Langit yang Tak Terlupakan…..


Sewaktu SD, ada lagu wajib yang harus dibawakan ketika ujian praktek kesenian, salah satunya adalah “Desaku yang Permai”, di waktu SD pula, ujian catur wulan (aku dulu menyebutnya THB), setiap ada bagian mengarang untuk ujian bahasa Indonesia, lagi-lagi yang kupilih adalah kisah perjalanan ke rumah Kakek- Nenek, eeeeh pas lagi pelajaran menggambar yang kugambar pun ga jauh-jauh dari suasana desa, dua gunung yang bertemu jadi satu dan jalan raya yang membelah di tengah-nya. Dulu tak pernah terlintas bahwa aku pernah hidup di lukisan, di syair lagu dan di karangan cerita yang aku buat.

Satu hal yang tak pernah kulupakan semasa SD, yaitu menggambar langit dan melukiskannya. Begitu sulitnya aku sering menghabiskan banyak waktu untuk menatapnya. Masih terngiang di benakku, pertanyaan yang aku lontarkan kepada ibuku di kala sore hari. Kala itu musim hujan, hujan terus turun tak henti-hentinya di paruh tahun terakhir… (ga seperti sekarang….kampung halamanku selalu saja musim kemarau…).  Kala itu aku sempat bersedih…kapan langit cerah biru jernih itu akan tampak lagi, akupn berkata pada ibuku : “mi kalau misalnya ga usah pake langit, warna langit jadi apa ya??”  ibuku menimpali ” ya jadi morat-marit (acak – kadul – red) le warnanya”. Aku cuma terdiam….ga ngerti bagaimana maksud langit yang morat-marit…heheheh.  Dua puluh tahun berselang…kurindukan syair itu, kurindukan lukisan itu dan masih kurindukan karanganku….betapa langit yang tak terlupakan…..

Spot ini adalah spot favoritku. Foto ini diambil kala pagi hari…gradasi langit sedemikian indahnya tak pernah kujumpai di Jakarta..dengan barisan gunung ringgit di belakang dan cerobong asap PG Wringin Anom di sebelah kanan

Masih foto yang sama dengan yang atas ^_^

Padi menghijau bak permadani…dengan gubuk,yang orang-orang Situbondo menyebutnya “ranggun”, kala masih kecil aku suka duduk-duduk berbagi cerita sembari membawa bungkusan nasi, tempe dan tahu menemani obrolan santai masa kanak-kanak. Tawa riang terkikih-kikih sambil mendengarkan gemericik sungai kecil kala kami mencari rumput untuk makanan kelinci, adalah hal terindah yang masih ada di benak…entah moment itu akan sekali datang mungkinkah kelak aku akan mendapatinya kembali…entahlah

Suasana tanam padi…dulu membajak sawah hanya menggunakan sapi…dimana sang petani membawa beberapa sapi nya dengan lonceng di lehernya berjalan menyusuri jalan setapak …..setiap kali bertemu mereka…tak lupa sang petani memberikan salam kepada setiap orang yang dilaluinya bahkan terhadapku yang kala itu masih kecil…apa saling sapa itu masih ada sampai kini..???

Traktor mulai menggantikan sapi dalam membajak sawah……adalah hal yang umum…peternak kambing melepas kambingnya di tengah sawah pasca panen….^_^ sayang foto pas aku menggembala kambing mboten wonten heheheheh

Hobby sebagian besar para peternak dan petani…yaitu ngarit atau mengambil rerumputan untuk makanan ternak…..dulu kalau saya malas belajar pasti ibu bilang “yo wes kamu kalau udah besar ngarit aja…..”

Sistem membajak 2 shift…hehhhe…yang satu istirahat yang satu kerja…

Gunung di belakang yang menjulang….kami menyebutnya gunung putri tidur..karena kalau dilihat dari kejauhan mirip kepala putri yang sedah rebahan tidur dengan rambut yang terurai

Wringin Anom Suikerfabrique…aka pabrik gula Wringin Anom peninggalan Belanda…di cerobongnya kalau aku tidak lupa ada tulisan 1889….bunyi cerobong ini dulu aku jadikan acuan untuk berangkat sekolah…jadi kalau sudah jam 06.30 suara mendengung dari cerobong terdengar hingga ke rumah…nah berarti 15 menit kemudian aku harus sudah sampai di sekolah…..heheheh…what a simple life

Salah satu sunrise terindah yang pernah tertangkap kamera…maaf masih ada tanggal dan waktunya…hehhehe

Perjalanan pagi menuju pantai di sebelah utara wilayah Situbondo, selalu kusempatkan melihat sebelah kanan jalan dimana aku selalu mendapatimu…hai matahari terbit dan langit yang indah…subhanalla

Sunrise in the east…..

Karena kuota internet-nya sudah habis..akhirnya cukup sampai disini jalan-jalan dan cerita tentang sebuah desa yang bernama “Situbondo”

Gema Pesona Depok….hari ke 5 Ramadhan….

Mendung sekali pagi hari ini

5 thoughts on “Langit yang Tak Terlupakan…..

  1. wah… bagus Hen ceritanya… jd ingat bahwa pertama kali dr Banjarmasin ke pulau Jawa, mendaratnya di ya di PG. Wringin Anom… masih sering sepedaan dr rmh ke pantai Patek😀 sblm ada komunitas bike 2 work, dl dah sering bike 2 work… cm bedanya ga ada asap2😀 susah ditemukan di JKT tp insya ALLAH mgkn bs ditemukan ditepian JKT, depok-bogor😀

    • wah di wringin anom ada lapangan terbangnya Tian? kok bisa mendarat di Wringin Anom? hehehehe.. iya asik ya dulu, aku kalau pulang kampung aku sempatkan ke Patek dengan bersepeda, hehehhe…sungguh ga tergantikan..🙂

  2. ceritanya sangat bagus,saya sangat suka membacanya,,,,begitu pula dengan potretnya….makasih banyak gan….karna membuat saya mengingat masa kecil…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s