Asiyah, Wanita yang Ditampakkan Surga Kepadanya


Bismillahirrahmanirrahim….

~~~~

Tercenung sejenak semenjak Istriku menunjukan padaku sebuah video berdurasi pendek seorang anak yang di-dzolimi oleh pembantu atau babysitter nya. Terbesit di benakku….“kemana sang ibu-nya ya?”.…..“mudah-mudahan Allah melindungi anak tersebut…” karena tak sanggup lagi aku meneruskan melihatnya, Iba, Sedih dan marah bercampur jadi satu. Banyak perdebatan tentang bolehnya wanita keluar rumah dengan resiko salah satunya meninggalkan sang anak sendirian di rumah bersama pembantu atau babysitter. Inilah fenomena yang harus dihadapi anak-anak kita saat ini. Entah alasan ekonomi entah alasan emansipasi entah alasan…….ah entahlah….alasan apalagi.

Duduk di depan TV pun tak luput dari berita tuntutan wanita untuk mendapatkan haknya atau ingin disamakan hak nya dengan pria. Keluar rumah buka pintu…koran melayang dilempar ke teras rumah….langganan koran telah datang….beritanya terkadang tak jauh2 dari perkosaan, hak asasi wanita, keberhasilan wanita, atau bahkan koruptor wanita atau berita mengenai kisah istri-istri pejabat para pembesar Negara. Seolah-olah tak ada habisnya wanita menarik perhatian dunia. Beberapa wanita pun ingin menunjukkan eksistensinya saat ini dengan cara-caranya, beberapa pembicara wanita yang konon katanya merupakan tonggak keberhasilan para wanita pernah berbicara bahwa saat ini wanita sudah menunjukkan perkembangan yang pesat kontribusinya. Beberapa pembahasan juga membahas perbedaan wanita saat ini dan masa lalu, bahkan ada wanita yang diperingati sebagai hari besar di Negara ini, yang tiap tahun dijadikan momentum untuk menyuarakan hak-hak nya. Sekali lagi wanita “katanya” merasa terdzolimi, dan menuntut akan perbaikan hak.

Buka Internet….beritanya sebagaian besar sekarang tidak jauh dari pembahasan wanita, dari kisah 10 wanita yang paling hebat, kisah sukses karir wanita, atau wanita yang berhasil menarik jutaan mata pria (entah ini sebuah kemajuan atau malah tanda-tanda kerusakan jaman…na’udzubillah). Namun semua itu seolah merasa tak cukup……..

Di tengah hiruk pikuknya Dunia yang ingin mengangkat derajat wanita setinggi-tingginya, aku teringat sebuah kisah mengenai seorang wanita. Beliau bukan wanita masa kini, beliau hidup seribu tahun lebih yang lalu, beliaupun bukan pahlawan Nasional.  Tidak tanggung-tanggug dia adalah Istri seorang lelaki yang pernah membangun peradaban yang bahkan sisanya bisa kita amati 1000 tahun lebih kemudian dan bahkan hingga saat ini. Namun kisahnya ….. bahkan tak jarang para wanita yang tuk sekedar mengingatnya, mencontohnya atau bahkan paling tidak ……tuk sekedar tau namanya.

Seorang wanita dengan segala kelembutannya ditakdirkan untuk mendampingi seorang pria penguasa yang bahkan rakyatnya mengangapnya Tuhan. Dengan segala kebesaran kerajaannya di Dunia kala itu, dan bahkan Allah ‘azza wa jalla mengutus hambanya yang terbaik untuk hidup di tengah-tengah zamannya. Sungguh sebuah masa yang layak diceritakan dengan tinta emas.

Inilah kisah hidup seorang Istri, seorang wanita yang mendampingi seorang penguasa yang belum pernah ada di zaman sesudahnya mendampingi seorang Raja. Raja yang selalu diceritakan akan kekejamannya sekaligus kemampuannya membangun peradaban di sebuah tanah yang mungkin tak terbayangkan di benak kita bahwa itu adalah peradaban termaju yang pernah ada, tak habis-habis nya Dunia ingin mengetahuinya dan takjub akan peninggalannya, bahkan Raja tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an. Siapakah istri Raja tersebut?

inilah Kisahnya…………………..

Asiyah, Wanita yang Ditampakkan Surga Kepadanya

Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman. Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.

Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Fir’aun. Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.

Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka, “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?” Mereka menyanjungnya.Lalu Fir’aun berkata lagi kepada mereka,“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.” Berkatalah mereka kepadanya,“Bunuhlah dia!”

Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.

Dimulailah siksaan itu, Fir’aun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah…saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik dan bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mugkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu.

Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap? Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.

Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala. Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Fir’aun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.

Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdo’a memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Qur’an,

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11)

Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Fir’aun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Fir’aun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.

Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Saudariku..tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.

Saudariku..tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu? Apakah kita tidak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita untuk meraih janji Allah Ta’ala, surga dan kenikmatannya.

Saudariku…jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita. Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman. Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita. Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.

Maraaji’:
14 Wanita Mulia dalam sejarah Islam (terjemahan dari Nisa’ Lahunna Mawaqif) karya Azhari Ahmad Mahmud

sumber : http://www.muslimah.or.id

Beliau adalah wanita….seperti halnya para wanita pada umumnya

Wanita dengan kelembutannya 

Dan kelembutan dan kesabaran adalah kekuatannya

Aku ingin semua wanita yang sedang mencari jati dirinya bisa mengambil hikmah akan kisahnya

~~~~~~~~

♦ Gema Pesona ♦

Pagi Yang Sejuk di hari-hari pertama tahun 2012

Sambil menikmati kicauan burung di belakang rumah

2 thoughts on “Asiyah, Wanita yang Ditampakkan Surga Kepadanya

  1. Hello, Hendra Taruna! I’m interested in your very beautiful orchid photo! Can you send me original photo, i’d like to print it and put on the wall! Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s