Petualangan Keluarga Ke Ujung Selatan Jawa (1)


Bismillahirrahmanirrahim

Suatu pagi di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, pagi cerah nan yang tenang, warna matahari pun kekuningan, sejuk nian pagi itu….Pagi itu kami berbenah, si evie pun tak luput dari tangan-tangan “nganggur” untuk bersih2. Si hitam duduk tenang dan gagah, mengingatkan pendahulunya si Oddy. Setelah kinclong si Evie di “krukupin” (di selimutin – red) biar jadi “tape”…hehehe

Ford Everest

Hari yang dinanti pun tiba, perasaan gelisah gundah gulana akhirnya terjawab di suatu malam tanggal 4 syawal atau 20 Juli 2015. Setelah berjuang melawan sindrom flu dengan mie selera pedas dan tidur menggunakan jaket, akhirnya jam dinding menunjukkan jam 3 dini hari, dan kami pun berhamburan menuju kamar mandi. Hari yng ditunggu pun tiba, yaitu berkelana dan menguji ketangguhan si hitam evie…mendaki gunung lewati lembah…sungai mengalir Indah ke samudra….bersama keluarga berpetualang #bukan ninja Hattori.

Berhubung perjalanan ini adalah perjalanan dini hari, maka kami mempersiapkan kabin khusus untuk tidur anggota anak-anak.

IMG_20150720_071929

Disulaplah bagian belakang kabin Ford Everest menjadi ruang tidur mungil….senang rasanya melihat 2 jagoan kecil akur….dan tidur pulas

Sekedar berbagi tips mengenai susunan penumpang, karena ini perjalanan “multi-usia” … untuk penumpang lansia, grand-yut kami tempatkan di sebelah pengemudi…loh kenapa? karena baris kedua otomatis dihuni oleh car-seat untuk bayi yang sedang masa menyusui. Jadi sang ibu harus diletakkan bersama dengan sang bayi. Sementara untuk bepergian dengan balita, disarankan menggunakan car-seat, selain untuk kemanan dan kenyamanan, dengan adanya car-seat akan membuat sang Ibu tidak cepat lelah memangku bayi, terutama ketika bayi sedang tidur pulas, maka car seat sangat membantu. bahkan sangat membantu ketika sang Ibu ingin tidur, karena dengan bayi di car-seat akan menghindari terjadinya “bayi lepas”  dari pangkuan ibu.

Tapi apa daya jika car seat diserobot sang kakak

IMG-20150724-WA0022

Ketangguhan si Evie kali ini diuji dengan mengkombinasikan penumpang, dari usia 78 tahun dan bayi usia 5 Bulan. Tak pelak, pengembaraan kali ini memang ajang factor kenyamanan evie melewati jalur yang “sedikit menantang”. Kami memilih “Sawarna” dan “Ujung Genteng” sebagai tujuan akhir dari perjalanan kami. Dari hasil bocoran intelijen, akan ada kombinasi jalan rusak, semi offroad dan tanjakan yang cukup untuk mengobati rasa penasaran akan maksimum torsi evie di 330/1800 Nm/rpm dengan penggerak roda belakang. Paling tidak alasan touring kali ini adalah ajang pembenaran kami memilih Ford Everest sebagai kuda tunggangan keluarga yang bisa segala medan..hehehehehe.

Perjalanan dimulai dengan mudik ke keluarga istri di Purwadadi, sembari melewati lembang kami menuju Bandung keesokan hari nya. Bermalam di Bandung sang evie sudah nampak berdebu setelah berkelana ke Purwadadi. Demi mendapatkan kembali tenaga yang terkuras habis bermacet ria di Lembang, kesehatan pengemudi dan penumpang perlu mendapat perhatian. Dan malam itu adalah malam yang relative singkat untuk melepas penat, tapi kami semua memiliki kualitas tidur yang baik……tidur pulas….!!

Petualangan pun dimulai, setelah berkumpul dengan anggota touring yang sama ketika kami touring ke Garut. Kami berangkat dari Bandung ke Sawarna Via Sukabumi. Perjalanan ke Sawarna “sesuatu banget”….selepas Sukabumi sebelum bersua dengan pelabuhan ratu, kami disuguhkan jalan yang luar biasa jeleknya. Dengan posisi no.3 dari iring-iringan, rasa kantuk yang luar biasa, serta jarak aman “pengereman” si Evie yang cukup lebar, membuat urutan no.3 selalu diperebutkan dengan mobil lain, walhasil si evie selalu keteteran mengejar dua grand livina di depannya. Dengan body bongsor, saya aga kesulitan untuk bermanuver atau take-over di jalan sempit.

Namun, rasa pegal dan jenuh diobati pemandangan yang luar biasa dari atas ketinggian.

Satu hal yang menarik, berkendara dengan Ford Everest, dengan ground clearance yang cukup tinggi, fuel tank capacity yang mencapai 70L, serta mampu menegak Biosolar…. maka ….. perjalanan panjang melewati jalur “jarang SPBU”, torsi yang memadai, paduan jalan mendaki, semi offroad, dan jalanan berlubang membuat berkendara jauh lebih nyaman dan tak perlu was-was lagi, bahkan selama berkendara saya tak perlu ancang-ancang yang cukup jauh ketika akan melewati jalan yang mendaki, sehingga membuat pengemudi lebih rileks. Dan dari hasil survey para penumpang…sejauh berkendara etape pertama ini tak ada keluhan berarti akan kenyamanannya….selain yang kadang “glodakan” .. hehehe

Namun yang menjadi kelemahan adalah tipe suspensi belakang yang berupa Rigid Leaf Spring with Stabilizer, membuat pantulan “ekor” si evie cukup berasa hentakannya. Karena tipe suspensi ini di design untuk bekerja keras, maka sejatinya untuk maximum load-lah barulah suspensi belakang bisa teredam “keganasannya”. Mengenai performa pengeraman, Ford Everest ini memiliki jarak pengereman yang cukup panjang, jadi perlu hati-hati dalam menjaga jarak dengan mobil di depannya. Maka motto “you can drive faster but we can go everywhere” sangat tepat disematkan kepada Ford Everest ini….(bukan promosi lho ya)

Pantai Selatan

Hari pun semakin gelap….singkat cerita, 10 km menuju penginapan di Little Hula-Hula di pantai sawarna, sajian jalan semi offroad di malam hari menemani perut keroncongan dan badan pegal tak sabar untuk sampai di penginapan. Walhasil, dengan menembus gelapnya malam melewati jalan yang rusak berat kami sampai di penginapan. Dengan fasilitas yang ada, saya rasa cukup sepadan dengan harganya. Namun yang menjadi catatan adalah jalan infrastruktur menuju pantai sawarna yang membuat saya sangat kecewa. Jalan yang tak terawat, sedikit penerangan dan rambu-rambu yang tidak jelas menuju lokasi pantai membuat kesan pantai sawarna yang konon surga yang tersembunyi tidaklah benar adanya.

Tapi diluar itu semua, marilah kita simak pemandangan di bawah ni….

Pantai Sawarna

Tujuan kami ke pantai selatan adalah melihat keganasan Samudra Hindia….

Raihanah Sawarna-2

Membuat si kecil bahagia adalah suatu tambahan ekstra dalam perjalanan kali ini…

Raihanah - sawarna

Mengeksplorasi rasa keingintahuannya mengenai “apa itu ombak”

Albanie & Raihanah 1

Karena kebetulan air lagi surut … maka ikan yang terperangkap di kubangan serta Ophiuroidea (bintang ular – red) yang malau-malu bersembunyi di balik karang menjadi daya tarik tersendiri duo kecil.

IMG_20150722_062923IMG_20150722_062820IMG_20150722_062826IMG_20150722_071454

Keceriaan si kecil setelah perjalanan panjang

 Sawarna - paddies fieldSalah satu spot favorit di sebelah penginapan

IMG-20150722-WA0011

Personnel yang sama ketika touring ke Garut

IMG-20150722-WA0024

IMG-20150722-WA0027

Grand-yut put tak mau ketinggalanmenikmati touring kali ini, di usia nya 78 tahun tak surut semangat untuk menjelajahi ujung selatan pulau jawa

Akhirnya menjelang tengah hari, kami harus berkemas, menuju destinasi berikutnya yang tak kalah menantang jalur nya ….

Membawa personel dengan rentang usia cukup besar menjadi tantangan sendiri, karena masing-masing usia memiliki kecepatannya sendiri dan caranya sendiri untuk menikmati suasana liburan…hehheh

 

Etape berikutnya berlanjut di  tulisan berikutnya

⇒⇐⇒⇐⇒⇐⇒⇐⇒⇐

Depok di pagi hari setelah diguyur hujan….

sebelum berangkat ngantor tentunya

2 thoughts on “Petualangan Keluarga Ke Ujung Selatan Jawa (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s