Aku masih berpikir bahwa ribuan tentara Jepang masih terkubur disitu


Hari telah larut untuk sebuah presentasi, tapi karena ini adalah hari terakhir kami di Tangguh LNG Plant, dengan sisa-sisa energi yang ada, akhirnya presentasi di hadapan senior-senior di site ditutup jam 21.30 WIT…. …fiuuuhhh…akhirnya bisa kembali ke Dormitory jam 22.30 WIT…… .ambil selimut….. mata kupejam sembari membayangkan tawa riang si kecil dan masakan istri yang lezat…….hingga……… telepon dari receptionist berdering “Pak Hendra Taruna…bis nya sudah mau berangkat…” …langsung kusambar kaos kaki … sepatu boot ….. dengan terpincang-pincang aku terburu-buru memasang kaos kaki agar klop dengan sepatu…dengan menggendong dua tas yang lebih berat dari saat pertama kali aku datang…hati seddikit menggerutu karena seharusnya aku berangkat jam 05.45 pagi,,kenapa jam segini udah mau berangkat??” akhirnya sholat shubuh nya terpaksa dilakukan di atas boat😦

Sesampainya di Baboaku mondar-mandir udah ga sabaran ingin mengunjungi gua…gua yang merupakan salah satu situs perang pacific yang sempat kesohor semenjak Film “The Pacific” laris manis di layar televisi…..waduh lagi-lagi aku lupa bawa kamera…!!!!, untung salah satu temanku membawa kamera pocket…..

Deru pesawat Dash-8 …. Seolah mempercepat langkahku untuk segera bisa cepat sampai dii Biak Numfor …. Akhirnya … bingo….sesampainya di Lapangan terbang Frans Kaisepo (1 Jam perjalanan dari bandara Babo) … setelah makan pagi tentunya…langsung kucarter mobil dengan ongkos 50 ribu per jam menuju lokasi…lokasi yang aku tuju adalah sebuah Goa alam hasil “hidrologi karst” yang pernah dijadikan base oleh prajurit Jepang selama Perang Dunia ke-2.

Dash-8 berada paling kiri, dengan badan lebih lebar dari beechcraft MD-1900 (paling kanan)

Gara-gara suka menonton film “The Pacific” aku selalu dibuat penasaran tentang semangat pasukan Jepang yang selalu “fight to death”. Konon di Gua ini hampir 3000 lebih prajurit Jepang tewas terpanggang api ataupun terkubur hidup-hidup.

Sekitar 30 menit dari Bandara Frans Kaisepo (dulunya nama lapangan terbang ini bernama Lapangan Terbang Mokmer), akhirnya kami tiba di sebuah halaman …. (ya … sebuah halaman rumah…) dengan mortar dan rongsokan peralatan perang yang dibiarkan begitu saja tergeletak seolah-olah tentara Jepang baru aja lari terbirit-birit dengan meninggalkan peralatan perangnya begitu saja. Kesan pertama adalah : tempat ini tak tertata dengan rapi…semua sisa peralatan tempur seperti granat tangan, senapan mesin ringan, hingga bom pesawat sebesar badan manusia tampak disusun ala kadarnya di atas tanah….berjemur

1. Sebuah museum di desa Sumberker, museum yang menyimpan beberapa sisa peralatan perang

2. Beberapa amunisi, artilery dan senjata disusun ala kadarnya di sebuah halaman di dekat museum

3. Drum bensin, dan senapan yang sudah tampak berkarat, semua benda-benda ini dahulunya terkubur dalam goa

4. Tampak mortar,bom pesawat, dan meriam anti tank 

beberapa senjata yan bisa aku identifikasi antara lain :

  1. Type 99 Light Machine Gun, walopun dinamakan Light, senjata ini sangat berat sekali…>.< orang Jepang menyebutnya Kyūkyū-shiki Kei-kikanjū
Mencoba pegang type-99
Type-99 di tangan yang tepat …😀

Senjata ini bisa dilihat saat kita melihat film Windtalker atau Thin Red Line, saat tentara jepang berupaya mempertahankan perimeter pertahanannya.

  1. Type 92 Heavy Machine Gun, ini senjata yang pernah tampak di film “The Pacific” , tidak seperti senapan mesin pada umumnya yang dipakai sekutu ataupun Negara axis, dimana machine gun yang dipakai memiliki mobilitas yang tinggi karena cukup portable dan ringan, senjata mesin aseli buatan Jepang ini sungguh berat luar biasa…mirip artilery saja, dengan tripod yang harus dipasang saat senjata ini “combat action” membuat Jepang kesulitan menjaga “firing power” saat melakukan serangan, karena ga mudah mengangkut dan memasang dalam waktu singkat…
merasakan menjadi gunner…heheheh
Type-92 saat combat action

Jadinya senjata ini hanya berguna saat digunakan sebagai pertahanan, memiliki presisi yang tinggi namun tidak memiliki firing rate yang mumpuni…teringat ketika saya memainkan game Call Of Duty World at War…senjata ini memiliki firing rate di bawah saingan nya dari senjata mesin yang dipakai sekutu yaitu senapan browning, yang bisa kita lihat saat sersan John Basilone dengan kedua tangannya berhasil menerobos pertahanan Jepang tanpa bantuan tripod dan hanya menggunakan centelan ringan saja.

Namun, keingintahuan saya bukan pada senjatanya, Namun sebuah helm yang berlubang tiga di bagian depan, yang diletakkan diatas tonggak besi, …. Ya …. Itu adalah lubang yang diakibatkan peluru tajam yang menembus helm sang prajurit. Apa Helm Jepang ini sangat rapuh???…Jangan salah sangka, helm ini sangat-sangat berat karena terbuat dari baja, jadi bukan helm nya yang rapuh tapi terjangan peluru tajam yang digunakan sepertinya juga berasal dari senjata berat atau senjata sniper caliber besar.

Helm ini beratnya luar biasa, tampak di depan adalah mortar, dan anti-aircraft gun dan tentunya di sebelah kanan-ku adalah Type-92 Machine Gun

  1. M1919 Browning cal.30, ini bukan senjata Jepang, melainkan senjata USA yang juga turut tertinggal, entah ini senjata rampasan Jepang atau senjata sekutu yang diambil dari lokasi lainnya, senjata ini termasuk golongan Medium Machine Gun,, yang suka nonton Film Band of Brother atau The Pacific pasti deh bakalan terkagum – kagum atas kehebatan senjata mesin ini, saking reliabilitas yang tinggi dan mobilitas nya yang OK, senjata ini awet tua…hehehe…masih dipakai sampai perang Vietnam dan susudahhya. Senjata ini sama legendarisnya dengan senjata mesin Jerman “The Amazing One” MG-42.

Ini adalah (klo ga salah ya..) Browning M1919, lebih ringan dan memiliki firing rate tinggi, 

Browning saat pacific campaign….

Selain senjata, masih banyak barang-barang unik lainnya……yuk kita lihat

hal yang menarik disini adalah diantara 3 helm yang terpajang, 2 Helm adalah helm dari Marinir Amerika (USMC) dan satu lagi ternyata Helm perang prajurit Inggris…!!! kenapa aneh?? Inggris kan ga ikutan perang pacific

Gimana Jepang mau menang…lha wong minum arak sebegini banyaknya…ckckckck..😦

Ini bukan mesin ketik biasa…namun dilengkapi seperti alat penerima sandi morse atau semacam alat pemecah kode atau semacam-nya lah

setelah melihat etalase ini…satu pertanyaan terbesar…berapa banyak prajurit Jepang yang berkacamata??? dan berapa banyak koin Jepang yang mereka bawa untuk beli sushi di Biak??😀

Helm berlogokan bintang satu di depan menunjukkan pangkat-nya, dan ini yang bikin ajaib, sebelah kanan dari helm Jepang berbintang satu adalah helm tentara Inggris….

Botol-botol kecil adalah ampul morfin untuk prajurit yang terluka, morfin sebenarnya banyak dipergunakan di kalangan militer untuk meredakan rasa sakit, sebelah kanan ampul adalah kain perban atau kain kasa kali yah… 

Bukan prajurit Jepang …😀

First aid kit nya USMC (US Marine Corps)…jika prajurit terluka atau teriak…”mediiiic…mediiic’ kotak kecil ini lah yang dicari petugas medic dari saku nya pertama kali

Cuma sayangnya tak ada satupun Tank Jepang yang bisa kulihat…karena semuanya pasti diangkut ke USA sana…😦 padahal di Biak ini pernah terjadi pertempuran Tank vs Tank untuk pertama kalinya di pacific

Tank Ha-Go Jepang saat di medan pacific, tank ini langka sama langkanya dengan Tank Tiger nya Jerman

Sebenarnya masiiiiih banyak senjata lain yang pengen aku ceritakan, tapi…pastinya akan terlalu membosankan kalau aku ulas detail…heheheh, … mending kita lanjutkan perjalanan singkat ini……..

Setelah asik-asik menebak-nebak jenis senjata yang udah karatan itu, akhirnya sang supir menawarkan diri untuk membuka sebuah cabinet yang terbuat dari kayu…yang konon adalah tempat menyimpan tengkorak-tengkorak Jepang. Awalnya saya ingin berinisiatif membuka sendiri “lemari” itu, tapi mental saya membuat saya agak kesulitan membuka pengunci lemari hingga akhirnya lemari itu terbuka dan…taaaraaaaa…..

Hanya satu tengkorak kepala manusia yang terpajang dengan sebuah nisan abu di luar…kemana sisanya…??? Ada di dalam kain kafan ditumpuk jadi satu. Sejumlah tengkorak telah di-kremasi dan dibawa pulang ke Jepang, tapi kenapa tidak semua?? (pertanyaan ini masih tesimpan dan belum ada jawabannya).  Di lemari itu juga terdapat sisa-sisa perlengkapan sehari-hari prajurit, seperti garpu, senter, canteen militer (alat untuk menyimpan air dan memasak), botol sake, dan barang-barang lain yang aku tak bisa mengidentifikasi secara detail satu-persatu. Hampir sekitar 20 menit aku terpaku…memandang tumpukan tengkorak di dalam kafan dan mengamati detail tengkorak yang dipajang di luar…..khayalanku bermain dan menerawang Biak 67 Tahun yang lalu…dimana sang tengkorak masih terbungkus daging .. berteriak...BANZAAAIIIII di tengah dentuman senapan dan hiruk-pikuknya perang pacific.

Dimana senjata yang saat ini berkarat masih menyalak merenggut satu persatu nyawa manusia yang ada di hadapannya.

1. Kain putih dan goni di sebelah kiri tengkorak adalah tempat penyimpanan tumpukan tengkorak yang belum di-kremasi

2. Peralatan sisa prajurit (apa mungkin milik si tengkorak???) berupa sendok, senter, canteen, botol sake…dan beberapa barang lainnya yang dengan mudah kami sentuh

3. Helm dan canteen/botol air, kemungkinan besar barang ini ditemukan bersama jasad yang sudah berupa tengkorak, 

4. Ada yang bisa baca apa arti tulisan di balok kayu itu???

Lamunan itu berhenti ketika temanku Satria bukan Satria seperti di Satria Baja Hitam, tapi memang namanya Satria….heheheh, menanyakan kepadaku dimana letak Gua itu. Pandanganku langsung mengarah ke arah lebatnya hutan yang terhalang sebuah pohon besar dengan beberapa akar dahannya merambat menjuntai ke bawah, ini pohon yang sama saat 67 tahun yang lalu…gumamku dalam hati. Suasana jadi hening….hanya kicauan burung dan suara burung aneh seperti long-longan kera siamang….membuat langkah kami menuju lokasi gua seolah-olah ajang uji nyali. Tapi memang benar…lokasi di sekitar Gua Jepang itu sunyi…lembab…jalan nya pun berlumut, seolah objek wisata ini tak pernah dikunjungi siapapaun sebelumnya. Tampak di kanan jalan parit-parit yang menurutku akses yang dipakai tentara Jepang dahulu kala.

Gua Jepang ini terletak di kampung Sumberker terletak di kabupaten Biak Numfor dan lokasi nya terletak di sebelah barat Kota Biak dan terletak di dataran tinggi, sehingga dari sini terlihat Jelas bandara Biak dan pantai Bosnik yang menghampar. Orang disini menyebutnya Gua Binsari, sebuah gua kapur alami yang dibentuk oleh proses Hidologi Karst yang dijadikan stronghold oleh pasukan Jepang untuk mengantisipasi serangan sekutu di tahun 1944. Sebelumnya gua ini dinamakan Abiyau Binzar atau Wanita Tua, karena konon katanya Gua ini dahulunya didiami oleh seorang nenek tua (waduh kasian sang nenek…pasti ga enak tinggal disini…banyak nyamuk dan gelap…wkwkwkwkwk).

1. Jalan menuju gua Jepang, tampak sebelah kanan adalah parit yang dahulunya sebagai akses tentara Jepang

2.  Aku menyebutnya kuburan massal tentara Jepang…ada yang bisa baca arti tulisan di nisan itu?

3. Jalan menuju pintu gua, dahulu pintu gua bukan terletak di sini, melainkan di daerah Paray dekat pantai

4. Suasana dalam gua….apakah kalian masih bisa melihat tong bahan bakar di dalamnya????

Gua ini panjangnya sekitar 3 km dan pintunya ada di daerai Paray pintu yang sebenarnya, bukan yang saat ini aku telusuri dimana pintu nya ada di desa Sumberker.

Perjalanan menuju pintu gua harus melewati tangga yang menurun dan cukup menguras tenaga, suasana senyap dan sunyi langsung menyapa….seolah gua ini ingin menyampaikan bahwa ….aku bukan tempat biasa untuk dikunjungi… aku pun terhenti di ujung tangga sambil melihat terpaku mulut gua yang menganga 10 meter di bawah permukaan tanah……lamunanku membawaku melewati mesin waktu 67 tahun silam…..dimana pertempuran itu masih terjadi …………….teriakan BANZAI dan jeritan prajurit Jepang yang selama ini hanya bisa kutonton di televisi seolah meng-IYA-kan khayalanku……akhirnya….aku mebayangkan berada di Biak 67 tahun yang lalu…kisah itu………….bermula antara rentang May 27 hingga June 20, 1944.
~~~ ♠♠♠~~~
Pendaratan Pasukan Amerika di Biak

Tentara amerika mendedsak pasukan Jepang hingga pedalaman “battle of Biak…source : wikipedia

……ada lebih dari 11,000 prajurit jepang yang mendiami wilayah di sumberker hampir seribu pula prajurit Jepang yang terkubur-hidup-hidup dan terjebak di Gua itu.

Pasukan Jepang yang mendiami Biak dipimpin oleh Kolonel Kuzume Naoyaki, yang lebih memilih memancing pasukan sekutu ke arah daratan ketimbang menghancurkan di pantai. Sehingga jaringan parit dan jaringan bawah tanah dibangun sedemikian rupa hingga pasukan logistik untuk pasukan di wilayah garis depan pasukan terutama daerah pantai dan bandara dapat ter-supply dengan baik. Taktik ini pertama kalinya diterapkan di pacific dimana sebelumnya pasukan Jepang selalu menahan pendaratan sekutu di Pantai. Sungguh ide yang cerdik.

Dan ternyata taktik ini berhasil…Pasukan sekutu mendarat tanpa rasa curiga sedikitpun…hingga pasukan itu telah mencapai bandara….lantas ribuan mortir dan peluru artilery mulai menyalak…menghujani sekutu yang mulai menapakkan kakinya di bandara Mokmer (saat ini menjadi lapangan terbang Frans Kaisepo). Pertempuran yang diprediksikan sekutu akan berakhir dalam hitungan hari, ternyata harus diselesaikan berbulan-bulan dengan korban yang tidak sedikit. semuanya diluar prediksi…!!!!!

Para pasukan yang bertarung di medan pacific, salah satunya di Biak, harus menghadapi paling tidak 3 musuh utama,

1. Pertama adalah alam yang ganas (rawa-rawa,kelembapan udara yang tinggi, cuaca panas dan malaria, sanitasi yang buruk, menyebabkan banyak prajurit terserang penyakit disentri atau malaria), kebutuhan akan air minum yang bersih sama pentingnya dengan kebutuhan amunisi. 

2. Kedua adalah musuh utama yang harus dibunuh, yaitu tentara musuh tentunya. Kondisi mental prajurit Amerika tergambar jelas dalam miniseri The Pacific… ketika mental mereka mulai jatuh ketika frustasi dengan ke-ngototan pasukan Jepang…dengan dialog favoritku: 

2nd Lt. Mac                  : I told you to cease fire, what are you doing?
Eugene B. Sledge      : Killing Japs. (japs = tentara Jepang)
2nd Lt. Mac                  : You just gave away our goddamn position!
Eugene B. Sledge      : I think they got a pretty good idea of where we are.
2nd Lt. Mac                  : I told you to cease fire, you’re supposed to be observing                                            – I see you with a goddamn sidearm!
Eugene B. Sledge      : [yelling furiously] We’re all sent here to kill Japs,                                                           weren’t we? So what the hell difference does it make                                                        what weapon we use?
                                                [gets close to Mac’s face; through gritted teeth]
Eugene B. Sledge      : I’d use my goddamn hands if I had to.

3. Diri sendiri, bertempur membutuhkan nyali, dimana Jepang terkenal dengan fanatisme yang tinggi dan tak mudah menyerah, membuat tentara sekutu setiap berhadapan dengan Jepang memiliki paradigma….“habisi mereka semua”, otomatis tak ada tawanan perang yang di dapat alias semuanya terbunuh. Kondisi ini yang menguras mental pasukan sekutu ketika berhadapan dengan Jepang.

Pada hari pertama pendaratan… pasukan Amerika sudah diberi supply ice cream…😀 …,,menunjukkan betapa panasnya Biak bagi pasukan yang biasanya suka berjaket tebal dan salju.

Jepang tidak tinggl diam, operasi “Kon” dilancarkan untuk membebaskan Biak dengan bantuan dua kapal super raksasa kebanggaan Jepang Yamato dan Musashi…namun serangan itu gagal membebaskan Biak dari Amerika. Pertempuran berlangsung sengit dan berbulan-bulan (saya bahkan tak sanggup tinggal di sini lama-lama walau hanya 21 hari) Akhirnya kolonel Kuzume lebih memilih harakiri ketika pasukan Amerika berhasil mendesak pasukan Jepang.

Kanibalisme untuk pertama kalinya di pertempuran pasifik pun tampak dalam perang memperebutkan Biak ini, 2 bulan pertempuran melelahkan, tak ada makanan, membuat Pasukan Jepang mulai terbiasa dengan memakan mayat temannya sendiri atau mayat musuh, hal ini dibenarkan oleh beberapa cerita veteran perang pasifik di Biak, bahwa beberapa rekannya yang tewas tertembak wilayah musuh kondisi luka mayatnya sangat ganjil, yaitu terdapat luka bekas potongan yang mirip “dipotong untuk dimakan”.

Dalam pertempuran memperebutkan Biak ini, diperkirakan 6000 orang tewas dan 4000 orang hilang…(nah loooh kok bisa ilang???), kemungkinan tertimbun di dalam gua…….lamunanku akan dahsyatnya perang di biak berhenti disini………(dot)

~~~ ♠♠♠~~~

Penasaran dengan tour dan cerita lengkapnya…?? cekidot di bawah gan

Langkahku menuju gua tertehenti saat aku melihat sebuah lubang yang subhanallah besar sekali menembus bumi dan sampai ke dasar Gua, sehingga Gua itu menjadi terang-benderang dan…..membuat Gua itu seolah putus di tengah. Lubang itu sangatlah besar, sehingga kami pun berpikir itulah mulut Gua. Dari sumber sejarah yang pernah aku baca, lubang besar itu disebabkan oleh ledakan bom mahadasyat dari pesawat sekutu tepatnya tanggal 7 Juli 1944. Lubang itu sengaja dibuat sehingga sekutu dapat menjatuhkan ratusan drum berisi bahan bakar ke dalam gua dan bisa ditebak apa yang akan dilakukan sekutu setelah menjatuhkan ratusan bahan bakar ke dalam Gua penuh logistic dan persediaan amunisi???

Drum yang berjatuhan itu ditembaki oleh roket dan senapan mesin dari pesawat tempur sehingga terbakat hebat, dan menimbulkan ledakan yang jauh lebih dahsyat sehingga membakar semua yang ada di dalamnya, dan membuat beberapa dinding gua itu runtuh dan mengubur 3000 prajurit Jepang yang mungkin masih terjebak di dalam, berikut supply logistic dan amunisi. Dari beberapa cerita, kebakaran itu terjadi hamper berbulan-bulan.

Rasa ingin tahuku membakar adrenalin ku untuk ingin turun ke lubang itu karena Aku masih berpikir bahwa ribuan tentara Jepang masih terkubur disitu. Di dalam gua itu masih banyak sisa-sisa drum dengan penuh lubang peluru……seolah membenarkan cerita selama ini yang kudapat…beberapa botol minuman sake pun masih tergeletak….dingin, gelap, lembab…sunyi…aku pun terdiam sambil mengatur nafasku yang sedikit berat, mengamati reruntuhan gua dan warna hitam di dinding gua menunjukkan pernah terjadi kebakaran di dalam gua ini.

akhirnya……………….perjalanan se-jam pun harus berhenti….biarlah Biak 67 tahun yang lalu tetap menjadi sejarah dan semoga tak akan terulang kembali, sesekali kumenoleh ke arah gua dan Aku masih berpikir bahwa ribuan tentara Jepang masih terkubur di situ

Untuk mengakhiri tulisan….biarlah testimoni seorang anak yang ayahnya pernah bertempur melawan Jepang di Biak menjadi penutup

“”My father, Hank Shulman, was a 35 mm combat cameraman, a Sgt. in the Army Signal Corps. He was part of the landing on Biak, and described being pinned down under intense Japanese fire for 2 weeks, as I recall. 10,000 Japanese soldiers had retreated into a massive coral cave system. U.S. artillery bombed the caves steadily. In the end, my father said perhaps 10 Japanese surrendered. He was among the 1st into the caves; had to film what remained; saw signs of cannibalism; a scene out of Dante.””

“”My father, a member of the 41st Division, 186 Regiment, I Company said that Biak was the worst place he served throughout the war. He came very close to being killed in a friendly fire incident in which American Hellcats straffed his unit. He also witnessed the attack in which 6 Zero fighters straffed the landing beaches and all were shot down by truck-mounted quad-50’s on either end of the beach.””

Ashes of Soldiers
Walt Whitman

       Again a verse for sake of you,
You soldiers in the ranks—you Volunteers,
Who bravely fighting, silent fell,
To fill unmentioned graves.


Pesawat menuju Halim Perdanakusuma telah menunggu….sampai jumpa Biak...tally ho…….!!!


Ditulis di hari minggu 24 April 2011.

Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, mendung masih menyelimuti Depok di Minggu ini….saatnya sarapan….NO GOWES hari ini

27 thoughts on “Aku masih berpikir bahwa ribuan tentara Jepang masih terkubur disitu

  1. Ya ampuunn.. ternyata bisa liat jejak2 jepang yang digambarin sama PK Ojong di bukunya “Perang Pasifik”🙂 Mantabs gan!! next time saya ada kesempatan pengen nyoba nyimpang ke sana deh.

  2. waahh perjalanan luar biasa.. salah satu impian saya adalah bisa mengijakkan kaki di bumi papua, menikmati keindahan alamnya dan juga menyelusuri jejak peninggalan yang ada di sana… sungguh luar biasa..

    di biak hampir 80 % peninggalan perang pasifik masih bisa kita lihat, mulai dari peralatan perang, gua tempat persembunyian hingga kerangka mayat veteran perang pun masih ada…

    di palembang semua peninggalan jepang sungguh tidak terawat, yang ada hanya tinggal puing2 bangunan yang tidak terurus…

    seandainya semua peninggalan sejarah termasuk bekas WW2 dijaga, dirawat dan dikelolah dg baik oleh pemerintah indonesia, bukan tidak mungkin akan menjadi magnet pariwisata khususnya untuk warga jepang yang sangat menghargai sejarah bangsanya…

    salam pak,, blog anda sangat luar biasa.. saya kagum dg pengalaman perjalanan anda yg luar biasa…

    • salam mas Adrian…alhamdulillah kalau suka tulisannya, mudah2an menghibur, maaf sangat saya baru tau ada comment nya, sebenarnya peninggalan WW2 di Biak tidak terlalu dirawat selayaknya Museum, namun yang tersisa masih dalam skala dikumpulkan ala kadarnya

  3. wah.. penggemar the pacific juga yah.
    hehehe…

    Soal helm inggris itu gak aneh lho. emang inggris gak ikut perang pasifik, tapi “sodaranya” si Australia itu. tentara australia pake helm Mk.I / “brodie”, malah di buku terbitan Osprey disebutin satuan-satuan marinir AS di Pasifik yg gak kebagian jatah helm M1 masih pake helm yg satu ini.

    nih, penampakan dari helm Mk.I tentara australia

  4. Dulu mbah saya pernah bilang : Kuwi nek ra salah teng gawenan jepang mlayune kesit (itu kalo tidak salah tank buatan jepang larinya kenceng) sambil nunjuk tank kecil di depan museum Brawijaya Malang.
    O ya mas, tentang helm Inggris kayaknya di film Pearl harbor juga ada miiter yg pakai helm begitu. Salam kenal (Shandy)

    • salam kenal,dari emailnya kaya nya juga suka sama fallschirmjaeger nya german ya?hehe,…mengenai tank jepang dibuat kecil n kesit karena memang utk peruntukan medan perang pasifik yg datarannya rawa2 n banyak hutan kali ya,jd lebih lincah

  5. Browsing tentang Biak dan nemu blog ini, pengalaman luarr biasaa, sy dlm waktu dekat ini akan ke Biak, dlm rangka liputan divisi utama LI, smoga punya waktu untuk menjelajah tempat ini, lovee it! Salam Hangat

    • Hi Dhea…terima kasih sudah sudi membaca tulisan yang cukup panjang. Wah ikut senang Dhea bisa menjelajahi pulau Biak nan menawan…jangan lupa di share pengalamannya ya…pasti seru, sayang sekali saya hanya bisa mengunjungi beberapa tempat dan belum sempat diceritakan di sini

  6. betul inggris tdk ada sama sekali terlibat dalam pertempuran di biak…. jadi helm yg di ketemukan kemungkinan keterlibatan tentara Australia yg menjadi sekutu amerika dalam menggempur pasukan jepang di biak…

  7. klo boleh nambahin infonya y pak?
    ada tugu peninggalan UNTEA klo ndak salah ingat tentara pakistan lokasinya dilapangan apel LANAL – Biak dan KATALINA POINT bagi yg suka diving kedalaman 27-30m,juga bandara peninggalan tentara sekutu dipulau OWI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s