Jangan Takut … Kami Disampingmu


Friends

Syahdan suatu hari si sulung ingin berlatih sepeda roda dua di kampung halaman ayahnya, walaupun dia belum lulus dengan “roda empat”-nya. Keponakan-ku langsung menyodorkan sepeda nya yang seolah sulit berjalan lurus, dengan tenaga seadanya dia tertatih-tatih dan ragu untuk bisa menyeimbangkan sepeda yang separuh telah ditunggangi si sulung. Tak berselang lama dua keponakanku yang lainnya berlari tanpa aba-aba dengan sigap menyeimbangkan sisi kiri dan meringankan beban sisi kanan-nya. Mereka seolah ingin berkata”“jangan takut kami disampingmu”. Mereka pun tertawa dalam dunia mereka di dalam kenakalan anak kecil seusia nya.

Friends-2

Teringat pula kisah ayahnya yang dulu sepertinya dengan teman sebayanya….seolah kejadian itu hampir punah, ketika suatu saat anak TK dengan jari-jari yang mungil memencet touchscreen update status facebook atau menghubungi teman sebaya lainnya menanyakan level game yang mereka mainkan atau membahas hal-hal yang patut dibahas anak se-usianya.

Kesempatan tatap muka, atau membersihkan luka di lutut atau siku ataupun meniup debu di wajah bak menjadi dongeng masa lalu sebagaimana buku usang yang ketinggalan jaman ditelan jalan paving block dan aspal yang licin suasana – IBU KOTA. Yang bahkan merambah ke pelosok-pelosok, dimana mereka menjadi orang KOTA di DESA.

Tak pelak hati kecil merasa bertanggungjawab…tapi kepada siapa? keadaan? kepada zaman? ketika semua perubahan atas nama “kemajuan zaman” menelan segalanya untuk hidup yang lebih modern. Akankah setiap kemajuan menjadi lebih baik tanpa efek samping? apakah benar semakin maju zaman semakin baik generasi kita? nampaknya semua pertanyaan itu menjadi PR bagi para orang tua zaman sekarang. Orang tua yang dulunya tak pandai berdasi namun sekarang bisa menghabiskan ber-jam jam untuk memilih ikat pinggang yang sama motif nya dengan sepatu kulit yang dipakai.

Dahulu orang tua kita selalu bersusah payah mencari anaknya yang saat siang tak pulang ke rumah untuk tidur siang,,,sang anak kembali dengan rambut berdebu, kaki kotor, mereka seharian berlari …. main gobak sodor – katanya!!!…. atau di waktu senggangnya memanggul sang anak di pundak ayahnya yang kokoh menatap langit “nak … nanti kalau sudah besar jadi anak yang pinter dan sholeh ya…”. Bak masa lalu yang termakan masa kini, kejadian itu hanyalah sejarah di tengah hiruk pikuk kurikulum sekolah, ada sekolah alam, sekolah entrepreneur, atau bahkan sekolah berangkat pagi pulang petang ala kantoran demi menjadi siswa yang berprestasi di olimpiade science.

Zaman modern, ketika anak tak pulang, orang tua tak perlu khawatir karena ada sopir yang akan mengantarkan anaknya pulang masih dengan pakaian seragam sekolah, bersih tanpa noda, ataupun sang orang tua tak sempat melihat anaknya berkotor-kotor karena pulang larut malam…….atau orang tua yang paranoid kalau anaknya kotor karena khawatir terkena tanah yang mengandung bakteri dan segudang alasan lainnya. Bahkan kaki mungil nya pun akan tetap terawat tak seperti ayahnya dulu yang penuh luka dan pecah-pecah karena melewati jalanan berkerikil, panas karena dahulu kami terbiasa bermain tanpa alas kaki.

Ada banyak teori bahwa generasi terdahulu lebih baik secara mental karena lingkungan turut menempa karakternya, namun beberapa mengatakan generasi sekarang jauh lebih baik karena anak usia TK sudah menguasai level anak SD atau bahkan SMP di zaman ayahnya dulu – bukankah ini kemajuan???? Mungkin YA mungkin TIDAK.

Pernah mendengar anak SD yang bunuh diri karena takut tidak lulus? pernah mendengar siswi minum racun karena diputus sang pacar?atau pernah mendengar anak SD teriak histeris ketika grup musik kesayangannya konser dengan harga tiket 10 kali lipat lebih mahal dari kebutuhan makan harian?pernah mendengar istilah alay? ababil atau semacamnya? cerita itu hanya dialami generasi modern karena anak-anak dari zaman kuno terlalu ketinggalan zaman untuk mencernanya dengan akal sehatnya.

“Jangan takut kami disampingmu” … itukah kata yang dibawa zaman kepada penghuninya ?? … zaman dimana kesepian melanda anak-anak kita, sebuah zaman yang paling akhir untuk kemajuan katanya….apakah akhir zaman merupakan sebaik-baik pengakhiran karena bertambah baiknya generasi kita?

Akankah kita mampu mengatakan pada anak-anak kita “Jangan takut kami disampingmu” ……

—— ♥♥♥♥♥♥♥ ——

Hari-hari terakhir ramadhan

di Teluk Bintuni – Papua

Jauh meninggalkan keluarga

Ternyata aku pun tak mampu sebaik Ayahku dulu

—— ♥♥♥♥♥♥♥ ——

2 thoughts on “Jangan Takut … Kami Disampingmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s