Dimana letak kebahagiaan itu?


Bismillahirrahmanirrahim,…

Hari ini seperti hari sebelumnya….sangat cepat berlalu, detik demi detik seolah berlari tanpa terasa. Hari ini aku menghadiri sebuah acara pernikahan seorang teman lama, ….. hmmm boleh dibilang teman dekat, aku mengenalnya semenjak aku tinggal di asrama semasa kuliah.

Akhirnya dia pun melengkapi separuh agamanya….terlihat di wajahnya rasa bahagia yang tak terkira, karena pada hari ini (tepatnya 18 jam yang lalu sedari aku menulis blogs ini) dia telah mendapatkan dambaan hati yang selama ini dia nanti dengan sabarnya. Tak ada kemewahan yang tampak dari acara pernikahan itu, tak ada hiruk-pikuk musik berlantunan, tak ada pernak – pernik kemewahan lainnya, pernikahan yang insyaAllah penuh berkah dalam kesederhanaannya mengusikku untuk menggali kembali kenanganku yang lalu.

Masih tak hilang di ingatan ketika kami harus susah payah kuliah dalam keadaan yang serba kekurangan, makan nasi bungkus bersama,mengencangkan ikat pinggang dalam-dalam untuk mengurangi rasa lapar…namun entah kenapa kami bisa melewati semua itu tanpa kami merasa kami adalah manusia paling malang di dunia ini. Dalam kondisi serba kekurangan dia mampu memenuhi separuh agamanya, menjemput impiannya untuk mendapatkan ridha ilahi. Tak ada kegalauan dan rasa khawatir di raut wajahnya, senyumannya masih sama seperti pertama kali dia mendapatkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup.

Kisah yang sama juga pernah dialami seorang teman, dia menikah ketika keduanya masih kuliah, pernah kumendengar dari seorang temannya, dia mengambil jalan pernikahan itu demi menghindari fitnah yang kini tengah merebak, apalagi kalau bukan fitnah syahwat dan fitnah wanita. Pernah suatu saat aku mengunjungi tempat mereka tinggal, mendengarkan cerita teman-temannya bahwa dia pernah sehari makan dan sehari puasa, dan sang suami mencari nafkah ditengah kesibukan kuliahnya dengan menjadi asisten dosen ataupun mengajar siswa SMU, beberapa kisahnya mengusikku untuk menjenguknya. Sesampai di tempat tinggalnya (baca : kost-an) yang sangat sederhana dia menyambutku dengan sambutan yang belum pernah aku mendapatkan sambutan sehangat sambutannya. Ia menyuruh istri nya menyiapkan hidangan, semangkuk nasi yang cukup untuk bertiga, dan lauk sekedarnya berikut senyuman dan kehangatannya menyambut tamunya. Tak tampak rasa sedih dari raut mukanya, senyuman senantiasa terpancar dari bibirnya untuk membahagiakan tamunya…. aku bertanya dalam hati… apakah yang membuat engkau bahagia hari ini wahai kawan…semementara mungkin ini adalah beras terakhirmu??

Sangat kontradiktif sekali dengan peristiwa yang aku dapat 2 minggu sebelumnya, dimana seseorang datang kepadaku dan mengeluhkan akan nasibnya jika ia akan menikah nanti. Kegalauan akan masa depannya selalu membuatnya merasa tak siap untuk menikah, walaupun penghasilannya 20 kali lipat dari penghasilan sahabatku yang kini telah memenuhi separuh agamanya. Ia selalu merasa tak akan bahagia selama ia tak memiliki rencana keuangan yang matang yang akan menjamin perekonomiannya hingga 20 tahun ke depan. Dan beberapa kasus lain yang sedikit menggelitikku, dimana seseorang kawan menghampiriku mengeluhkan akan ketidakmampuannya akan menikah, padahal biaya “pacarannya” mungkin jauh lebih besar dari nafkahku untuk istriku selama sebulan….

Padahal Allah subhanahuwata’ala terlah berjanji  bahwa ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah [HR. At-tirmidzi no. 1352, Ibnu Majah no.1512]

Salah satu benang merah yang dapat ditarik kesimpulannya dari dua orang tadi adalah pemahaman dan persepsi mereka tentang apa itu “bahagia”. Selain pemahaman tentang pernikahan tentunya, namun aku hanya mengambil dari satu sisi saja, yaitu persepsi tentang apa arti kata bahagia.

Dua orang tadi paling tidak memiliki konsep tersendiri dan berbeda mengenai apa kata atau makna bahagia dalam hidup,

Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia. Namun apakah betul seperti itu? Simak tulisan berikut ini.

Kebahagiaan untuk Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh

Saudaraku … Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut.

Allah Ta’ala berfirman,

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97). Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Inilah beberapa tempat dalam Al Qur’an selain telah disebutkan dalam ayat-ayat yang lain yang menjelaskan balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. Ada dua balasan yang mereka peroleh yaitu balasan di dunia dan balasan di akhirat. Itulah dua kebahagiaan yang nantinya mereka peroleh. Ini menunjukkan bahwa mereka lah orang yang akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan  karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah Abul ‘Abbas.

Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”

Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Sebenarnya orang yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan). ”

Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak do’a agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu do’a: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih sempat di saat sujud, beliau mengucapkan do’a ini. Padahal beliau sedang dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.

yaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.

Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.

Itulah saudaraku surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.

Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati, yaitu hati yang memiliki keimanan, yang selalu merasa cukup dan selalu bersandar pada Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya.

Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi  wa sallam.

Sumber rujukanShahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hl. 91-96, Dar Ibnul Jauzi

Artikel www.muslim.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s