akan keberadaanku yang sedari tadi asyik memotretnya…..(hihihihi….aku tertawa dalam hati)…ia tetap menatapku tanpa menghiraukan aksiku yang memotretnya langsung….keinginan hati ingin menyapa…namun ia lari kembali ke balik semak-semak untuk bertemu dengan ibunya. Sungguh 5 menit yang berharga di sore hari…..

Kuharap ia bisa menceritakan bahwa pria yang berdiri di sana sedang mengimpikan masa kecilnya, mengimpikan  sebuah tempat yang sebentar lagi mungkin ia akan meninggalkannya, sebuah tempat…dimana sejauh apapun kaki melangkah, setinggi apapun cita-cita, segemerlap apapun tempat perantauan…namun ia akan rindu kampung halamannya…sebuah tempat dimana ia selalu merindukannya ….tempat kelahirannya….kampung halamannya….sebuah tempat….a place called home

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠

I walk
I wade
Through full lands
And lonely
I stumble
I stumble
With you
I wait
To be born
Again
With love comes the day
Just hold on to me

Now is the time to follow through, to read the signs
Now the message is sent, let’s bring it to it’s final end

One-day-I-know-there’ll-be-a-place-for-us.

A place called home

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠

-Surabaya –

Kota perjuangan