Rumahku Surgaku – Perjalanan Mendapatkan Rumah Impian (3)


 

Setelah berjibaku dalam medan pertempuran tawar-menawar harga, kelegaan pertama yang timbul adalah ketika kita mencapai harga yang disepakati antara penjual dan pembeli. Langkah kita dalam menuju tahap selanjutnya menemukan titik terang, dalam fase ini terkadang penjual ingin meminta uang muka terlebih dahulu, akan tetapi ………………..

8. Jangan Terburu-Buru Memberi DP (Down Payment,Uang Muka)

Inilah kesalahan terbesar yang pernah kami alami dan mungkin beberapa orang pun juga mengalaminya. Karena terburu nafsu ingin segera memiliki rumah idaman, sebagian besar orang buru-buru memberi DP. Ia tidak memperhitungkan masalah-masalah di kemudian hari. Dan banyak juga yang memberi DP di bawah tangan (tanpa notaris)

Lakukan pembayaran DP jika :

–          Anda sudah deal harga. Jangan membri DP jika harga belum deal. Kadang ada orang semacam ini, karena ia takut keduluan pembeli lain.

–          Penjual setuju dengan cara pembayaran Anda. Jangan memberi DP jika Anda belum membicarakan cara pembayaran Anda dan penjual menyetujuinya. Dikhawatirkan penjual ingin tunai, sementara Anda bisanya menyicil

–          Anda sudah pasti bisa melakukan pembayaran tunai atau KPR. Biasanya penjual ingin kepastian kapan pembayarannya. Karena itu, saat memberi DP, pastikan Anda mampu membayar rumah, baik tunai atau KPR

–          Dihadapan notaries yang disertai surat perikatan jual beli. Pembayaran DP di hadapan notaries adalah cara paling aman. Anda bisa meminta perjanjian sesuai dengan kesepakatan dengan aman

–          Jika Anda membayar DP tanpa notaries, bayarlah tanda jadi saja. Nilainya kalau bisa sangat kecil, yang jika uang itu hangus Anda tidak keberatan. Boleh-boleh saja membayar Rp.500 ribu, toh ini sebagai tanda jadi dan ikitikad kita untuk membeli rumah.

Ingatlah, diluar sana banyak orang yang tega memakan harta orang lain dengan kejam dan serakah. DP Anda bisa hangus jika tidak hati-hati.

Saya sudah dua kali nyaris kehilangan uang DP, karena saya adalah pemula, dan ini baru pertama kali saya ingin membeli sebuah rumah, sehingga saya terlalu mudah untuk memberikan DP.  Pernah ingin membeli rumah seseorang di Depok. Penjual tersebut menginginkan saya membayar DP 20 juta. Karena waktu itu si empunya rumah mengkhabarkan kepada saya, bahwa ada penjual lain yang menawar rumahnya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari penwaran saya. Sebelum saya meng-iyakan, sebenarnya saya dan keluarga telah berkali-kali bersilaturahmi ke sang pemilik rumah, tidak terbesit sedikitpun di hati saya rasa curiga.

Kami diberi waktu kira-kira 2 minggu sebelum transaksi di notaris, karena suami beliau sedang tugas di luar kota. Akan tetapi minggu berganti bulan, kami selalu menunggu dalam ketidakpastian, setiap kami menghubungi, beliau tidak ada i’tikad untuk menjawab, saya tetap bersabar dan berusaha berbaik sangka hingga suatu saat sang empunya rumah datang ke Depok.

Janji telah dibuat untuk bertemu sang pemilik rumah (selama ini kami hanya berhubungan dengan istri sang pemilik rumah), dan saat untuk bertemu dengan notaris pun disepakati dua hari setelah kami bertemu malam itu, namun apa yang kami dapat hanyalah pembatalan yang dilakukan oleh si penjual tepat sehari sebelum kami pergi ke notaris.

Kejadian kedua pun mirip seperti kejadian di atas, walaupun saya lebih berhati-hati dengan membuat surat pernyataan, namun dengan mudahnya surat pernyataan yang berisi tentang pengembalian uang DP dan pembatalan transaksi jual beli rumah diabaikan, bahkan saya telah mengajak sang pemilik pergi ke Notaris untuk melakukan PPJB (Pengikatan Jual Beli).  Yang namanya penipu, selalu banyak akal, jika satu jebakannya tak berhasil dia tak kehabisan akal untuk membuat jebakan lainnya, bahkan sang notaris pun bisa kena jebakannya.

Kejadian kedua ini terjadi ketika dalam proses pembelian rumah untuk yang kedua kalinya di Depok. Sang pemilik sedang membutuhkan uang, dan ini keuntungan terbesar bagi saya sebagai pembeli untuk mendapatkan harga yang relatif murah. Kami bertemu dengan agen rumah sebagai perantara, dia memberi harga dan kami pun menwar sesuai dengan kemampuan kami. Harga pun telah disepakati, namun sang penjual merubah kesepakatan harga yang telah disepakati sebelumnya antara saya dan agen rumah sebagai wali nya. Iktikad buruk nya tercium untuk pertama kalinya, ketika dia mencoba untuk bermain tidak jujur dengan ingin melakukan transaksi tanpa membayar biaya jasa agensi. Namun, rupanya niat buruknya tercium oleh pihak agensi dan pihak agensi menuntut keadilan kepada sang penjual dengan bantuan sang pembeli. Dalam hal ini pembeli lah yang menjadi korban. Saya mencoba untuk menengahi tapi ternyata gagal, dan sang penjual untuk kesekian kali berbohong kepada agen penjual rumah dengan berpura-pura membatalkan transaksi penjualan rumahnya. Namun seiring waktu, dengan  ungkapan kekecewaan saya mengenai pembatalan, akhirnya dia mengurungkan pembatalan rumahnya, hingga akhirnya terjadi kesepakatan final untuk bisa melanjutkan transaksi di depan notaris.

Kami bertemu di depan Notaris untuk melakukan PPJB, karena sang penjual meng-agun-kan rumahnya di Bank. Dan pihak Bank belum bisa mengeluarkan surat asli (sertifikat & IMB) nya sebelum outstanding hutang nya dilunasi. Maka saya berinisiatif untuk melunasi outstanding rumah tersebut di Bank dengan melakukan negosiasi terlebih dahulu dengan pihak Bank.  Kala itu sisa outstanding yang belum terlunasi adalah sebesar 200 juta lebih, maka demi keamanan transaksi, saya menempuh untuk melakukan PPJB terlebih dahulu dengan penjual dengan membayar 200 juta ke pihak Bank. Namun sang penjual juga menginginkan sisa dari harga rumah untuk juga ditransfer ke rekening pribadinya. Sang Notaris menyetujui ide sang penjual rumah, toh kan ada PPJB. Akhirnya saya dan Istri pergi ke Bank atas anjuran Notaris.

Saya mengajak Istri saya waktu itu untuk antri di Bank, guna mentransfer sisa harga rumah kepada sang pemilik, ketika Kami telah berhadap-hadapan dengan teller Bank, telepon saya berdering, Ibu saya menelpon untuk tidak mentransfer uang sepeserpun kepada pihak penjual. Saya berusaha menjelaskan pada Ibu, bahwa Notaris menganjurkan kami untuk mentransfer sejuamlah dana ke pihak penjual dan sisanya esok akan kami urus ke pihak Bank dimana sang penjual meng-agun-kan rumahnya.

Dengan sedikit kecewa kami keluar dari antrian panjang, dan berhenti sejenak untuk merenung, dan mencoba bersabar, dan bertanya -tanya kenapa Ibu saya melarang saya untuk tidak mentransfer uang kepada sang pemilik rumah, saya dan istri sempat berdebat, dan akhirnya saya putuskan untuk tetap membayar, akhirnya kami kembali mengantre. Dan kembali ketika kami berhadapan dengan teller Bank, kali ini untuk kedua kalinya Ayah saya menelpon untuk tidak mentransfer sepeserpun ke pemilik rumah. Apa mau dikata, kami keluar lagi dari antrean dan kami berinisiatif untuk menelpon sang notaris untuk meyakinkan bahwa sang Penjual tidak ada maksud untuk menipu. Akhirnya sang Notaris membenarkan argumen saya dan meminta maaf telah sedikit lalai dalam hal ini.

Akhirnya kami mengurungkan niat untuk mentransfer sejumlah uang kepada sang pemilik rumah dengan mendatangi langsung sang penjual dan mengutarakan alasan kenapa kami ragu untuk mentransfer sejumlah uang. Dengan wajah marah sang penjual merasa kecewa karena pembatalan tersebut, entah marah karena jebakan tipuannya tidak berhasil atau ….?? biarlah, kami tak mau ambil pusing saat itu. Hingga akhirnya kita bertemu kembali di hadapan notaris untuk membatalkan PPJB yang sempat kami tandatangani.

Dan ternyata, naluri dari seorang Ibu memanglah luar biasa, beberapa hari setelah itu, ketika saya mencoba menyelesaikan permasalahan ini dengan baik-baik, ternyata pihak Bank tidak memiliki IMB yang asli, dan ada kemungkinan IMB nya hilang…lho??? untung kami tidak jadi transfer waktu itu. Hingga akhirnya saya membatalkan transaksi dan mengancam akan melaporkan ke polisi jika DP yang telah saya berikan tidak kembali, dan Alhamdulillah saya bisa mendapatkan kembali DP itu.

Ciri khas penjual yang yang perlu diwaspadai :

1. Selalu dan terlalu bersemangat untuk meminta DP, walaupun belum menunjukkan surat-surat yang lengkap kepada pembeli.

2. Selalu berkelit ataupun setengah hati untuk diminta mengumpulkan berkas / surat-surat  rumah, ataupun tidak bisa menunjukkan surat-surat rumah dengan alasan-alasan yang seolah – olah masuk akal (dijaminkan ke Bank dsb).

3. Selalu tidak menepati janji dan tidak kooperatif.

dan semenjak itu, saya selalu khawatir dan sedikit trauma untuk bertransaksi rumah dengan siapapun.

Allah maha pemurah, beberapa bulan kemudian, kembali saya menemukan rumah yang jauuuh lebih baik dan sang penjual pun amanah, kami tak perlu membayar DP, dan sang pemilik pun rela untuk memberikan sebagian perabotnya untuk kami miliki, subhanallah, kesulitan yang kami alami ternyata sebanding dengan yang kami dapat.

(Bersambung)

2 thoughts on “Rumahku Surgaku – Perjalanan Mendapatkan Rumah Impian (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s