Weekly Photo Challenge – My 2012 in Pictures


December – end of year 2012, I spent the Friday night for sightseeing  the Surabaya city at night, the second largest city in Indonesia. It was 2 days before 1st of January,  I grabbed my camera and went to the fisherman village for taking the Suramadu bridge picture located on Java strait. The beach was very crowded that night, most people spent the time to have dinner with their spouse & family. Most of the people were preparing the new year eve celebration.

Suramadu bridge

The stars were bright that night, the air is so warm and I thought it was a cheerful and colorful night, until I saw a little girl with her father went fishing. They look so hungry like nothing to eat. The old man just prepared his fishing kit while his daughter followed him and standing behind, hoping that little fish take the bait. While most of the people that night laughing, sharing the happiness, those two people just silent in the crowd, enjoying the night just hoping that night they could have a nice dinner with a grilled fish.

Father and daughter

“The heart of a father is the masterpiece of nature.”

-Manon Lescaut-

-Pursuit of happiness-

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

This post is dedicated to my father and Sara Roso for the Weekly Photo Challenge

*-*

A dad is someone who
wants to catch you before you fall
but instead picks you up,
brushes you off,
and lets you try again.

*-*

A dad is someone who
wants to keep you from making mistakes
but instead lets you find your own way,
even though his heart breaks in silence
when you get hurt.

*-*

A dad is someone who
holds you when you cry,
scolds you when you break the rules,
shines with pride when you succeed,
and has faith in you even when you fail…

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

A Place called home


“When you live on the road,going home is a place to escape and just be with your family to unwind” 

– Jonathan Davis –

Alone Little Girl

Foto di atas diambil kala sore hari di sebuah desa,,,, desa dimana aku dilahirkan, sebuah tempat yang selalu merebahkan asa yang selalu merajut kata “aku ingin pulang” 

Ketika aku beserta istri menyusuri jalanan desa nan sunyi pada sore hari, aku berhenti sejenak di sebuah persimpangan rel kereta api tua bekas lokomotif  uap penarik kereta tebu yang membelah kebun tebu hingga ke pelosok-pelosok desa. Cuaca sore itu cukup tenang dan sejuk setelah pagi hingga siangnya desa diguyur hujan.

Sesekali angin sore berhembus di atas kepala dengan ringannya, sementara rona jingga masih belum tampak tua. Sementara istri memilih untuk tetap mengamatiku dari kejauhan di tepi sungai tak berair, aku berjalan menyusuri rel kereta api secepat aku menghitung bantalan rel kereta api yang mulai lapuk dan berkarat. Di sebelah barat ditempat aku berdiri sebuah keluarga sedang sibuk menggembala hewan ternaknya yang tak seberapa, sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang ibu dan seorang perempuan kecil yang bermaksud membantu ibunya menggembala kambing. Dengan riangnya perempuan kecil itu memain-mainkan rumput dan ilalang di sekelilingnya.

Sungguh hening sore itu, di tengah sepi nan sendu nya sore suara keceriaan sebuah keluarga dengan hewan ternaknya bagaikan sebuah noktah merah di atas kertas polos putih tak berwarna, membawa anganku tuk sekedar merajut memori masa kecilku di desa ini. Keceriaan gadis kecil itu berlanjut ketia ia melompat menapaki satu demi satu bantalan rel kereta api dengan cerianya meninggalkan sendiri ibunya yang sedang sibuk dengan gembala kambingnya.

Seorang gadis dari keluarga kecil nan sederhana, jauh dari hiruk pikuk kehidupan gemerlap kota dan janji kemilau nya,,,membawa lamunanku menjauh seiring gadis itu menjauh berjalan menuju ujung rel,, sesekali berhenti dan sesekali ia berjalan kembali sambil memanggil ibu nya. Hatiku tertawa geli dan ingin berteriak ….”bawalah aku ke masa kecilku dulu …. aku ingin pulang” … pemandangan sore itu sungguh membuat aku seolah melihat kembali masa kecilku dulu di desa ini……ketika kala itu akupun berbuat hal yang sama, menemani ibu ku ke sawah, menggembala kambing … masa kecil dengan segenap keceriaannya, tak mengenal ada rasa khawatir akan masa depan, tak pernah merisaukan masa lalu, yang ada hanya saat ini….itulah “anak-anak”

Gadis kecil itu berhenti tak jauh dari tanda persimpangan rel berbentuk lingkaran berwarna merah….iapun berbalik arah dan tiba tiba kaget akan keberadaanku yang sedari tadi asyik memotretnya…..(hihihihi….aku tertawa dalam hati)…ia tetap menatapku tanpa menghiraukan aksiku yang memotretnya langsung….keinginan hati ingin menyapa…namun ia lari kembali ke balik semak-semak untuk bertemu dengan ibunya. Sungguh 5 menit yang berharga di sore hari…..

Kuharap ia bisa menceritakan bahwa pria yang berdiri di sana sedang mengimpikan masa kecilnya, mengimpikan  sebuah tempat yang sebentar lagi mungkin ia akan meninggalkannya, sebuah tempat…dimana sejauh apapun kaki melangkah, setinggi apapun cita-cita, segemerlap apapun tempat perantauan…namun ia akan rindu kampung halamannya…sebuah tempat dimana ia selalu merindukannya ….tempat kelahirannya….kampung halamannya….sebuah tempat….a place called home

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠

I walk
I wade
Through full lands
And lonely
I stumble
I stumble
With you
I wait
To be born
Again
With love comes the day
Just hold on to me

Now is the time to follow through, to read the signs
Now the message is sent, let’s bring it to it’s final end

One-day-I-know-there’ll-be-a-place-for-us.

A place called home

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠

-Surabaya –

Kota perjuangan