Balada Sepeda Jengki


Terkisah tentang sebuah sepeda “jengki” phoenix berwarna hijau tua, sepeda yang dahulunya sangat terkenal, mungkin di awal tahun 70-an di masa-masa kedua orang tuaku masih remaja. Sepeda “jengki” kami semua menyebutnya.

Di suatu siang yang cerah, ketika sinar matahari sudah terasa menyengat di kulit. Ibuku memanggilku ketika aku sedang asyik menyendiri di ruang tamu. “Dra….Dra…., tolong belikan adikmu susu”, aku pun menyahut “Iya …mi”. Di tahun 1993 adikku Herlina sedang sakit, sebuah sakit yang menurutku dan atau mungkin kedua orang tuaku seolah sakit yang sulit tuk disembuhkan. Entah karena tak ada satupun dokter yang cakap tuk men-diagnosa penyakitnya atau……entahlah. Setiap kali pergi ke dokter, hasil yang di-diagnosa ternyata itu – itu saja, sakit panas biasa. (Di daerahku suhu badan yang tinggi/demam disebut dengan penyakit panas, padahal naiknya suhu tubuh bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan response tubuh terhadap infeksi virus atau penyakit yang sebenarnya dalam tubuh).

Bergegas ku pergi ke rumah bibi, tuk meminjam sepeda “jengki” ….karena keluargaku tak punya alat transportasi untuk bepergian jarak dekat…hehehe, biasanya kami sekeluarga waktu itu (1 keluarga 4 orang) hanya mengandalkan alat transportasi tiga roda (bukan semen lho yah)…melainkan becak.

Perlahan ku ke rumah bibiku, kuambil sepeda “jengki” hijau tua yang bersandar di tepi tembok dapur bibiku. Tubuhku masih terlalu sangat kecil untuk cukup tangkas membawa dan mengendarai sepeda “jengki” itu,karena posturnya yang tambun sementara diriku hanyalah murid kelas 4 SD yang memiliki postur tubuh mungil jika dibandingkan teman-teman sekelasku. Perlahan kugiring ke halaman dan kutambah kecepatanku seolah akan lepas landas (hehehe) hingga akhirnya aku bisa mengayuh pedal sepeda “jengki” berwarna hijau tua itu. Karena posturku yang mungil, aku tak bisa duduk di atas “sadel” sepeda sebagaimana layaknya seseorang menaiki sepeda, terpaksa aku hanya bisa menaikinya dengan mengayuh sambil berdiri hingga sampailah ke toko kelontong milik koh Akyou.

Bak seorang yang telah cakap dan dewasa, aku bertanya-tanya tentang susu terbaik dengan harga dibawah Rp.12,000 yang cocok dengan orang yang sedang sakit panas (hehehehehe) (bisa kubayangkan sang pemilik toko akan mengatakan –sotoy lu- ). Akhirnya pilihan jatuh kepada susu Ovaltine, secara seumur-umur itu susu terkesan mahal dan mewah, karena selama ini aku sudah merasa cukup dengan susu bendera “cap Nona” yang ibu belikan.

Aku menilai diriku sebagai seseorang yang sensitive dan gampang hanyut dalam kesedihan. Karena adikku yang tak kunjung sembuh, setelah 2 minggu lebih diobati, namun suhu tubuhnya tak kunjung membaik. Kondisi ini membuatku lebih banyak menghabiskan hari-hariku di rumah, tuk menjuaga dan menghibur adikku. Kami yang selama ini selalu riang bermain bersama, untuk sementara waktu hanya berdiam diri seolah membagi rasa sakit itu sama rata.

Lamunanku dan angan-anganku akan kesembuhan adikku membuat konsentrasiku tidak pernah fokus tuk melakukan sesuatu. Diriku yang sedih berjalan lunglai dan lesu membawa susu dalam tas plastic hitam, berjalan menyusuri trotoar di pinggiran jalan WR. Supratman hingga akhirnya tiba di depan pagar menuju rumahku. Aku sedikit terheran dengan raut wajah ibu dan bibiku, seolah menanyakan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya. Aku tetap mengisyaratkan dengan bahasa tubuh bahwa aku tak bisa mendengarnya, dari kejauhan aku berkata “ADA APA?”.

Bahasa tubuh bibiku dan ibuku begitu antusiasnya mengatakan sesuatu, dengan wajah mereka yang penuh keheranan, akhirnya terdengar olehku pertanyaan yang mereka ajukan “SEPEDANYA KEMANA?”. Astaghfirullah aku lupa meninggalkan sepedaku di depan toko. Tak perlu ba-bi-bu, dan tak perlu basa-basi, aku berlari sekencang-kencangnya kembali ke toko kelenteng di perempatan jalan itu, hingga susu yang aku bawa di tanganku seolah terpelanting mengikuti langkah kakiku yang semakin lama semakin cepat berlari. Aku berlari sama kencangnya dengan nafasku yang terengah-engah.

Aku berlari dan hanya berlari, terus berlari, tak terasa air mataku meleleh di pipiku bersama keringat di wajahku. Aku sedih dan khawatir, jikalau sepeda “jengki” hijau tua itu dicuri atau dibawa pergi orang, karena sudah pasti ibuku akan membayar ganti rugi kepada bibiku dengan harga yang jauh lebih mahal dari susu yang kubawa di tangan kananku.

Aku terus berlari sambil bergumam dalam hati, “Hendra ayo terus lari….lari…lari…” hingga aku sampai di penghujung jalan WR. Supratmen di perempatan jalan, nafasku tak mendukungku untuk terus berlari, ku-berhenti sejenak, kutatap toko kelenteng itu di depan, ternyata belumlah terlihat sepada “jengki” hijau tua itu. “Ya ALLOH bantulah aku, tidak untuk saat ini Ya Alloh, karena aku tak mau kembali menangis ketika aku harus mengabarkan bahwa sepeda “jengki” hijau tua itu hilang”.

Alloh masih mendengarkanku, sepeda “jengki” hijau tua itu masih ter-sandar di depan toko itu dengan anggunnya. Inilah sepeda terindah yang pernah aku lihat di depan toko kelenteng koh Akyou. Aku mengusap air mataku, dan kuhampiri sepeda itu, “Alhamdulillah” gumamku dalam hati. Kuberanjak pergi dan tibalah aku di depan rumah bibiku dengan perasaan malu. Sambil cengar-cengir aku berkata “maaf…kelupaan….hehehe”.

Kuhampiri ibuku dan kuberikan susu itu kepada beliau, dan kuberkata “ini susu yang pas buat lina, cocok untuk penambah tenaga” (anak korban iklan…hehehehe). Ibuku hanya terdiam saja, tak banyak berkata dan berlalu masuk ke dalam dapur. Diriku bertanya…ada apakah gerangan. Aku hanya terpaku melihat ibuku berlalu, aku tak memberanikan diri untuk berkata ”ada apa gerangan wahai ibu?” .

Kegusaranku akhirnya terjawab….aku mendengar ibuku menangis di dapur, dan beliau berkata pada nenekku, “Hendra lupa membawa sepeda karena ia terlampau sedih memikirkan lina adiknya yang tengah sakit dan tak kunjung sembuh”.

Teluk Bintuni, 9 Mei 2010, 18.00 WIT

2 thoughts on “Balada Sepeda Jengki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s