Kesan Pertama Test Drive Ford Everest


My Evie (2)

Sebagai MPV-er, kenyamanan MPV lama si Oddy memang sulit dilupakan. Selain mobil pertama buat keluarga, kisah perjalanan dengan si Oddy selalu diliputi perjalanan yang menyenangkan.

Hingga tibalah masa nya, suatu hari yang panjang, dalam perjalanan touring yang melelahkan bersama si Oddy, membuat hati ini berpaling. Jalanan rusak, tanjakan yang cukup terjal serta hamparan gravel membuat hati tak kuasa “menyiksa si Oddy” bekerja keras hingga batas kemampuannya. Walau jalanan rusak, namun ketenangan penumpang di kabin tetap dimanjakan oleh Si Oddy. Hingga akhirnya, hati goyah, gundah gulana … (halah…..).

Suatu malam yang gelap dimana saya pertama kali bersua dengan pengganti Oddy, belantara jalanan jakarta menutupi warna kulitnya, posturnya tinggi dengan berat mencapai 2.5 ton, kokoh, Perkasa dan memberikan rasa “secure” bagi penunggangnya. Ia menyusuri jalan-jalan dalam ramainya malam. Perasaan kaku, karena sudah lama tidak berkendara kuda besi semakin menyeruak di dalam kabin. Angkernya jalan bergelombang sudah tidak menakutkan lagi, namun angkernya jalanan sempit serta U-turn masih menghantui ketika berkendara. Si kuda besi dengan turning radius 6100 mm dan panjang sekitar 5 meter ini memang membutuhkan “skill” untuk berbalik haluan 360 derajat. Untungnya saya terbiasa membawa mobil panjang dengan turning radius “seadanya”, sebut saja si oddy, hal ini membuat mental saya lebih terasah dan tak terlalu kecewa (karena belum pernah merasakan berkendara kuda poni….hehhehe)

Bantingan memanglah tidak untuk dibandingkan dengan MPV, terlebih jika dibandingkan dengan si Oddy sang MPV sejati, namun ia sejatinya lelaki Perkasa untuk kerja keras. Kaki-kakinya kuat menapak, tak peduli medan yang dilalui nya. Dengan ground clearance 210 mm, perasaan takut tergores tepi trotoar sudah mulai sirna, terlebih lubang berisi air lumpur yang bukan “sesuatu banget” lagi. Untuk kecepatan tinggi di jalan aspal, dengan kondisi jalan yang kurang baik, maka pastilah kita akan diajak “berayun” bak menaiki kuda jantan di ajang rodeo….eits tunggu dulu tapi….itu jika penunggangnya hanya 1orang …jika si rodeo membawa beban lebih beserta konco-konconya, maka kenyamanan berkendara langsung dicapai…terlebih jika sadel nya benar-bernar terisi hingga 7 orang, maka efek mantul-mantul berkurang drastis. Mantul-mantul adalah hal yang lumrah jika menilik suspensi belakang yang memiliki Rigid Leaf Spring with Stabilizer, karena ia dirancang untuk membawa muatan berat. Justru karena itulah keluarga kami rela mengorbankan kenyamanan demi ke mapuan membawa muatan berat, karena sebentar lagi kami akan menjadi keluarga besar, dan kebiasaan keluarga kami yang suka bawa “Ransum”yang tidak sedikit setiap kali bepergian. Ditambah lagi keinginan keluarga yang igin berkelana lebih jauh dengan medan yang lebih bervariasi namun menawarkan ruang kabin yang lega. Pantaslah memang si kuda besi pengganti Oddy disebut sosok yang “tough and dominant” dengan semangat ÿou can drive further with it

Si Evie, saya menyebutnya, karena ia peminum bahan bakar hidrokarbon rantai panjang sampai 14, tidak seperti karakter kuda peminum bahan bakar hidrokarbon rantai 8, hentakan nya tidak se-responsif kuda peminum “öktan”. Dengan maksimum torsi 330 Nm di putaran 1800 rpm, membuat tarikan bawah memang menguji “kesabaran”. Tapi jika kaki menginjak pedal lebih dalam lagi, maka si kuda besi peminum “cetane” akan segera menderu garang berkat mesin DURATORQ 2.5L Diesel, 4-Cyl., 16-Valve, DOHC, Direct Injection Commonrail Turbo with Intercooler. Terbukti di beberapa kesempatan, saya iseng menginjak lebih dalam pedal gas….maka hentakan nya langsung membuat Istri saya mengomel…heheheh.

Tidak hanya di situ saja, ternyata perpindahan gigi si Evie cukup halus dan sedikit hentakan, bahkan saya tidak merasakan hentakan. Interiornya sederhana, apa adanya, dan menurut saya cukup berkarakter. Kalau boleh dibilang “lelaki apa adanya”, dan memanglah sang pekerja keras tak butuh pernak-pernik ala boyband korea…heheheh. Justru simple yang menjadi trade mark SUV pekerja keras ini. Walaupun sederhana namun quality build nya oke. Tak ada bunyi-bunyian di dashboard, dan cukup rapi antara panel yang satu dengan yang lainnya. Tentunya lagi-lagi tidak untuk dibandingkan dengan MPV saya yang pertama.

Akhirnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, si Evie saat ini menjadi anggota keluarga kecil kami. Perjalanan keluarga masih panjang membentang di hadapan, yang tentunya akan menarik jika diceritakan nantinya. Hadza min fadhli robbi.

 

Video di bawah saya ambil dari iklan Ford Endeavor (ketika masuk Asia Pacific menjadi Everest)

 

 

2 thoughts on “Kesan Pertama Test Drive Ford Everest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s