De Javasche Bank – Riwayatmu Kini


Mendapatkan notifikasi tentang sejarah perbankan Indonesia, langsung teringat akan janji yang belum ditunaikan ketika mendapatkan kesempatan istimewa menjadi orang yang pertama kali (iya betul orang yang pertama kali) mengunjungi de Javasche Bank di tahun 2012.

Dan alhamdulillah tulisan saya mendapat banyak koreksi dari De javasche Bank Promotion Manager mba Kiki, dan insyaallah tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan.

Alkisah ketika saya dan sepupu saya hunting foto kota tua Surabaya. Di hari yang mendung dan hujan rintik – rintik, kami mulai menyusuri jalan di sekitar Jembatan Merah hingga terdampar di sebuah gedung kuno yang sudah tampak lebih cantik dibanding dengan gedung lainnya.

Jari mulai merekam setiap sisi luar gedung, hingga security penjaga gerbang dari sebuah gedung yang konon katanya ex. Gedung BNI dulunya menyapa kami (karena tampangnya mencurigakan kali yah… :D) ”sedang apa mas?….foto-foto ya? Silahkan masuk, mas boleh kok foto bagian dalamnya…” . Memasuki gedung kami langsung disambut dengan manajer Museum yang bernama mas Ahmad untuk ditawari berkeliling museum. Dari penjelasan yang beliau sampaikan, dengan cukup antusias, mencerminkan dedikasinya untuk menggawangi gedung De Javasche Bank ini.

Sang manajer Museum berkata pada kami bahwa gedung ini baru diresmikan menjadi Museum beberapa hari yang lalu, namun tidak semua orang tahu, dan kami lah yang pertama kali mengunjungi museum ini …. Senang bukan kepalang tentunya, ….. dan saya berjanji untuk memposting tulisan ini untuk beliau … sang “Museum Keeper”😀 (mohon maaf tulisannya baru muncul 2 tahun kemudian karena suatu hal).

Bercerita tentang sejarahnya,saya kutipkan hasil koreksi mba Kiki berdasarkan Gedenkboek, pembangunan gedung De Javasche Bank di Surabaya adalah pada September 1829. Gedung yang dibangun pada 1828 adalah Kantor Pusat yang ada di Jakarta. Pada hakikatnya, De Javasche Bank diberi kewenangan tidak hanya untuk mencetak uang (info ini masih akan beliau kaji lagi), melainkan juga untuk menyimpakan dan untuk menyediakan kredit bagi perusahaan-perusahaan”. Prakarsa pembangunan javaschee Bank ini adalah untuk mencetak mata uang Indonesia dengan presiden direktur yang pertama kala itu adalah Chr. de Haan.

Gambar 1. Beginilah gedung Javasche Bank yang diperkirakan awal 1900-an

jiunkpe-ns-mmedia-1915-na00001-20-javasche_bank-resource11

 Gambar 2. Salah Satu Pecahan Mata Uang yang Dikeluarkan Javasche Bank

Javasche_bank

De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud, dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij, Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies. Menurut sumber yang terpercaya (Mba Kiki – pen) dia mengatakan “Octrooi bukanlah hak, menurut pengertian saya. karena octrooi itu semacam undang2 atau amandemen”

Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota. Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J. Smulders.

Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, serta sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.

Gambar 3. Beginilah gedung Javasche Bank yang sempat saya potret di tahun 2012

de javasche bank 2013

Oke deh … kembali ke tempat dimana saya berpijak kala itu, kami masuk ke gedung dan diarak menuju lantai paling bawah. Kesan pengap dan lembab langsung menyergap. Sang manajer museum De Javasche Bank menunjukkan foto-foto kondisi bawah tanah sebelum di renovasi. Tak tahan rasanya melihat foto-foto de Javasche Bank sebelum di konservasi, bagaikan rumah hantu bak uji nyali. Ia pun berkata, bahwa ruangan bawah tanah ini dulunya terendam air hamper selutut orang dewasa yang berasal dari system drainase sekitar yang dikarenakan pompa air ruangan bawah tanah yang tidak berfungsi.

Berbicara bangunan kolonial, tak lengkap rasanya berbicara mengenai gaya arsitekturnya. Dan ternyata setelah saya menyelusuri salah satu paper yang dibuat oleh salah satu mahasiswa Petra, dan rupanya di kutip di buku panduan Museum yang dihadiahkan mas Ahmad kepada saya (terima kasih sekali mas Ahmad atas kebaikannya). Dikisahkan  bahwa gedung ini memanglah dibangun di tahun 1828 tetapi dipugar di tahun 1910 dan dibangun kembali di lokasi yang sama dengan gaya arsitektur Neo Renaissance atau gaya Elektisisme. Tidak tanggung-tanggung pengerjaannya langsung dibawah biro arsitek terkemuka Hindia Belanda yang didirikan oleh Eduard Cuypers, Marius J. Hulswit bersama A.A Vermont. (namun statement ini masih disangsikan kebenarannya dan masih diselidiki oleh pihak Museum Javasce Bank)

Akan tetapi menurut informasi terakhir dari mba kiki selaku person in charge dalam memberikan informasi yang sesuai, beliau mengatakan gedung De Javasche Bank mengalami renovasi sekitar tahun 1920an. Semua ruang digeser dan dirubah tanpa merubah kolom bangunan. bahkan posisi pintu pun digeser, yang semula ada di pinggir, digeser menjadi di tengah. Menurut kawan saya, pintu putar yang sekarang berada di gedung baru menjadi trend di Amsterdam sekitar tahun 1922. Jadi kami berasumsi bahwa pemugaran gedung terjadi setelah tahun 1922. Gedung tersebut digunakan Bank Indonesia pada tahun 1953/54, dan menurut Kepala Humas Bank Indonesia, pada waktu digunakan Bank Indonesia, posisi pintu sudah seperti sekarang, juga sudah ada penambahan ruangan untuk ruang kepala cabang, dan 2 bangunan tambahan. Jadi kami berasumsi, semua pemugaran itu dilakukan pada jaman Kolonial” .

Beliau suga menambahkan dan mengenai lantai, bersama dengan kawan saya (cucu dari kepala cabang terakhir De Javasche Bank), kami mengkaji denah gedung, lantai 1 dan basement, pada tahun 1910 dan menemukan bahwa lantai tidak diubah. bahkan, warna ubin menunjukkan bagian-bagian dari ruangan lantai 1. ubin berwarna hitam merupakan tempat partisi diletakkan untuk membagi hall menjadi beberapa ruangan kecil untuk kantor kepala cabang (tepat di tengah2 ruangan di bawah strain glass), ruang asisten teller, ruang administrasi pembukuan, ruang kliring, ruang teller, dan ruang (yang kami asumsikan) sebagai tempat pertemuan pimpinan perusahaan dengan kepala cabang dalam proses pengajuan kredit, 1 ruang khusus disediakan bagi nasabah yang bertransaksi dengan jumlah besar, sedikit ruang untuk jalan di dekat dinding, dan ubin berwarna abu-abu merupakan ruang publik dimana nasabah menunggu giliran untuk dilayani”.

Khusus desain Javasche Bank ada tiga komponen menarik yang wajib dibahas. Pertama adalah fitur klasik berupa pilar yang tetap dihadirkan namun berubah fungsi. Pilar kekar itu di”slempit”kan kedalam tembok dan menjadi dekorasi. Kesan angkuh berwibawa tetap hadir namun kesan bangunan lebih segar dan jauh dari kesan  jiplakan. Pilar-pilar yang menyusup kedalam tembok ini banyak kita temui di gedung-gedung bergaya Second Empire (1850-1880).

Kedua adalah bentuk atap yang merupakan modifikasi  bentuk atap yang pernah populer di Perancis abad ke-17. Atap ini kemiringannya hampir vertical dan disebut atap Mansart, nama arsitek Perancis Francois Mansart (1596-1666) yang menciptakannya. Gaya atap ini juga dipakai lagi oleh arsitek-arsitek Second Empire.

Ketiga adalah ornamen Hindu Jawa yang tidak mungkin terlewatkan mata, yang menghiasi eksterior gedung. Ornamen ini sepertinya dimaksudkan untuk memberikan cita-rasa lokal pada bangunan model baru ini.  Bandingkan bangunan di Surabaya sebelumnya yang bergaya Eropa dan ornamen local nya absen. Sempat sekilas membaca salah satu paragraf di buku panduan Museum, bahwa rancangan gedung ini dikritik oleh beberapa pengamat arsitektur karena tidak cocok dengan iklim tropis indonesia (sampai saat ini saya belum paham betul apanya yang salah…. hehhe…maklum bukan Arsitek)

Gambar 4. Beginilah Foto Javasche Bank Ketika Pertama Kali Didirikan (Sumber : KITLV) – Bandingkan dengan gambar yang pertama

242d5f76-35bb-43c0-91f4-fee099faed80

 

Beberapa gambar di bawah adalah penampakan ruang bawah tanah yang sempat terekam kamera. Hampir semuanya peninggalan Bank BI di era-era awal sebelumnya bukan peninggalan Javasche Bank sendiri. Ruangan bawah tanah dijadikan gallery peralatan-peralatan Bank, serta replica emas batangan. Dari segi design, dsign bangunan di bawah tanah dirancang sedemikian rupa sehingga aman dari pencurian. Tampak cermin di setriap sudut lorong yang sekaligus bisa melihat di setiap lorong-lorong di sisi sebelahnya. Bagaikan CCTV semua aktivitas di sepnajang lorong dapat terpantau melalu cermin yang membuat bayangan bisa dipantulkan oleh pengawas.

Gambar 5. Lorong – Lorong di Lantai Bawah Tanah

Corridor - underground

Berkeliling di ruang bawah tanah (yang memang ahlinya orang londo untuk membuat sesuatu yang lebih rendah dari permukaan bawah laut), kami menyusuri lorong2 penyimpanan atau brankas uang, emas ataupun surat berharga. Dari pintu brankas tampak pembuat brankas yang ternyata perusahaan itu “masih hidup” sampai sekarang. Yaitu LIPS Brandkasten yang bermarkas di Dordrecht di Belanda. Uniknya LIPS Brankasten ini adalah sebuah perusahaan keluarga yang didirikan sekita tahun 1847 dan tetap eksis sampai sekarang.

Bisa dibayangkan perusahaan yang panjang umurnya….itu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa bangunan colonial itu umumnya awet dan berikut para supplier bangunannya yang umumnya bisa di tracking hingga saat ini. Bahkan untuk urusan perusahaan pembuat Grendel pintu.

Gambar 6. Salah satu benda-benda yang dipamerkan di ruangan bawah tanah termasuk emas batangan tiruan

de Javasche Bank Gallery - 3 de Javasche Bank Gallery - 1

Gambar 7. Logo LIPS Brandkasten Yang Tampak di Brankas Bawah Tanah

Deposit box symbol

Deposit box 2

Gambar 8. Bandingkan Dengan Yang Ini (bisa di lihat disini sejarahnya)

Etablissements_Lips_SA_-_Bruxelles

Gambar 9. Salah Satu Brankas di Lorong Bawah Tanah yang dibuat oleh LIPS Brandkasten

Info yang saya dapat bahwa setiap Hollandsche yang berkunjung di De Javasche Bank bercerita bahwa hampir semua rumah di Belanda menggunakan produk buatan Lips untuk kunci dan gembok. salah satu pengunjung pernah bekerja di Bank, dan dari beliau saya dapat informasi brankasnya juga buatan Lips.

Deposit box

Baiklah, setelah kita melihat gedung dari luar – bawah tanah, akhirnya saya naik ke permukaan….sempat menghela nafas karena saya melihat gaya arsitektur yang masih dijaga dengan baik, dengan konsep konservasi yang dikerjakan dengan teliti.

Gambar 10. Suasana Kantor Kala Itu (Sumber : Tropen Museum – Wikipedia)

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_van_de_Javasche_Bank_in_Soerabaja_TMnr_10015466 COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015475

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Interieur_kantoor_Javasche_Bank_TMnr_10015474

Gambar di atas disangsikan interior Javasche Bank Surabaya (namun saya belum mendapat bukti yang kuat, karena foto-foto saya ambil dari KITLV)

Gambar 11. Suasana Interior Saat ini (Diambil tahun 2012)

de javasche bank interior 3 de javasche bank interior

Gambar 12. Wong Fei Hung sedang ambil kredit cicilan 0% (hehehe..kalau ini bercanda) sumber : Wikipedia

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_loketten_van_de_Javasche_Bank_te_Batavia._TMnr_60002647

Gambar 13. Lokasi Teller saat ini (Perkiraan saya gambar di atas bukan di gedung utama karena lantai yang masih terbuat dari kayu, akan tetapi di gedung sebelah yang saat ini telah dipugar)

Bilik Nasabah

Mata ini tak henti-hentinya mengamati sekeliling, seolah berada di Javasche Bank jaman dulu, pantas saja gedung Javaschew Bank ini mendapatkan nominasi Surabaya Tourism Award dari Pemkot Surabaya dan masuk dalam salah satu destinasi Surabaya HeritageTrack yang dikelola House of Sampoerna.

Konservasi yang teliti dan mendetrai ditandai dengan meniru pola cat di pilar nya. Gambar pertama adalah pola hasil rekonstruksi dan pola cat di pilar bawahnya adalah versi aslinya.

Gambarf 14. Motif di Pilar Penyangga Gedung

Motif pilar renewed

Motif pilar original

Setelah panjang lebar berbicara di lantai utama, kami diajak naik ke attic, sebuah ruangan antara atap dan plafon. Menurut penjelasan mas Ahmad, ruangan ini paling tidak favorit, sepi dan tak ada orang yang mau berlama-lama di ruangan ini🙂

Gambarf 15. Attic – tempat menyimpan arsip dan berkas-berkas

Attic

Setelah puas berdiskusi, kami diajak ke kantor dan dihadiahi sebuah buku lengkap tentang sejarah ghedung Javasche Bank serta metode konserevasinya. Satu hal yang selalu menarik bagi saya, setiap kali berkunjung ke bangunan tua adalah sejarahnya ….. karena dari sejarah kita dapat berkhayal sembari mengambil manfaat akan apa yang pernah terjadi di jaman lampau. Termasuk tulisan yang saya buat ini, mudah-mudahan memberikan jejak manarik untuk mengingat gedung Javasche Bank

SEKIAN

**************

Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada

– Mas Ahmad yang sangat antusias menyambut kami dan sabar menunggu laporan perjalanan kami

– dek Detta yang sudi menemani dan penunjuk jalan selama saya di Surabaya, walaupun hujan tetap semangat berburu kisah-kisah kota tua di Surabaya

– Angkita Wasito Kirana – Promotion Manager yang sudah sudi merevisi dan mengkoreksi isi tulisan saya. Saya apresiasi dedikasinya untuk mengggali terus sejarah gedung ini

5 thoughts on “De Javasche Bank – Riwayatmu Kini

  1. Kepada pak Hendra Taruna …Artikel dan Foto De Javache Bank sangat menarik …saya boleh minta ijin untuk mengutip 2-3 foto untuk melengkapi bahan tulisan jurnal internasional tentang Museum Bank Indonesia ? Terima kasih. Ardiyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s